Al Baqarah : 30
Manusia Sebagai Khalifah
Dr. Amir Faishol Fath
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30)
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Rahasia Urutan Ayat
Setelah menjelaskan bahwa segala wujud di alam semesta ini adalah ciptaanNya, maka pada ayat ini Allah menjelaskan tujuan apa di balik semua penciptaan itu. Bahwa semua itu diciptakan adalah karena Allah akan menciptakan makhluk yang akan mengolalanya. Makhluk ini adalah manusia, inilah khalifah yang dimaksudkan Allah dalam firmanNya : “innii jaailun fil ardhi khalifah”. Memang, dua ribu tahun sebelum penciptaan manusia Allah telah menciptakan mahluk jin, dan telah ditempatkan di bumi, namun jin tersebut tidak berhasil mengola bumi. Pertumpahan darah antara makhluk Jin berlangsung di muka bumi. Inilah yang dimaksud malaikat ketika bertanya kepada Allah : “Mengapa Engkau hendak menciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah”, maksudnya adalah jin.
Berdasarkan uurutan ini jelas bahwa Allah swt. menicptkana langit dan bumi bukan tanpa tujuan, melainkan untuk menjadikannya sebagai tempat bagi manusia, agar dikelola secara maksimal sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Oleh karena itu Allah swt. menyebut manusia dengan istilah khalifah, yang artinya wakil, ini tidak lain agar manusia merasa bahwa dirinya berada di muka bumi, untuk tugas pokok yaitu untuk menjalankan apa yang Allah mau. Denagn kata lain agar semua kakayaan alam ini digunakan untuk ketaatan kapada Allah, bukan untuk kemauan hawa nafsunya.
Tugas Pokok Manusia
Allah berfirman : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Ini maksudnya adalah manusia. Dan manusia pertama adalah Nabi Adam alaihissalam. Dengan demikian yang pantas menjadi kahlifah adalah hamba Allah swt. Sebab Allah tidak ingin kekayaan alam ini dimanfaatkan oleh orang-orang kafir untuk berbuat dosa. Allah ingin agar kekayaan alam ini dikelola oleh hamba-hambaNya. Karena itu Allah pilih manusia pertama seorang nabi. Pun setelah itu –pada generasi berikutnya- Allah tidak pernah membiarkan suatu kaum tanpa seorang nabi yang diutus kepada mereka. Itu tidak lain agar manusia sepanjang zaman selalu patuh kepada Allah. Dan agar alam ini dan kekayaannya dikelola sesuai dengan ajaranNya.
Dalam urutan Al Quran, ini adalah kisah pertama, sebab setelah itu akan Allah ceritakan kisah-kisah yang lain baik secara terpencar-pencar dalam beberapa surah atau sekaligus dalam satu surah seperti kisah Nabi Yusuf alaihissalam. Ini untuk mengesakan bahwa di antara yang paling pokok dari isi Al Qur’an adalah kisah. Pun untuk menggambarkan betapa tema pokok Al Quran adalah manusia sebagai khalifah. Karena itu kisah penciptaan manusia didahulukan penyebutannya sebelum kisah-kisah yang lain. Di sini seakan Allah swt. mengatakan kepada manusia: “Wahai manusia Al Quran ini secara khusus adalah panduan bagimu, dari awal sampai akhir isinya hanya untuk membangun wawasan bagaimana seharusnya kamu menjadi khalifah di muka bumi. Wawasan tentang ketuhanan, bahwa kamu bukan Tuhan, melaikan hambaNya. Wawasan tentang akhirat, bahwa dunia ini bukan tujuan melainkan sebagai sarana untuk beramal sebagai bekal kehidupan abadi di akhirat. Wawasan tentang halal-haram, sehingga kamu tahu, bahwa tugasmu hanya menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah haramkan”.
