Saturday, August 2

Al Baqarah : 81 – 82

Selogan Yang Mebuat Kaum Yahudui Berani  Melawan Allah swt.

Dr. Amir Faishol Fath

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81) وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (82)

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.

Rahasia Urutan Ayat

          Ayat sebelumnya menjelaskan prilaku tokoh-tokoh agama kaum Yahudi yang sangat berani kepada Allah swt. Mereka dengan terang-terangan mengubah teks wahyu yang Allah swt. turunkan. Hampir semua sifat-sifat Nabi saw. yang tertera dalam kitab suci mereka dihilangkan, dengan maksud supaya tidak ada orang yang beriman kepadanya. Kedengkian yang sangat kental terhadap Rasulullah saw. membuat mereka bertekad untuk membangun permusuhan abadi tidak saja kepada Risalah Islam yang dibawanya tetapi juga kepada umat Islam. Inilah makan firman Allah swt. : wa lan tardhaa ‘ankal yahuudu wa lan nashaaraa hattaa tattabi’a millatahum (Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka) (QS. 2:120). Keberanian berbuat dosa ini sebenarnya muncul dari dua sebab :

Pertama, karena hati mereka sudah keras sekeras batu bahkan lebih keras lagi (lihat QS. 2:74). Kerasnya hati tersebut terjadi karena dosa-dosa yang menumpuk dan dibiarkan. Lama-lama tumpukan dosa itu menjelma jadi “raan”. Allah berfirman : kallaa bal raana ‘alaa qulubihm maa kaanuu yaksibuun (Sekali-kali tidak (demikian), sungguh apa yang telah mereka perbuat itu telah menjadi “raan” yang menutupi hati mereka) (QS. 83:14). Dari sini hati mereka mebnjadi tertutup. Inilah makna firman Allah swt. ketika menggambarkan hati orang-orang kafir : “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” (QS. 2:7). Akibatnya mereka tidak pernah tersentuh oleh peringatan apapun. Maka kesadaran akan keagungan Allah dalam diri mereka tidak ada. Akibat lebih kanjut mereka menganggap bahwa bahasa Allah swt. sama saja dengan bahasa manusia, bisa diubah-ubah seenak nafsunya. Itulah mengapa mereka berani mengubah ayat-ayat Allajh swt. dan menyembunyikan kebenaran yang terdapat dalam kitab suci yang Allah turunkan.

          Kedua, karena persepsi yang salah. Dan persepsi ini didapat dari selogan-selogan yang mereka buat. Seperti selogan bahwa mereka adalah anak-anak Allah yang terpilih. Maka dari sini lahir pemahaman bahwa mereka mendapatkan kedudukan khusus di sisi Allah swr. melebihi bangsa-bangsa atau umat-umat lainnya. Pun dengan pemahaman ini mereka menganggap rendah selain mereka. Bahkan mereka merasa tidak berdosa jika melakukan pembunuhan terhadap siapapun yang mereka kehndaki. Itulah yang terjadi di Pelestina yang sampai sekarang masih terus berlangsung. Bila satu dari saudara mereka terbunuh mereka berteriak bahwa itu melanggar hak-hak asasi manusia (HAM). Tetapi bila mereka melakukan pembunuh secara massal terhadap ribuan umat Islam Palestina, mereka tidak merasa berdosa sama sekali.

          Lalu pada ayat ini Allah swt. menjelaskan selogan mereka yang lain lagi. Di mana dengan selogan ini mereka semakin berani berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka mengatakan bahwa : sebesar apapun dosa yang mereka perbuat, tidak akan dihukum oleh Allah swt. Toh, kalaupun mereka kelak di akhirat masuk nerakan, itu tidak lebih dari sekedar sentuhan saja yang tidak akan membuat mereka tersiksa. 

