Menyadari Hakikat Kemanusiaan Kita
amirfath.com, Catatan (01), Des 2021 – Saudaraku, perjalan kita menuju Allah adalah perjalan yang panjang. Banyak liku-liku di dalamnya. Kadang berupa tanjakan atau turunan terjal. Pada saat menanjak kita harus ngegas. Memang akan terasa berat tetapi jangalah sekali-kali menyerah. Juga jangalah setengah hati. Sebab ketika kita setengah hati, kita akan jatuh terjungkal, akibatnya fatal. Teruskan maju semaksimal kemapuan. Tidak apa-apa jika langkah kita pelan-pelan. Sebab memang seperti itu tabiat tanjakan. Allah SWT. berfirman:
لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ [٨٤:١٩]
sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),
Ayat ini menunjukkan bahwa kita diciptakan secara bertahap. Penuh keterbatasan dan kekurangan. Tidak ada makhluk yang lahir dalam keadaan sempurna. Kita diproses dari air mani, menjadi nuthfah, lalu menjadi ‘alaqah, setelah itu menjadi mudghah lalu menjadi manusia. Allah SWT berfirman:
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ [٢٣:١٤]
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Betapa Allah telah mengurus kita. Dari tidak ada menjadi ada. Dari air mani yang hina sampai menjadi manusia. Benar, air mani itu hina. Allah mengingatkan kita tentang hal ini.
أَلَمْ نَخْلُقكُّم مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ [٧٧:٢٠]
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?
فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ [٧٧:٢١]
kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim),
Mengapa Allah tekankah tentang air mani ini dengan sifatnya yang hina? Itu supaya kita sadar bahwa kita tidak mempunyai apa-apa, “laa hawla walaa quwata illa billahil ‘aliyyil azhiim” (tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah yang maha agung). Apa yang akan kita banggakan? Bukanlah kita semua dariNya? Pantaskah kita di muka bumi bersombong-sombong, merasa hebat karena secul jabatan atau harta yang kita miliki, lalu bertindak zalim dan menyakiti orang lain, padahal semua yang kita dapatkan tidak lain adalah karuniaNya. Mau ke mana kita pergi? Bukanlah kita pasti akan kembali kepadaNya?
إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ [٨٨:٢٥]
Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُم [٨٨:٢٦]
kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.
Saudaraku, kita pasti akan kembali kepada Allah dan kita pasti akan dihisab. Janganlah sekali-kali melawanNya, karena kita milikNya. Tidak mungkin kita bisa menghindar dariNya. Ingat kebesaran Allah dan keagungan nikmat-nikmatNya. Bayangkan pemandangan yang sangat menakutkan kelak ketika kita dihisab. Semua yang kita perbuat sekecil apapun pasti nampak. Allah SWT. maha kuasa untuk menghadirkannya.
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ [٩٩:٧]
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ [٩٩:٨]
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Kata “zarrah” artinya partikel terkecil di alam semesta ini. Jika ada wujud yang lebih kecil lagi dari atom, itulah zarrah. Artinya tidak mungkin ada dosa sekecil apapun terlewatkan begitu saja tanpa perhitunganNya. Sebagaimana juga tidak ada kebaikan sekecil apapun diabaikan tanpa ada pahalanya. Allah Maha Adil. Semua amal yang kita perbuat pasti ada balasannya baik atau buruk. Wahai saudaraku yang selama ini tenggelam dalam dosa-dosa segeralah kembali kepada Allah, mumpung masih dibuka pintu taubat. Jangan menunggu turunnya azab sehingga anda menyesal atas perbuatan yang anda lakukan.
Wahai saudaraku yang selama ini dalam kebaikan, jangan khawatir Allah tidak menghitung kebaikan anda. Teruskanlah beramal, seklipun tidak ada orang yang tahu. Sebab anda beramal karena Allah bukan karena manusia. Tidak ada artinya amal yang dilakukan karena manusia. Sebab manusia hanya makhluk yang tidak berdaya. Tidak perlu anda menjilat atau megambil muka pada seseorang karena kekuasaanya. Sebab siapapun yang anda anggap berkuasa itu sebenarnya lemah di hadapan Allah SWT. Masihkan anda ingat Fir’un yang dengan sombongnya mengaku tuhan. Allah merekam pernyataannya dalam Al-Quran:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ [٧٩:٢٤]
(Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”.
Perhatikan makhluk yang tidak tahu diri ini. Mengaku tuhan padahal ia sendiri tidak mampu menghadapi berbagai azab dari Allah SWT. pada saat datang badai yang dahsyat berupa banjir bandang, ia tidak berdaya kecuali minta tolong kepada Nabi Musa agar minta kepada Allah supaya dicabut azab tersebut. Firun sendiri tidak bisa apa-apa. Tetapi mengapa masih banyak manusia yang menjilat ke Firun karena kepentingan pribadi dan hawa nafsunya. Padahal jelas Firun sangat lemah. Namun para pendukungnya masih saja membantunya. Demikain juga ketika datang bencana belalang yang memusnahkan pohon-pohonan yang berbuah sehingga mengalami kekurangan makanan, lalu datang katak yang jumlahnya sangat banyak memenuhi barang-barang di istananya, sehingga tidak ada benda dan ruangan di istana Firun kecuali penuh dengan katak. Setelah itu datang darah yang memenuhi air di istana. Semua air yang akan diminum atau digunakan untuk memasah mejelma jadi darah. Firun ketika itu hanya terdiam tidak berdaya. Tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya minta tolong kepada Nabi Musa agar memohon kepada Allah supaya dibebsakan dari semua azab tersebut. Namun setelah bebas dari azab, tahukan anda apa yang diperbuat Firrun. Seketika ia berbuat ingkar dan kembali menjadi sombong. Karena itulah pada puncaknya, Allah meneggelamkannya di laut. Sungguh celaka manusia seperti Firun. Masihkan wahai sauadaku kita terpedaya dengan secuil kekayaan atau jabatan lalu kita bertindak zalim. Ini semua diceritakan dalam Al-Quran:
فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُّفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُّجْرِمِينَ [٧:١٣٣]
Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.
وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَ ۖ لَئِن كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ [٧:١٣٤]
Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu”.
فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَىٰ أَجَلٍ هُم بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنكُثُونَ [٧:١٣٥]
Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.
فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ [٧:١٣٦]
Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.
Lihatlah bagaimana Allah menenggelamkannya di lau Merah dengan sehina-hinanya. Sipakah anda dibanding dengan kekuasaan Firun? Sehebat Firun saja masih tidak berdaya, lalu anda ingin megikuti jejak Firun? Masihkan anda mendukung kezaliman seperti yang diperbuat Firun hanya untuk kepentingan sesaat? Apa yang masih akan anda harapkan dari makhluk? Sungguh rugi orang yang menuhankan makhluk.
فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ [٨٤:٢٠]
Mengapa mereka tidak mau beriman?
وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ [٨٤:٢١]
dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud,
Ya, kita harus beriman kepada Allah. Dialah Allah pemilik mutlak alam semesta. Semua sudah jelas dalam Al-Quran. Tundukkanlah diri anda hanya kepada Allah dan bersujudlah hanya kepadaNya. Tidak ada keselamatan kecuali hanya ikut Allah. Semua iming-iming yang dijanjikan manusia tidak lain hanyalah tipu daya agar kita terlena lalu lupa kepada Allah.