Tuesday, July 22

Ilmu Mengantarkan Seseorang Bertakwa

amirfath.com, Khutbah (06), Maret 2023 –  Setiap pekan Allah swt. menyediakan hari khusus bagi hamba-hambaNya untuk memperbanyak ibadah, berdzikir, dan meningkatkan kesadaran kehambaan. Inilah hari Jum`at di mana kaum muslimin laki-laki khususnya wajib melakukan shalat Jumat. Kata jum’at satu akar dengan kata jama`ah yang artinya berkumpul. Bagi kaum laki-laki sebagai qawwam dalam rumah tangga wajib untuk mendengarkan khutbah sebagai bekal untuk membimbing kelurga dan anak-anaknya. Tujuannya agar para ayah bisa membawa rumah tangganya menuju Surga Allah swt. Inilah nikmat hari jum`at yang patut disyukuri, sehingga selalu terjaga jangan sampai menyimpang dari aturanNya. Dua puluh empat jam setan telah bekerja untuk merusak manusia agar di muka bumi tidak ada yang menyembahNya. Setan tidak mau diam di neraka sendirian. Karenanya di tempat-tempat yang baik terutama di majelis-majelis ilmu setan akan masuk.

Dalam Al-Quran setan bersumpah dihadapan Allah akan berjuang habis-habisan untuk masuk ketemapat-tempat kebaikan dan menundukkan orang-orang yang baik.

لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus” (Q.S Al-A`raf: 16)

Adapun di tempat-tempat yang buruk setan tidak ada, sebab semua orang yang buruk di dalmnya sudah menjadi setan. Karena itu setan hanya akan menyerang tempat-tempat orang yang lurus, seperti orang-orang sholeh, para pencari ilmu, ahli ibadah dan sebagainya disanalah setan akan beoprasi, supaya mereka menjadi rusak. Akan Tetapi setan telah mengakui bahwa ia akan takluk di hadapan orang- orang ikhlash:

 إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka” (Q.S. Al-Hijr: 40)

Pemirsa yang berbahagia

Oleh karena itu, pertama-tama yang harus kita lakukan dalam mencari ilmu adalah menjaga hati agar selalu ikhlash kepada Allah swt. Jangan menjadi orang yang berpura-pura berkumpul bersama orang-orang yang baik, tetapi yang dilakukan hanyalah membuat kerusakan. Setiap diajak melakukan kebaikan ia membantah, tidak mau diatur dan tidak mau diperbaiki. Orang yang berpura-pura baik atau pura-pura berkumpul bersama orang baik, termasuk ciri kemunafikan. Karena hanya orang munafik yang bermuka dua.

Dahulu pada zaman Nabi saw, ada sekelompok orang seperti itu. Ia berkumpul dengan orang Islam, beribadah seperti orang Islam, ikut sholat Dzuhur, Ashar dan Magrib berjamaah di masjid. Akan Tetapi pada sholat Isya dan Subuh mereka menghilang. Perhatikan apa Kata Nabi SAW:

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ

“Sholat yang dirasakan berat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isya dan sholat subuh” (HR. Muslim)

Pemirsa yang berbahagia

Kepuraan-kepuraan inilah yang akan terus dimanfaatkan setan di tempat-tempat kebaikan, sehingga mereka menjadi antek-antek keburukan. Dia akan merusak yang lain, melambat-lambatkan diri waktu shalat dan belajar, dan tidak bersungguh-sungguh ikut aturan, itulah tanda kemunafikan. Apa kata Allah swt orang seperti ini:

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu” (Al-Baqarah: 10)

                   Menurut ulama tafsir yang dimaksud dengan penyakit hati di ayat tersebut adalah kemunafikan. Apa ciri mereka?. Mereka yakni bermuka dua:

وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّا

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” (Al-Baqarah: 14)

Perhatikan sikap mereka, pada saat bertemu dengan orang-orang Islam, mereka mengaku muslim. Mereka berkata amannaa (aku telah beriman seperti kamu beriman). Padahal dalam hati mereka tersimpan kekafiran. Tujuan mereka ada dua, pertama ingin merusak kehidupan dalam Islam yang kedua ingin mengambil keuntungan dari orang-orang Islam. Perhatikan apa yang mereka lakukan setelah kembali kepada teman-teman mereka yang buruk:

وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ ۙاِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ

“Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah: 14)

Ya, benar, mereka hanya mengolok-olok orang Islam. Sebab yang ada dalam hati mereka bukan keimanan tetapi kekafiran. Tidak ada dalam hati mereka kejujuran melainkan hanyalah kepura-puraan. Mereka menyangka bahwa itu akan menipu Allah dan rasulNya, padahal justru mereka sedang menipu sendiri. Sebab bagi Allah semuanya jelas bahwa mereka munafik.  

Pemirsa yang berbahagia

Jangan sampai ada kemunafikan seperti ini di Lembaga Pendidikan apalagi Pesantren. Ketika ditanya dimana? Ia menjawab sedang belajar di pesantren. Tetapi kenyataanya selama di pesantren ia hanya membuat kerusakan, mencuri, menyakiti orang lain, tidak mau ikut aturan dan sebagainya.  

Ilmu tidak akan pernah bertemu dengan kemunafikan. Ilmu akan hanya masuk kepada hati orang-orang yang jujur. Karena ilmu bukan sekedar pengetahuan, tapi ilmu adalah bagian dari iman. Makanya yang pertama-tama Allah swt turunkan sebelum perintah ibadah, bahkan sebelum perintah beriman adalah perintah mencari ilmu. Allah ingin agar iman kita, sujud kita, sholat kita, puasa kita, ibadah bukan kepura-puraaan tetapi berdasarkan ilmu.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” (Al-Alaq: 1)

Lalu apa yang harus dibaca?. Yang dibaca adalah sumber ilmu, bisa berupa Al-Quran, Hadits, Alam semesta, perilaku orang disekitar, membaca perilaku teman yang baik akhlaknya. Bacalah semua itu, sehingga diri ini akan menjadi lebih baik.

 اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama”. (QS. Fathir: 28)

Kata Khasiya (takut) dalam ayat ini menunjukkan bahwa tujuan hakiki dalam mencari ilmu adalah takut kepada Allah. Oleh karena itu penuntut ilmu harus berhati-hati dalam berperilaku, karena semuanya akan dihisab olehNya.

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (Al-Zalzalah: 7)

Jadi penuntut ilmu yang beriman pasti akan berhati-hati dari dosa, karena sekecil apapun ada hisab di sisi Allah swt. (Disampaikan dalam khutbah jum’at di masjid Al-Hakim Pesantren Fath Bogor tanggal 03 Februari 2023

About Post Author