Saturday, July 26

Al Baqarah : 62

Nasib Agama-agama Selain Islam Di Hari Kiamat

Dr. Amir Faishol Fath

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [٢:٦٢]

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqarah : 2/62)

Rahasai Urutan Ayat

Pada ayat sebelumnya Allah swt. menjelaskan prilaku kaum Yahudi yang selalu membangkang dan tidak pernah bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah Allah swt. berikan kepada mereka dengan sangat terang-terangan di depan mata mereka. Itu untuk memberikan pelajaran bahwa kauym Yahudi adalah contoh manusia yang gagal dalam sejarah. Sekalipun mereka dimanja dengan datangnya nabi-nabi kepada dan berbagai nikmat tetapi mereka telah tertutup hatinya. Nabi-nabi itu bukan malah disambut dengan hangat, melainkan dibunuh satu persatu. Inilah makna firman Allah pada ayat sebelumnya : “Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas” (QS. 2/61).

Lebih jauh, nikmat-nikmat yang telah Allah swt. berikan di antaranya berupa makanan lezat dan berkualitas tinggi yang langsung diturunkan dari langit, malah mereka menolaknya, dan mereka minta makanan yang rendahan, hasil dari apa yang mereka tanan sendiri di bumi. Ini sungguh menunjukkan bahwa mereka benar-benar telah keras hatinya, lebih keras dari pada batu. Allah swt. berfirman : Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan (QS. 2/74) Semakin nampak bahwa hati mereka keras, ketika mereka dengan segala keburukan prilaku dan kekejian akhlak, mengaku bahwa mereka adalah manusia pilihan. Bahwa hanya agama mereka mereka yang benar dan hanya mereka berhak masuk surga. Bahwa segala keistimewaan hanyalah milik mereka, tidak boleh umat lainnya.

Lalu pada ayat ini Allah swt. menolak kebohongan tersebut dengan menjelaskan bahwa keistimewaan itu hanya bagi mereka yang patuh dan tidak ada hubungannya dengan bangsa tertentu atau umat tertentu. Umat apapan jika tidak patuh maka ia akan diadzab oleh Allah swt. Dan di antara bukti kepatuhan adalah beriman kepada rasulullah saw. bagaimana seharusnya agama-agama terdahulu setelah datangnya Islam? Apapakah harus masuk ke dalam Islam atau tetap bertahan tanpa beriman kepada Rasulullah saw.? Lalu bagaimana nasib mereka kelak di akhirat jika mereka tidak mau menerima Islam sebagai agama mereka? Apakah mereka selamat dan masuk bersama orang-orang yang beriman kepada Rasulullah saw. atau meteka akan masuk neraka? Ayat ini sering digunakan oleh kaum libral sebagai pijkan atas pandangan mereka bahwa semua agama sama. Dan kelak di alam Akhirat masing-masing pemeluk agama itu –menurut kaum libral- akan sama-sama masuk surga seperti orang Islam. Ini sungguh pemahaman yang salah terhadap ayat ini. Dan seandainya mereka mau memehami secara benar dan mendalam, mereka akan menemukan hakikat bahwa yang terkandung dalam ayat ini adalah penghapusan terhadap agama-agama selain Islam. Jadi seakan Allah swt. mengatakan bahwa : dengan datangnya Islam maka otomatis agama-agama yang pernah ada sebelumnya terhapus. Maka siapa yang ikut Islam dari pemeluk agama-agama tersebut, ia akan aman dan bahagia di Akhirat. Sebaliknya jika mereka tetap bertahan dengan agama-agama yang mereka yakini, seperti : agama Yahudi, Nasrani dan sabiin, mereka pasti akan masuk neraka.

Beberapa Ayat Yang Mirip Tapi Tidak Sama

          Ada beberapa ayat dalam Al Quran yang mnempunyai kemiripan dengan ayat ini. Dalam surah Al Maidah Allah swt. berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَىٰ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [٥:٦٩]

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Bandingkan kedua ayat tersebut, kita akan menemukan beberapa perbedaan redaksi : (a) Kata “ wash shaabi’in” dalam surah Al Baqarah disebutkan setelah kata “wan nashaara”. (b) Perbedaan “I’rab” di mana dalam surah Al Baqarah kata “shaab’iin” dalam posisi manshub semenatara dalam surah Al Maidah dalam posisi “marfu” (c) Dalam surah Al Baqarah ada penegasaan bahwa mereka yang beriman akan mendapatkan pahala dari Allah swt. (fa lahum ajruhum ‘inda rabbihim), sementara dalam surah Al Maidah penegasan ini tidak ada. Lalu kita lihat ayat lain yang juga mirip dalam surah Al Hajj, Allah swt. berfirman :

 إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَىٰ وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ [٢٢:١٧]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

Bandingkan lagi kita akan mendapatkan redaksi yang lain lagi: (a) Dalam surah Al Hajj ini kata “wash shaabiiin” disebutkan sebelum kata “wan nashaara” seperti dalam surah Al Maidah, tetapi posisi “I’rabnya “ mashub, sementara dalam surah Al Maidah posisinya “marfu”. (b) Dalam surah Al hajj ada tanbahan “ wal majuus” ini agama lain lagi selain Yahudi dan Nasrani. (c) Dalam surah Al Hajj penutupnya mengandung menegasan bahwa kelak di hari Kiamat Allah swt. akan memberikan hukuman terhadap mereka, sementara pada surah Al Baqarah dan Al Maidah penutupnya adalah penegasan bahwa mereka yang beriman tidak akan bersedih.

Apa maksud dari pengulangan ini? Pertama-tama kita harus yakin bahwa tidak ada dalam Al Quran satu katapun yang sia-sia. Dan bila kita teliti secara seksama setiap pengulangan dalam Al Quran selalu ada pesan tertentu yang ingin disampaikan. Lihatlah perbedaan redaksi di atas, dari situ tergambar betapa gaya bahasa Al Quran adalah mukjizat. Bahwa sekalipun ayat-ayat itu nampak mirip secara dhahir tetapi hakikatnya masing-masing mengandung makna yang berbeda. Adapun didahulukannya penyebutan “nashara” atas “shaabiin” dalam surah Al Baqarah dan Al Hajj, dan diakhirkannya kata “nashara” dalam surah Al Maidah, itu berkaitan dengan pembahasan I’rab yang dikenal dengan istilah “taqdim wat ta’khiir”. Maksudnya untuk menarik perhatian. Sama dengan dimarfu’kannya kata “ash shaabi’un” dalam surah Al Maidah, padahal seharusnya dalam posisi manshub (fathah) secara I’rab, ma’thuf kepada isim mawshul “ alladziina” sebagai isim dari pada huruf tawkid : “inna”. Ini juga untuk menarik perhatian, supaya direnanungkan maknanya.  

Hakikat Iman Dan Kebenaran Islam

          Allah swt. berfirman : “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh”.  Mengenai ayat ini ada sebagai orang salah paham, sehingga ia berkesimpulan bahwa berdsarkan ayat ini semua agama sama sekalipun tidak berimana kerpada Rasulullah saw. Padahal tidak demikian makasud ayat ini. Melainkan malah sebaliknya. Ayat ini sejatinya mendekalarasikan bahwa agama yang diakui Allah swt. hanyalah Islam. Dengan kata lain bahwa agama-agama yang yang tidak mengakui kerasulan Rasuilullah saw. ditolak oleh Allah swt. Inilah makna firman Allah swt.: Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (3: 85)

Penjelasannya begini : Bahwa Allah swt. telah membekali setiap manusia secara fitrah dengan iman. Karenanya manusia pertama adalah nabi, yaitu nabi Adam. Dan risalah yang dibawa Nabi Adam adalah Islam. Maka dialah yang pertama-tama menjadi contoh pribadi beriman kepada Allah swt. Lalu muncullah penyimpangan secara bertahap dengan melakukan dosa-dosa, tetapi belum sampai kepada perbuatan syirik. Tetapi setelah itu mulailah muncul keyakinan-keyakinan berupa peyembahan terhadap patung, seperti yang diperbuat kaum Aad, kaum Tsamud, kaum Nabi Nuh as, kaum Nabi Luth as. Fir’un dan lain sebagainya. Tetapi kemudian semua mereka dihancurkan oleh Allah swt. karena dosa-dosa mereka. Allah swt. berfirman dalam surah Al Haqqah, 4-12 : “Kaum Tsamud dan ‘Aad telah mendustakan hari kiamat. Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka. Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkir balikkan karena kesalahan yang besar. Maka (masing-masing) mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras. Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar”.

Setelah itu muncullah agama-agama, yang mempunyai pengikut sampai sekarang, seperti agama Yahudi, agama Nashrani dan agama Shaabiun. Namun karena Agama Yahudi lebih dahulu muncul, dan bahkan kaum Yahudi itulah yang merekayasa munculnya agama Nashrani, maka penyebutan agama Yahudi didahulukan. Adapun didahulukannya penyebutan agama Nashrani atas Shabiun, itu karena agama Nasharni lebih menyebar dan lebih banyak pengikutnya dari pada Shaabiun. Sebaliknya jika penyebutan Shabiun diawalkan itu untuk menarik perhatian seperti yang telah kita jelaskan sebelumnya.