Selogan Mereka Tentang Siksa Neraka

          Allah swt. merekam pernyataan kaum Yahudi yang membuat mereka semakin berani berbuat dosa apapun. Dengarkan Allah swt. berfirman : “wa qaaluu lan tamassanan naaru illaa ayyaamam ma’dudah”  (Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”). Dari ayat ini tergambar kesalahan persespi mereka tentang adzab yang Allah swt. persiapakan bagi hamba-hambaNya yang berdosa dari beberapa indicator berikut:

Pertama, mereka menggunakan kata “al massu” bukan “al lamsu”. Ada perbedaan mendasar antara kedua kata tersebut. Kata al massu artinya sekedar sentuhan tanpa merasakan sesuatu atau bisa dikatakan sentuhan tipis yang hampi-hampir mebuat objkenya tidakan merasakannya. Maka seorang yang menyentuhkan sebagian jarinya kepada orang lain dengan sentuhan yang sangat tipis sehingga orang disentuhnya tidak merasakan apa-apa, itu disebut “al massu”. Lain halnya dengan al lamsu, yang di dalamnya terkandung makna menyentuh sekaligus membuatnya merasakan sentuhan tersebut. Dengan pemeilihan kata yang sangat selektif tersebut, sebenarnya kaum Yahudi ingin menggambarkan bahwa api neraka tidak akan menyentuh mereka sama sekali. Lebih kanjut mereka ingin meyakinkan orang lain bahwa dosa apapu yang mereka perbuat tidak akan pernah menjerembabkan mereka ke dalam hukuman yang penuh penderitaan. Sebab mereka adalah bangsa pilihan dan sangat istimewa. Di sini mereka seakan ingin mengatakan kepada seluruh kaum Yahudi: “Berbuatlah kalian apa saja, kalian tidak akan pernah terkanak hukuman. Toh sekalipun ada hukuman, itu hanya disentuhkan saja secara formalitas. Dan kalian tidak akan pernah merasakan ketersiksaan”.

          Kedua,  mereka menyebutkan durasi waktu yang sangat singkat dengan mengatakan : ayyamam ma’dudah  (beberapa hari tertentu saja). Maksudnya tidak sampai berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun. Padahal dalam Al Quran Allah swt. menggambarkan bahwa sehari di neraka seperti seribu tahun di dunia. Simaklah Allah swt. berfirman : Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu (QS. 22:47). Kata “ayyam” mengambarkan durasi waktu yang sangat singkat. Dengan istilah tersebut mereka seakan mengatakan : kalaupun ada hukuman dari Allah di akhirat, hukuman tersebut hanya berlangsung beberapa hari saja. Sebelum terasa pedihnya adzab tersebut sudah berakhir. Maka dengan persepsi ini mereka merasa aman dari adzab. Karena merasa sudah terjamin bahwa hukuman itu tidak akan membuat mereka menderita.  Adapun kata “ ma’dudah” adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan angka paling sedikit. Tidak ada yang lebih sedikit darinya. Dengan istilah lain disebut “aqallul aqal” (paling sedikitnya yang sedikit). Kebalikannya adalah istilah “al katsiir” (banyak). Maka jika lebih dari dua sudah dianggap “al katsir”. Karenanya dalam bahasa Arab, kata benda yang digunakan untuk menunjukkan jumlah banyak atau lebih dari dua disebut “jama’”.

          Maka dengan menggunakan  kata “ayyamam ma’dudah” kaum yahudi ingin mengatakan bahwa adzab yang kelak ditimpakan kepada mereka hanyakah sangat sedikit dan sangat singkat. Sekedar basa-basi, pun sekedar untuk menunjukkan bahwa mereka juga terkenak adzab. Dalam suarah Yusuf kita mendapatkan penggunakan kata “ma’dudah” untuk menunjukkan harga yang sangat-sangat murah. Bahwa Nabi Yusuf pada waktu itu dijual dengan harga sangat murah. Sebab penjualnya atau atau orang yang mendapatkannya adalah seorang yang zuhud, tidak cinta harta. Maka hampir-hampir dikatakan tidak ada harganya sama sekali. Allah swt. menggambarkan proses transaksi tersebut dengan berfirman : wa syarawhu bi tsmanin bakhsin dzraahima ma’dudah wa kaanuu fiihi minaz zaahidiin” (Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf) (QS. 12:20). Jadi dengan penjelasn ini bisa dikatakan bahwa dalam persepsi kaum yahudi adzab itu hampir-hampir tidak ada, kalapun ada hampir-hampir tidak terasa sama sekali kepedihannya.