Dalam redaksi ayat ini, nampak bahwa Allah swt, memberitahukan kepada para malaikat, bahwa akan menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Istilah khalifah ini digunakan untuk beberapa makana di antaranya sebagai berikut: (a) khlifah bermakna pemimpin, maksudnya bahwa manusia adalah makhluk yang dipilih sebagai pemimpin di bumi. Alasannya karena manusia diberi kelebihan akal, dengannya manusia bisa berperadaban. Bisa kreatif dan mengembangkan ilmu pengetahuannya. Bisa mengenal mana yang baik dan mana yang buruk. Bebrbeda dengan makhluk lainnya yang statis. Karena itu dalam Al Quran, Allah swt. menegaskan bahwa semua alam ini diciptakan untuk manusia. Allah berfirman dalam surah An Nazi’at :33, : “mataa’n lakum wa li an’aamikum” (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu). Ayat ini terletak setelah Allah menceritakan tentang bukti-bukti kekuasaanNya di langi dan di bumi. Seakan Allah mengatakan bahwa semua penciptaan ini adalah untukmu wahai manusia. Berdasarkan ini nampak bahwa manusia adalah memang pemimpin di muka bumi. Inilah makna khalifah yang dimaksud dalam ayat. (b) Khalifah bermakna “yakhlufu ba’dhuhu ba’dha, maksudnya bergenerasi-genrasi silih berganti. Dengan makna ini nampak bahwa Allah swt. akan menciptakan manusia yang kelak akan melahirkan keturunan-keturunan, bergenerasi-genarasi yang dengannya hidup manusia menjadi berkesinambungan dan berkelanjutan di muka bumi sampai waktu yang ditentukan. (c) khalifah artinya wakil, maksudnya wakil Allah di bumi. Dengan makna ini maka tugas pokok manusia adalah bersungguh-sungguh mengelola kekayaan bumi sesuai dengan apa yang diinginkan Allah swt. sebagai pemilik mutlak alam semesta. Jadi sebagai khlifah tidak pantas manusia berbuat semena-mena di muka bumi. Apalagi menggunakan fasilitas darti Allah untuk membuat kerusakan bagi kemanusiaan. Karena itu manusia tidak cukup dengan hanya menggunakan akalnya, sebab kemampuan akal sangat terbatas. Melainkan harus belajar dari wahyu Allah untuk bagaimanan menjalani hidupnya. Di sinilah peran akal manusia seharusnya di mainkan, yaitu untuk memahami maksud wahyu. Bila setiap manusia menmggunakan akalnya untuk ikut panduan wahyu, maka fungsi kekhifahan akan benar-benar-benar tercapai, dan tidak akan terjadi di muka bumi pertumpahan darah.
Malaikatpun Ingin Tahu
Begitu mendengar bahwa Allah swt. akan menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, malaikat langsung bertanya seperti yang diceritakan dalam ayat di atas : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah”. Dalam pemaparan ini kita bisa paham beberapa hal berikut : (1) bahwa Allah swt. berdialog dengan malaikat sekalipun malaikat ciptaannya, ini menggambarkan bahwa tidak hina seorang yang di atas berdialog dengan bawahanNya. Pun juga dalam peristiwa ini kita bisa menangkap pesan betapa komunikasi itu sangat penting. Sehingga tidak timbul kesalahpahaman antara atasan dan bawahan. Lebih jauh, bahwa dalam peristiwa ini Allah swt. ingin memberitahukan kepada para mailkat tentang penciptaan manusia, sebab setelah itu para malaikat akan banyak urusan dengan manusia, seperti dalam yata “fal mudabbiraati amra” (dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia) (QS. An Nazi’at : 5). (2) Bahwa pertanyaan malaikan itu bukan untuk protes, melainkan karena malaikat ingin tahu, apa maksud di balik penciptaan manusia itu. Berdasarkan ini jelas bahwa malaikat tidak tahu apa yang ghaib, kecuali apa yang Allah beritahukan. Ini semakin jelas ketika suatu saat para malaikat mendengar ucapan tasbih seorang di bumi. Lalu mereka bertanya kepada Allah siapakah sang hamba itu dan di manakah dia? Allah menjawab : tidakkah kamu itu bahwa itu hambaku Yunus alaihisslam dalam perut ikan. (3) Adapun pertanyaan malaikat mengenai manusia yang kelak akan saling bertarung dan menumpahkan darah, itu bukan karena malaikat tahu yang ghaib. Melainkan karena pengalaman sebelumnya, bahwa Allah telah menciptakan jin, lalu di tempatkan di bumi, dan ternyata jin itu malah hanya menumpahkan darah. Dari persepsi ini maialkat mengajukan pertyanyaan tersebut. Jadi seakan malaikat mengatakan : “Ya Allah apakah Engkau akan menicptakan makhluk yang mempunyai alternatif (mampu berbuat baik dan buruk) seperti jin itu, di mana kelak bisa jadi akan menumpahkan darah?”. (4) Bahwa para malaikat sebenarnya khawatir akan dirinya, takut selama ini pengabdiannya masih dainggap kurang oleh Allah. Sikap khawtir ini nampak dari pernyataan para malaikat berikutnya : “padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Jadi seakan para malaikat mengatakan : “Ya Allah mengapa Engkau akan menciptakan makhluk lain lagi, apakah pengabdian kami selama ini masih kurang, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”
Allah Maha Mengetahui
Lalu Allah swt. menjawab atas pertanyaan malaikat : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Berdasarkan ini jelas bahwa : (a) bahwa ada maksud dalam penciptaan manusia yang tidak diketahui oleh para malaikat, melainkan hanya Allah yang tahu. (b) bahwa sebenarnya para mailkat tidak tahu apa-apa, kecuali apa yang telah Allah beritahukan. Berdasarkan ini semakin jelas bahwa pertanyaan malaikat di atas bukan karena para malaikat tahu tentang tabiat manusia sebelum diciptakan, melainkan karena malaikat pernah melihat makhluk jin saling menumpahkan darah di bumi, maka malaikat seakan memperkirakan :” Jangan-jangan manusia ini kelak akan berprilaku seperti jin yang juga akan saling menimpahkan darah. Kalau ternyata itu akan berulang, mengapa tidak cukup kami saja ya Allah, para malaikat yang hanya bertasbih dan mensucikanMu?”