Musibah dan Muhasabah Diri
amirfath.com, Artikel (86), Desember 2021 Istilah musibah dari kata ashaaba-yushiibu, artinya yang menimpa, bisa berupa penyakit dalam tubuh manusia ataupun bencana alam.Allah SWT berfirman: Maa ashaaba min mushiibatin fil ardhi wa laa fii anfusikum illaa fii kitaabin min qabli an nabra’aha (Tidak ada bencana apapun yang menimpa di bumi dan tidak pula menimpa dirimu kecuali telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya). (QS al- Hadid: 22). Artinya, musibah itu tidak terjadi kecuali sesuai dengan ketetapan-Nya di al- lauhul mahfuzh.
Namun, dalam memaknai musibah tersebut tergantung kondisi keimanan manusia yang ditimpanya. Bila yang tertimpa adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan selalu dalam kemaksiatan, maka musibah tersebut merupakan azab.
Seperti itulah Allah SWT mengazab kaum Aad, Tsamud, Fir’aun, dan kaum Nabi Luth.Dalam surah al-Fajr ayat 6-14, Allah menyebutkan sebab ditimpakannya azab kepada umat terdahulu, pertama, mereka menyimpang dari ajaran-Nya, alladziina thaghau fil bilaadi.
Kedua, mereka membuat kerusakan di muka bumi, fa aktsaruu fiihal fasaad. Ketiga, mereka melakukan dosa yang mengundang murka Allah sehing ga turunlah azab, fashabba alaihim rabbuka satha adzaab.
Sebaliknya, jika yang tertimpa musibah adalah orang- orang yang beriman tapi lalai sehingga jatuh dalam maksiat dan dosa-dosa, itu artinya peringatan. Seakan Allah menegur, agar jangan dilanjutkan perbuatan bejat tersebut dan segera kembali kepada-Nya, wa aniibuu ilaa rabbikum. (QS az-Zumar: 54).
Bila yang tertimpa musibah adalah orang-orang saleh, itu tidak lain adalah ujian ibtila, untuk membersihkan dosa-dosa dan mengangkat derajat mereka. Allah SWT berfirman:Alladzii khalaqal mauta wal hayaata luabluwakum ayyukum ahsanu `amalaa(Dialah Allah yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya)’. Kata liyabluwakumartinya sebagai ujian, dengannya seseorang tampak apakah tetap istiqamah berbuat baik atau malah sebaliknya.
Dalam surah al-Baqarah ayat 155, Allah pastikan bahwa ujian sebuah keniscayaan, berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kematian, dan kekurangan buah-buahan itu untuk menunjukkan siapa yang jujur dan siapa yang pem bohong.Lebih dari itu untuk meng antarkan orang-orang yang sabar agar lebih tinggi derajatnya.