          Ketiga, mereka menggunakan redaksi “an nafyu wal itsbat” (penafiyan dan penetakan) untuk memastikan bahwa hanya itu yang terjadi, tidak ada pilihan lain. Seperti redaksi penggambaran tentang makanan ahli neraka, Allah swt. berfirman : wa laa tha’aamun illa min ghisliin (tidak ada makanan sedikitpun kecuali hanya darah dan nanah) (QS. 69:36). Dengan redaksi ini mereka ingin meyakinkan diri mereka dan para pendukungnya agar jangan takut siksa neraka. Sebab sebenarnya hukuman itu –menurut mereka- hanya sekedarnya saja. Tidak akan sampai membuat mereka menderita. Berdsarkan ini mereka setelah itu tidak takut berbuat dosa. Dosa apa saja, sebesar apapun mereka perbuat. Merekalah dalang segala bentuk kerusakan di muka bumi.

Lebih dari itu bahwa dalam redaksi ini mereka menggunakan kata “lan” yang artinya tidak mungkin sama sekali. Bentuk penafiyan seperti ini adalah bentuk yang paling ekstrim. Di mana mereka sudah memastikan lebih dahulu bahwa tidak mungkin sama sekali terjadi penghukuman atas mereka kecuali yang demikian ringan. Maka dengan ini nampak bahwa mereka seakan telah mengatur Allah swt. Dengan kata lain, mereka merasa bahwa segala keputusan Allah dalam kendali mereka. Inilah kesombongan yang nyata. Pun dengan ini jelas bahwa mereka sangat bodoh dan telah dikuasi oleh syetan. Sehingga apa saja yang dikatakan syetan, mereka ikuti dengan sesungguh-sungguhnya. Maka Allah swt.segera mengajarkan RasulNya agar memberikan jawaban demikian :  Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” Namun ternyata itu hanya pengakuan dusta mereka. Mereka mengarang sendiri pernyataan itu. Sungguh kelak mareka pasti akan mendapatkan akibatnya.

Dari jawaban yang Allah ajarkan tersebut ada beberapa catatan penting : (a) Kaum Yahudi dalam penyataannya itu hanyalah pengakuan belaka. Tidak ada dasar wahyu sekali. Mereka tidak mempunyai jaminan dari Allah atas pengakuan yang mereka buat. Maka mereka pasti akan diadzab oleh Allah swt. (b) Jika memang benar bahwa Akllah telah berjanji demikian atas mereka, Allah pasti akan memberitahukan itu kepada RasulNya. Tetapi malah yang Allah jaminkan adalah adzab yang pedih atas mereka. Dan Allah swt. tidak akan pernah mengingkari janji. (c) Akhlak Rasulullah saw. yang mulia dalam berdilog dengan mereka, dengan menggunakan ucapan yang lembut. Seharusnya Nabi mengatakan : “semua perkataan kalian adalah dusta tidak ada dasarnya dan itu juga kebohongan terhadap Allah swt”. Namun ternyata Nabi menjawab dengan bnaik dan lembut : “..Kamu telah mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”

Dan kaum Yahudi benar-banar tahu bahwa selogan yang mereka buat itu adalah karangan yang tidak ada dasarnya sama sekali. Tetapi mereka lakaukan itu untuk membodohi pendukung mereka yang tidak tahu apa-apa “ummiyuun”.  Pun juga mereka lakukan itu untuk menipu orang-orang beriman. Tetapi semua itu dijawab oleh Allah dan RasulNya: “(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya”.  Di sini jelas bahwa siapa saja yang inkar kepada Allah dan rasulNya, tak perduli dari bangsa manapun, ia pasti masuk neraka. Sebaliknya siapa saja yang mjentaati Allah dan rasulnya dan beramal salih, maka ia akan masuk surga dan akan kekal di dalmnya. Wallahu a’lam bishshwab. 

About Post Author