Al Baqarah : 34
Kekafiran Pertama
Dr. Amir Faishol Fath
وإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (34)
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqarah : 34)
Rahasia Urutan Ayat
Setelah menjelaskan mengenai urgensi ilmu, di mana karenanya Nabi Adam dimulyakan, dan dipilih sebagai khlifah di muka bumi, maka pada ayat ini Allah swt. menunjukkan kepada para malaikat ketinggian derajat Nabi Adam alaihissalam, yaitu dengan memerintahkan mereka agar bersujud kepadanya. Dari sini nampak bahwa seseorang mulia bukan karena fisiknya atau hartanya, melainkan karena ilmunya. Sayangnya dalam persepsi materialisme kedudukan ilmu menjadi terbalik. Para ulama direndahkan, sementara orang-orang yang kaya sekalipun bodoh dimuliakan.
Perhatikan bagaimana Allah swt. dengan urutan ayat menunjukkan hakikat yang luar biasa. Seakan Allah mengatakan : muliakanlah mereka karena ilmunya, sebab Nabi Adam mulia karena ilmunya. Lali setelah itu Allah menyebutkan contoh iblis yang karena kebdohannya menjadi kafir. Dari sini jelas bahwa hidup tanpa ilmu akan mewariskan dosa-dosa, dan puncaknya yang akan terjadi adalah kekafiran. Lihatlah bumi ini, yang kini dihuni oleh 7 miliar umat manusia. Tapi yang beriman dari mereka baru 1,3 miliar. Ini menggambarkan bahwa kebodohan masioh merajalela. Silahkan manusia maju secara teknologi, tetapi itu bukan bukti suksesnya manusia secara keilmuan, sebab ilmu yang hakiki adalah yang mengantarkan manusia agar semakin dekat kepada Allah swt. Inilah makan ayat : innama yakhsyallaha min ibaadhil ulamaa’ (sesungguhnya akan semakin takut kepada Allah, seseorang bertambah ilmunya).
Sujud Penghormatan
Allah berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka”. Maksud sujud di sini bukan sujud ibadah, sebab tidak boleh makhluk bersujud kepada makhluk. Para ulama tafsir mengatakan bahwa maksud sujud di sini adalah sujud penghormatan untuk menunjjukan ketinggian derajat Nabi Adam alaihissalam. Dialah Allah swt. yang telah memerintahkan sujud ini, maka melakukannya bukan tindakan maksiat, tetapi masih dalam koridor kepatuhan kepadaNya. Sebagian orang yang salah paham mengatakan bahwa sujud ini adalah sujud penyembahan. Tidak, malaikat tidak menyembah Nabi Adam. Para malaikat tahu bahwa Nabi Adam bukan Tuhan. Dan mereka melakukannya karena semata mentaati perintah Allah swt. Dengan demikian malaikat masih tetap bertauhid kepada Allah swt.
Sama dengan kepatuhan umat Islam kepada Allah ketika menghadapkan wajah mereka ke Ka’bah sebagai kiblat. Sebagian orang kafir mengatakan bahwa orang-orang Islam telah menyembah Ka’bah. Tidak, umat Islam tidak menyembah Ka’bah, melainkan hanya menjadikan Ka’bah sebagai simbol persatuan. Karena itu disebut Kiblat, artinya arah untuk mengahadap. Kalau umat Islam menyembah Ka’bah, maka ia tidak disebut Kiblat melainkan al ma’bud (dzat yang disembah). Itupun umat Islam melakukannya karena kapatuhan kepada mereka kepada Allah. Dialah Allah yang telah memerintahkan mereka menghadapkan wajah mereka ke Ka’bah pada saat shalat. Simaklah Allah swt. berfirman : Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (QS. Al Baqarah 114).
Benar, Allah swt. memerintahkan sujud ini sebagai sujud penghormatan. Sebab ini terjadi setelah Allah menunjukkan kelebihan Nabi Adam alaihissalam. Dan terbukti bahwa Nabi Adam memang benar-benar mempunyai kelebihan secara keilmuan. Pembuktian ini telah disaksikan oleh para malaikat. Karena itu begitu Allah swt. memerintahkan untuk bersujud, para malaikat langsung melaksanakannya. Jadi perintah bersujud adalah perintah Allah swt. Siapa yang patuh maka ia telah menyembahNya. Dan siapa yang tidak patuh maka ia telah berbuat maksiat kepadaNya.
Maka berdasarkan ini jelas bahwa sujud tersebut bukan sujud ibadah melainkan sujud penghormatan kepada Adam alaihisslam. Dari sini kita tahu bahwa tidak semua sujud berarti ibadah, melainkan boleh jadi juga bermakna penghormatan, tergantung niat yang melakukannya. Kalau seandainya maksud Allah swt. dalam hal ini adalah menyembah Adam, niscaya Allah tidak berfirman “usjuduu” melainkan u’buduu (sembahlah). Tetapi karena sujud ini adalah salah satu simbol penyembahan, maka untuk melakukannya harus juga seizin Allah swt. Karena itu Rasulullah saw. tidak mengizinkan umat untuk melakukan sujud kepada makhluk, sekalipun niatnya adalah sebagai penghormatan. Inilah makna hadits Nabi saw. : “seandainya aku mau menyuruh seseorang untuk bersujud kepada seseorang, niscaya aka aku perintahkan para istri untuk bersujud kepada suami mereka”. Hadist ini disimpaikan Rasulullah saw. ketika ada seorang badui tiba-tiba mau bersujud kepada Rasulullah saw. Namun Rasulullah saw. segera mencegahnya dan memberikan nasihat tersebut.
