Memburu Ridha Allah
amirfath.com, Artikel (198), Jan 2023
Ada beberapa istilah kunci dalam surah al-Lail yang tampak seakan bertolak belakang antara satu dengan lainnya. Semua istilah tersebut menyebar dalam surah dari awal sampai akhir.
Masing-masing istilah mewakili dirinya sendiri dengan karakter khusus dan makna yang berbeda. Lihatlah kata “al-lail” (malam) dan lawan katanya, yaitu “an-nahaar” (siang), “adz-dzakaru” (laki-laki) dan “al-untsa” (perempuan).
Kemudian “a’thaa” (berbagi) dan “bakhila” (kikir), “ittaqaa” (bertakwa) dan “istaghnaa” (merasa kaya dan tidak butuh Allah), “shaddaqa” (membenarkan) dan “kadzdzaba” (mendustakan), “alyusraa” (kemudahan) dan “al’usraa” (kesengsaraan).
Berikutnya, “alakhiratu” (akhirat) dan “aluulaa” (dunia), “alasyaqaa” (manusia paling celaka) dan “alatqaa” (manusia paling bertakwa), “alladzii kadzdzba wa tawallaa” (yang mendustakan dan berpaling) dan “alladzii yu’thii maalahuu yatazakkaa” (yang berbagi hartanya dan membersihkan diri).
Dari penyandingan dua kata yang berlawanan, kita akan mudah memahami maksud masing-masing.
Dari penyandingan dua kata yang berlawanan seperti di atas, kita akan mudah memahami maksud masing-masing istilah tersebut. Kaidah tafsir mengatakan, “Fa bidhiddhihii tattadhihul asyaya” (melalui penyandingan dua hal yang berlawanan, maka akan menjadi jelas segala sesuatu).
Alquran memang sering menggunakan cara tersebut. Dalam surah al-Baqarah, ada pembahasan tentang orang-orang beriman, lalu pembahasan tentang orang-orang kafir. Begitu juga dalam surah an-Naba’, setelah membahas tentang ahli neraka ada pembahasan tentang ahli surga.
Redaksi surah al-Lail di atas tidak saja merupakan bukti dari keindahan ayat-ayat Alquran sebagai mukjizat, tetapi juga untuk menjelaskan pesan agar lebih kuat pengaruhnya dalam jiwa yang membacanya.
Kata “allail” yang identik dengan kegelapan adalah untuk mengantarkan pembahasan tentang orang-orang durhaka yang penuh dengan keburukan. Mereka tidak mau berbagi kepada orang lain, merasa cukup tanpa ikut aturan Allah, dan tidak yakin adanya balasan di ahirat.
Karena itu, mereka hidup berlumur dosa bagai dalam kegelapan. Mereka merasa bebas berbuat apa saja sesuka hawa nafsunya. Akibatnya, berbagai sebutan keburukan disandangkan kepada mereka: sebutan kesengsaran “alusraa”, mendustakan kebenaran “kadzddzba”, “alasyqaa” (orang yang paling sengsara), berpaling dari tuntunan “tawallaa”.
Sebaliknya, kata “annahar” (cahaya siang) untuk menggambarkan pribadi orang-orang yang baik, hidup dalam ketatan kepada Allah. Mereka selalu memberikan manfaat bagi orang lain, berhat-hati dari dosa, dan membenarkan adanya balasan akhirat yang abadi.
Mereka akan mendapatkan balasan kebaikan tidak saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Berbagai sebutan kebaikan disandangkan kepada mereka untuk menunjukkan betapa mereka adalah orang-orang yang selamat dan bahagia selamanya.
Kata ”shaddaqa” (membenarkan risalah), “alatqaa” (paling betakwa), “yatazakkaa” (bersih diri dari dosa) adalah jati diri mereka. Karena itu, mereka mendapatkan ridha Allah: “Wa lasaufa yardha”.
Suatu bukti bahwa puncak kehambaan kepada Allah adalah memburu ridha-Nya.
sumber : https://www.republika.id/posts/36222/memburu-ridha-allah