Mahalnya Sebuah Keadilan
amirfath.com, Opini (32), Des 2021 – Banyak masalah di dunia yang sulit dibuktikan kasusnya. Padahal kasusnya jelas. Ada peristiwanya dan ada korbannya. Lalu karena pelakunya adalah pemegang kekuasaan atau mempunyai becking yang kuat, maka semua fakta dihilangkan. Setelah itu terjadi rekayasa pemutarbalikan fakta. Namun karena korban adalah pihak yang dianggap berlawanan maka tidak ada kejujuran untuk menyelesaikan masalah. Lalu memberikan penjelasan bahwa kejahatan tidak terjadi. Setelah itu ia berkata bahwa jika memang ada kejahatan silahkan tunjukkan faktanya. Padahal semua fakta sudah ditutupi bahkan dihilangkan. Ibarat kawanan kambing melapor kepada singa bahwa saudaranya dimakan oleh sekelompok singa. Tentu yang terjadi buka solusi melainkan korban berikutnya. Kambing itu seketika dimakan juga. Hanya bedanya di alam manusia adalah mencari pembenaran dengan segala cara. Misalnya ia pura-pura tampil gagah dengan mengatakan kami akan tegakkan hukum jika ada buktinya, lalu pura-pura menantang dengan mengatakan silahkan cari faktanya, Jika ada kami akan tegakkan hukum seadil-adilnya. Padahal semua fakta telah dimusnahkan.
Inilah hukum dunia. Persoalannya bukan masalah fakta, melainkan masalah hati. Pada hakikatnya ia memang tidak mau memihak kepada kebenaran. Akibatnya ia tidak berniat untuk menyelesaikan masalah dengan seadil-adilnya. Coba katakanlah yang terkena kasus adalah anaknya sendiri, maka ia akan berusaha melakukan pembalaan dengan segala cara. Sebaliknya ketika memang niatnya untuk menjerumuskan lawan politiknya ke dalam kubangan kasus maka ia akan melakukan apa saja untuk supaya lawannya terjerat hukum. Jika tidak ada faktanya, maka dibuatlah fakta-fakta palsu. Begitulah perilaku pihak yang kuat ketika bertindak zalim. Supaya borok yang busuk itu tidak tercium maka digunakanlah segala kepintaran untuk membungkusnya. Berbagai dalih diucapkan padahal semua orang sudah tahu bahwa itu kebohongan belaka.
Di dunia memang sering berlaku hukum rimba, ketika tidak ada keadilan. Yang kuat makan yang lemah. Itulah mengapa Allah SWT. dalam Al-Quran selalu berbicara tentang keperkasaan diriNya. Itu supaya manusia takut kepadaNya. Namun karena tidak ada iman, atau imannya tersumbat oleh jabatan dan bayaran, akibatnya keperkesaan Allah dianggap sepele. Nasihat apapun tidak akan masuk ke dalam hatinya. Bahkan ia akan membalas dengan cemoohan. Lebih dari itu ia akan menggunakan bazer untuk melecehkan pemberi nasihat tersebut. Inilah yang kata Allah SWT. “ wa idzaa khalaw ilaa syayaathinihim qaaluu innaa maakum innamaa nahnu mustahziuun” (ketika mereka kembali berkumpul sesama setan mereka, mereka berkata kami tetap bersama kamu, kami hanya memperolok-olok mereka). Jadi memang sulit menyikapi manusia yang bermuka dua. Di satu sisi mereka seakan memihak kepada kebenaran di sisi lain mereka dengan terang-terangan merancang dan menggencarkan kezaliman. Ingat kezaliman itu tidak perlu ditutupi. Sebab semakin ditutupi semakin tercium bahu busuknya. Apapun pembelaan kezaliman tetap akan menyeruak bahunya.
Dalam hal ini memang tidak ada solusinya kecuali hanya takut kepada Allah SWT. bahwa Allah maha tahu. “ya’lamu khainatal a’yuni wa maa taukhfish shudur” (Allah mengetahui khianat mata dan apa yang tersembunyi dalam dada).