Iblis Menolak Sujud
Allah swt. berfriman : “kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. Berdasarkan ayat ini ada beberapa pemahaman yang bisa kita ambil disini : (a) Bahwa iblis termasuk yang mendapatkan perintah untuk bersujud. Ini berdsarkan ayat dalam surah Al A’raf 12, Allah swt. berfirman : Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Jadi perintah sujud bukan hanya kepada malaikat melainkan juga kepada iblis. Tapi waktu itu masih belum disebut iblis, sebab ia belum melanggar. Istilah iblis digunakan oleh Allah setelah ia menolak untuk bersujud.
(b) Persoalannya apakah iblis termasuk malaikat atau bukan? Jawabannya bukan, melainkan ia adalah golongan jin. Inilah makna ayat : Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS. Al Kahfi: 50). Berdsarkan ini jelas bahwa iblis tersebut adalah dari kalangan. Dan memang makhluk jin adalah makhluk yang diberi kemampuan alternatif, artinya bisa patuh dan bisa juga melanggar. Lain halnya dengan malaikat, yang pekerjaannya hanya patuh dan tidak punya kemampuan berbuat salah. Maka tidak mungkin iblis itu dari kalangan malaikat.
(c) Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana ceritanya, kok bisa tiba-tiba ada makhluk jin yang menyelusup ke kalangan malaikat? Imam Ibn Katisr dalam kitabnya Qishshul anbya’ meriwayatkan bahwa dua ribu tahun sebelum Allah swt. menciptakan manusia, telah Allah ciptakan mahluk jin dan ditempatkan di bumi. Disebutkan bahwa di bumi terjadi huru-hara dan pertumphan darah antara makhluk jin. Allah swt. segera memerintahkan malaikat agar mengevakuasi bumi dari Jin. Para jin melakukan perlawanan. Maka terjadilah pertarungan antara pasukan malaikat dan pasukan jin. Namun evakuasi kemudian berhasil dan para jin itu kemudian dihalau ke tengah laut disebut dengan jazaairul buhuur. Di antara jin teresebut ada satu yang paling salih, maka ditangkaplah oleh malaikat lalu dibawa ke langit. Inilas asal muasal mengapa ada mahluk yang bergabung dengan malaikat. Dan inilah sebabnya mengapa ketika perintah bersujud itu diarahkan kepada komunitas malaikat, jin ini juga kebagian perintah tersebut. Dan inilah makna ayat yang Allah firmankan kepada Iblis : “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Tapi sayang jin ini tidak patuh, maka karena itu kemudian disebut oleh Allah sebagai iblis.
Iblis asal katanya al balas, artinya amalun suu’ (perbuatan yang buruk). Sama dengan syetan, diambil dari kata syathana, artinya amalun syar (perbuatan yang bejat). Maka segala bentuk perbuatan buruk pelakunya disebut syetan atau iblis. Hanya secara terminologis kemudian istilah iblis identik dengan pelaku keburukan pertama, lalu istilah syetan identik dengan pengikut-pengikutnya. Dan iblis ini hanya satu berasal dari kalangan jin dan diberi dispensasi perpanjangan usia oleh Allah sampai hari kiamat. Teks dsipensasi ini disebutkan dalam surah Al A’raf : 15, sebagai jawaban atas permintaan iblis agar diberi perpanjangan hidup : Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Adapun syetan boleh jadi dari kalangan jin dan boleh jadi dari kalangan manusia. Inilah makna firman Allah swt. “minal jinnati wan naas”.
(d) Adapun alasan pokok mengapa iblis menolak sujud, adalah karena sombong. Allah berfirman : “ia enggan dan takabur”. Takabbur artinya sombong, merasa gengsi menghormati Adam, sebab merasa dirinya lebih tinggi kualitas penciptaannya dari pada pencipataan Adam. Alasannya adalah karena dirinya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah. Pernyataan iblis ini direkan oleh Allah swt. dalam surah Al A’raf : 12, Allah swt. berfirman : Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.
(e) Karena kesombongannya kemudian Iblis menjadi kafir, Allah berfirman : takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. Berdsarkan ini kita paham bahwa : Pertama, kesombongan telah membuat hati menjadi keras. Begitu hati keran maka sulit menerima ajaran wahyu, Dari sinilah seorang yang sombong secara bertahap menjadi kafir. Kedua, bahwa sebelum iblis tidak ada mahluk yan durhaka kepada Allah. Semua mahluk patuh kepadaNya. Dan begitu iblis menolak perintah sujud, maka jadilah iblis sebagai mahluk yang pertama-tama menjadi kafir. Inilah makna ayat : wa kaana minla kaafirin (dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir). Wallahu a’lam bishshawab.