Saturday, August 9

Al Baqarah : 38 – 39

Rahasia Diturunkannya Manusia Ke Bumi

Dr Amir Faishol Fath

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (38) وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (39)

Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Rahasia Urutan Ayat

Pada ayat sebelumnya Allah swt. telah menejelaskan dosa atau kesalahan yang diperbuat oleh Adam alaihisslam, tetapi tidak menjelaskan apa bentuk kesalahan yang telah dilakukannya. Sebab itu akan dijelaskan di tempat lain dalam Al Quran. Pun juga redaksi ayat lebih menekankan kepada penegasan nabi Adam sebagai Khalifah di bumi, karena itu sangat dihindari penyebutan tentang dosa.Pun karena itu Allah swt. tekankan bahwa syetan telah menggelincirkannya dari surga. Jadi kesalahan itu sekalipun telah diperbuat oleh Adam alaihissalam, tetapi oleh Allah swt. disandarkan kepada syetan. Di sini nampak betapa Allah swt. tetap menjaga ketinggian derajat Adam sebagai manusia pertama dan sekaligus sebagai khalifah. Toh juga kesalahan itu lebih berupa kesalahan kecil yang tidak berdampak pengrusakan kepada tatanan hidup dan kemanusiaan. Namun demikian Adam alaihissalm tetap merasa berdosa. Dan karena itu ia segera bertaubat kepada Allah swt.

Lalu pada ayat ini Allah swt. menjelaskan perintah kepada Adam dan Hawwa agar keluar dari surga dan segera turun ke bumi. Di sini seakan Allah swt. mengatakan : Hai Adam dan Hawwa, sekarang tibalah saatnya kamu sekalian turun ke bumi untuk melaksanakan tugas kekhilafahan, sebab kamu telah selesai masa magang di surga, dan kamu selama di surga telah mengalami tabiat hidup yang akan kamu alami di bumi, yaitu kamu akan berhadapan dengan perintah dan larangan. Pun kamu juga telah mengalami bahwa dalam proses itu harus berhadapan dengan godaan syetan. Dan kamu telah digelincirkan olehnya. Sekarang kamu harus mendapatkan akibat dari kesalahan yang telah kamu perbuat, yaitu turunlah ke bumi. Untuk apa turun ke bumi? Untuk merasakan langsung kehidupan di bumi. Dan memang asalnya kamu diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi. Di bumi itulah kamu saatnya menunjukkan peranan tersebut. Bila kamu dan keturunanmu ikut Aku, maka kamu akan bahagia. Tetapi bila tidak, kamu akan menghadapi hukuman yang sebenarnya kelak di akhirat.

Perintah Turun Ke Bumi

Teks perintah Allah kepada Adam dan Hawwa, agar turun ke bumi sebagai berikut :  “Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu!”. Perintah ini dalam tekas aslinya berbunyia : qulna ihbuithuu. Kata ihbiuthuu, untuk jama’ (orang banyak). Padahal yang diperintahkan hanya berdua Adam dan Hawwa. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dalam redaksi ini menggunakan kata jama’ karena termasuk di dalamnya keturunan Adam yang telah Allah swt. persiapkan dalam diri Adam. Lalu Allah berfirman : Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Di sini kita paham seakan Allah mengatakan : Turunlah kamu sekalian ke bumi untuk menjalankan peranmu sebagai khalifah, dan kamu akan mengalami langsung apa yang telah kamu alami selama masa magang di surga. Kamu dan keturunanmu akan berhadapan dengan perintah dan larangan. Apa yang Aku perintahkan kerjakanlah, dan apa yang Aku larang jauhilah. Pun kamu akan berhadapan langsung dengan syetan dan kawan-kawannya. Di sana kamu akan benar-benar diuji apakah kamu akan tetap bertahan patuh kepada Ku atau malah sebaliknya. Ingat semua apa yang akan kamu perbuat di bumi akan ada akibatnya. Jika itu baik maka akibatnya surga. Dan jika itu buruk maka akibatnya neraka.  