Pertanyannyam mengapa “ alladziina aamanu”  disebut lebh dahulu dari pada agama-agama lainnya? Padahal itu maksudnya adalah orang-orang Islam pengikut Rasulullah saw ? Pertama, untuk menjelaskan bahwa orang beriman yang sebenarnya menurut Allah swt. adalah orang beriman kepada Rasulullah saw. Adapun yang tidak beriman kepada Rasulullah saw. otomatis trgolong kafir. Dalam Al Quran golongan orang kafir ini dibagi tiga oleh Allah swt. : (a) kafir ahlul kitab, yaitu mereka yang pernah menerima panduan wahyu dari Allah swt. tetapi mereka tidak berimana kepada Rasulullah saw. seperti kaum Yahudi dan Nashrani. (b) kafir musyrik, yaitu mereka yang tidak pernah menerima panduan wahyu dan mereka tidak beriman kepada Rasulullah saw. seperti agama Majusi, Hindu, dan lain sebagainya. (d) kafir munafik, yaitu orang-orang tidak beriman kepada Rasulullah saw. tetapi secara perbuatan mereka menampakkan diri seperti orang Islam. Dalam surah Al Baqarah : 6-20 Allah swt. menyebutkan dua : kafir musyrik dan kafir munafik. Dan dalam surah Al Bayyinah : 6, Allah swt. menyebutkan dua : kafir ahlul kitab dan kafir musyrik. Kedua, Allah swt. ingin dengan penjelasan ini agar semua agama-agama terdahulu melebur menajdi Islam dan beriman Rasulullah saw. Maka dengan datangnya Islam otomatis agama-agama terdahulu menjadi terhapus. Sebagaimana dikatakan : “al islamu nasikhun lil adyaan assaabiqah”.

Benar, Islam menghapus agama-agama sebelumnya. Sebab semua nabi menyampaikan pesan bahwa akan datang nanti nabi terakhir yaitu Muhammad saw. Maka semua manusia wajib beriman kepada Rasulullah saw. Dan dengan beriman kepada Rasulullah saw. otomatis menjadi muslim. Tak terkecuali, semua pemeluk agama-agama, seperti Yahudi, Nasharani dan Shabiun juga wajib beriman kepada Rasulullah saw. Bahkan seandainya nabi-nabi itu masih hidup sampai Rasulullah saw. datang, mereka pasti akan beriman kepadanya dan akan menjadi pengikutnya. Inilah makna hadits yang disampaikan Rasulullah saw, kepada Umar –ketika suatu hari Umar menemukan selembar kitab Taurat lalu Umar membacanya- : “Seandianya Musa masih hidup maka ia akan ikut aku”. Dan benar, dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa nanti Nabi Isa as. setelah diturunkan oleh Allah swt. pada zaman Mahdi, ia ikut ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw. Dan ia shalat seperti shalatnya orang Islam, pun juga melaksanakan haji sebagaimana hajinya orang Islam.

Nasib Mereka Di Akhirat

        Dari apa yang telah kita jelaskan kita paham mengapa Allah swt. menambah pada ayat di atas dengan kata : “wa amila shaaliha”, maksudnya beramal salih seperti yang diajarkan Rasulullah saw. Sebab amal dikatakan salih jika berlandasakan iman kepada Rasulullah saw. Maka apapun amal mereka selama tidak beriman kepada Rasulullah saw. itu tidak disebut salih. Dan buah kepatuhan yang ditegaskan Allah swt, pada bagian akhir dari ayat di atas  bahwa “tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” ini untuk orang-orang Islam yaitu mereka yang beriman kepada rasulullah saw. Sedangkan mereka yang tidak beriman kepada Rasulullah saw. apapun agama mereka, mereka pasti sengsara di akhirat. Inilah makna ayat dalam surah Al Bayyinah : 6, Allah swt. berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”.

          Berdasarkan penjelasn ini jelas bahwa ayat di atas adalah deklarasi bahwa agama yang dakui Allah hanya Islam, yaitu dengan beriman kepada Rasulullah saw. Maka mereka yang tidak beriman kepada Rasulullah saw. apapun agama mereka, mereka tetap akan diadzab oleh Aklah swt. Maka setiap ayat mengenai adzab dalam Al Quran itu untuk orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Rasulullah saw. Dan setiap ayat yang menggambarkan keindahan surga, didalam,nya oenuh dengan rasa aman dan ketenangan, itu untuk hamba-hamba Allah yang beriman kepada rasulullah saw. Wallahu a’lam bishshwab.  

About Post Author