Apapun, perintah Allah kepada Adam dan Hawaa sudah terjadi. Inilah saatnya manusia turun ke bumi, dan inilah saatnya manusia akan berhadapan langsung dengan syetan. Dan Allah swt. telah membangun perjanjian dengan manusia agar jangan ikut syetan. Sebab tugas kepemimpinan di bumi hanya bisa ditegakkan oleh orang-orang yang patuh kepada Allah swt. Di sini seakan Allah mengatakan : Wahai manusia, Aku telah berjanji denganmu hendaklah jangan ikut syetan. Dan kamu telah punya pengalaman bahwa tidak ada syetan yang baik. Pun kamu juga tahu bahwa kamu berbuat salah adalah karena godaan syetan. Semua syetan adalah musuhmu. Maka jangan sampai terpedaya oleh tipu dayanya. Dan tetaplah ikut panduan yang Aku turunkan. Sebab hanya dengan ikut Aku kamu akan sukses sebagai khalifah di bumi.

Dari sini jelas bahwa diturunkannya Adam dan Hawwa ke bumi ada hubungannya dengan manhaj (aturan hidup) yang harus dijalankan oleh manusia. Bahwa Allah swt. menciptakan langit dan bumi ada tujuannya. Yaitu sebagai sarana untuk beribadah kepadaNya. Bahwa untuk menggunakan sarana ini ada panduannya. Karena itu Allah turunkan wahyu sebagai pedoman. Bahwa untuk menjalankan panduan ini harus ada pelaksananya, maka ditentukanlah manusia sebagai khalifah (pelaksana panduan Allah dalam mengelola segala fasilitas hidup yang Allah sediakan). Berdasarkan ini jelas bahwa kisah adanya larangan di surga dan godaan iblis agar melanggar larangan tersebut, dan terperangkapnya manusia dalam dosa, lalu tersadarnya dari dosa dengan cara betaubat, itu merupakan potret yang akan terus berulang dalam hidup manusia di bumi. Maka sungguh merupakan rahmat Allah kepada manusia ketika diturunkan di bumi, ia sudah berbekal pengalaman sebelumnya.  

Buah Kepatuhan

            Allah swt. berfirman : “Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu”  ini adalah bukti kasih sayang Allah swt. Bahwa Allah swt. tidak akan membiarkan manusia tanpa petunjukNya. Benar, Allah swt. maha penyayang. Sebelumnya Allah swt. telah menempatkan di surga. Lalu setelah bebruat salah Allah swt. mengajarkannya agar betuabat sebagai jalan keluar dari dosa. Pun Allah swt. mengajarkannya bacaan yang sebaiknya pada saat bertaubat. Lebih dati itu Allah berjanji akan menerima taubatnya. Maka demikian juga setelah manusia diturunkan ke bumi. Allah swt. memberikannya panduan wahyu. Dengannya manusia tahu apa yang halal dan apa yang haram.

Lalu Allah swt. menjelaskan buah kepatuhan terhadap panduan wahyu. Allah swt. berfirman : “maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Dari ayat ini jelas bahwa ada dua buah yang didapat oleh manusia selama mereka melaksanakan panduan dari Allah : (a) falaa khawfun alaihim (tidak kekhwatiran atas mereka). Kata khawf artinya kekhawtiran akan terjadinya keburukan di masa yang akan datang. Maka dengan ini seakan Allah swt. mengatakan : bila mereka ikut petunjukKu, mereka akan aman. Sebab Aku maha kuasa. Aku bisa berbuat apa saja yang aku mau. Tidak ada yang mustahil bagiku. Tidak mungkin terjadi sesuatu tanpa izinKu. Mereka pasti aman di dunia pun mereka pasti aman di akhirat. (b) wa laa hum yahzanuun (dan tidak pula mereka bersedih hati). Kata al Huzn artinya hilangnya sesuatu yang ia sukai. Di sini seakan Allah swt. mengatakan : jika mereka ikut Aku, mereka tidak akan sedih. Mereka akan selalu puas dengan apa yang mereka dapatkan. Mereka tahu bahwa apa yang Aku takdirkan adalah yang terbaik. Maka apapun yang menimpa mereka, akan selalu diterima dengan lapang dada. Karena itu mereka tidak akan pernah sedih.

Di sini ada pelajaran penting bahwa masyarakat yang bersih dari dosa akan selamat dari cekaman ketakutan dan kekhawatiran akan masa depan. Dan inilah fitrah manusia. Bahwa seorang yang tidak menipu dan tidak berbuat dzakim akan selalu merasa aman. Sebaliknya para penjahat akan selalu ketakutan. Dan biasanya asal muasal dosa adalah karena terlalu besarnya cinta dunia (materilistis). Kini kita hidup di sebuah zaman yang serba materialistis.Tabiat kaum materiliastis adalah ketergantungan yang besar terhadap benda-benda. Sementara tabiat benda selalu datang dan pergi. Dari sini mereka selalu tercekam oleh perasaan serba khawatir dan takut akan masa depan. Mereka takut kehilangan harta mereka sehingga berbuat bakhil Pun mereka selalu sedih setiap kali harta mereka habis. Akibatnya mereka tidak pernah merasa aman. Sungguh tidak ada kebahgaiaan bagi kecuali bergangtung kepada Allah yang maha kaya. Dan inilah hakikat tauhid, yang Allah ajarkan sebagai panduan pokok manusia.

Buah Kekafiran

            Pada ayat berikutnya, Allah swt. menggambarkan yang sebaliknya, bahwa orang-orang yang tidak mau ikut Allah mereka pasti sengsara. Allah swt. berfirman : “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. Kafir artinya menutupi. Orang-orang kafir berusaha menutupi apa yang sudah ada. Sebab sesuatu yang tidak ada tidak perlu ditutupi. Allah swt. yang jelas adaNya ditutupi oleh mereka. Padahal mereka secara fitrah telah mengakui bahwa Allah benar adaNya. Dalam surah Az Zukhruf : 87 Allah swt. berfirman :  Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?. Dalam surah Al ankabut: 61, Allah swt. berfirman : Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

            Istilah kafir digunakan dalam Al Quran untuk menggambarkan pribadi yang berusaha menutuip kebenaran Allah swt. Karena itu mereka tidak mendaptakan hidayah. Bagi mereka sama saja, diberi nasihat atau tidak, mereka tetap tidak mau beriman. Allah swt. berfirman dalam surah Al Baqarah : 6 :  Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Akibat dari tindakan mereka ini adalah neraka dan mereka kekal di dalamnya. Inilah makna ayat  di atas : “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.

            Ada dua perbuatan yang mereka lakukan untuk membuktikan kekafiran: (a) kafaruu, tidak beriman kepada Allah, mengingkari adanya akhirat, maka mereka tidak pernah berpikir untuk memehami firmanNya. Pun mereka tidak pernah terlintas memmpelajari pandanNya. Akibatnya mereka mengarang panduan sendiri, sesuai dengan keinginan hawa nafsu. Mereka membuat tuhan sendiri berupa patung-patung dan benda yang mereka yakini sebagai kuatan. (b) kadzdzabuu bi ayaatina (mereka mendustakan ayat-ayatNya). Mereka mendustakan bukti-bukti kekuasaan Allah di alam ini. Mereka mendustakan para rasul yang membawa risalah Allah swt. Mereka mendustakan ayat-ayat yang Allah firmankan dalam Al Quran. Akibatnya mereka tidak tahu mencontoh siapa. Pun mereka tidak punya pijakan kebenaran mutlak. Sebab mereka berdiri di atas akal mereka yang plin-plan. Karena itu mereka selalu tercekam kegelisahan. Hidup mereka serba galau. Tidak ada kebahagiaan sama sekali. Itulah sebabnya mengapa mereka lari ke tempat-tempat hiburan. Tidak sedikit dari mereka yang harus mabok untuk menghilangkan akal mereka. Pun tidak sedikit dari mereka yang bunuh diri.

Ini baru di dunia, mereka tersiksa sedemikian rupa. Adapun di akhirat mereka pasti masuk neraka. Inilah makna ayat di atas : “mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. Teks aslinya berbunyi : ulaa ika ashhaabun naar. Kata ashhaab jamak dari shahib artinya yang rindu kepada shabatnya. Seakan neraka rindu kapada orang yang akan menghuninya.  Karenanya setiap dimasukkan ke dalam neraka, para penghuninya, neraka berkata : masih ada lagi “ hal min maziid (lihat QS. Qaf : 30). Ini menggambarkan betapa neraka sangat gembira ketika mendapatkan tubuh orang-orang kafir, para pendosa dilemparkan ke dalamnya. Sampai-sampai seakan neraka merasa nyaman bersamanya, ditemani olehnya. Inilah makna ulaa ika ashhabun naar.   

. 

About Post Author