Al Kautsar (sungai di syurga)
amirfath.com, Tadabur Surah Al Kautsar (108), Des 2020 – Diberi nama al Kautsar karena surat ini dibuka dengan firman Allah yang ditujukan kepada Rasulullah saw “inna ‘athainaa kal kaustar“. Al Kautsar artinya kebaikan yang banyak dan trus menerus di dunia dan akhirat. Al Kautsar juga nama sebuah sungai di surga yang kelak akan Allah berikan kepada rasulullah saw.
Keterkaitan Surat Dengan Surat Sebelumnya: Pada surat sebelumnya, Allah menyebutkan 4 sifat orang kafir dan munafik yang telah mendustakan alam Akhirat: (a) bakhil (kikir), (b) lalai dalam shalatnya (c) riya atau tidak ikhlash dalam amalnya, termasuk saat menegakkan shalat (d) mencegah kebaikan dan tidak saling membantu antar sesama. Lalu dalam surat ini Allah menyebutkan 4 sifat mulia yang diberikan kepada Rasulullah saw: (1) Allah memberikan al kaustar, kebaikan yang banyak kepada Rasulullah dan memerintahkan agar jangan kikir (2) Allah memerintahkan agar selalu menegakkan shalat dan jangan melalaikannya. (3) Allah memerintahkan agar selalu ikhlash dalam melakukan amal termasuk shalat maka jangan riya. (4) Allah memerintahkan berkurban untuk diberikan kepada orang-orang fakir miskin maka jangan sekali-kali mencegahnya.
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw. suatu hari tiba-tiba terdiam, lalu mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Para sahabat bertanya mengapa tersenyum wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: baru saja aku menerima sebuah surat, lalu dibacakanlah surat Al Kautsar ini dari awal sampai akhir. Lalu Rasulullah bertanya: Tahukan kalian apa itu al Kautsar? Para sahabat menjawab: Allah dan RasulNya lebih tahu. Rasulullah lalu menjelaskan: Al kautsar adalah sebuah sungai yang Allah berikan kepadaku di surga. Di dalamnya terkandung banyak kebaikan.
Mengenai sebab turunnya banyak riwayat yang menyebutkan, tetapi ringkasnya adalah bahwa orang-orang kafir pada waktu itu menganggap Rasulullah dan sahabat-sahabatnya sangat lemah, pengikutnya terdiri dari kaum miskin dan tidak punya kedudukan ditengah masyarakat, ditambah lagi anak Rasulullah Al Qasim meninggal di Makkah lalu Ibrahim meninggal di Madinah. Orang-orang kafir sangat gembira atas ditimpanya musibah kepada Rasulullah saw. Maka Allah turunkan surat ini menegaskan Rasulullah-lah yang kuat, menang, pengikutnya akan selalu berjaya. Adapun kematian anaknya itu bukan tanda kelemahan dan kerendahan martabat, melainkan justru yang menghina Rasulullah adalah yang hina karena terputus dari segala kebaikan di dunia maupun di akhirat.
Al Kaustar: Nikmat Tak Terhingga (1)
Orang-orang kafir selalu menghina Rasulullah saw. dan menganggapnya rendah karena tidak punya kekayaan seperti yang mereka punya. Maka sebagai penolakan atas sikap tersebut Allah menegaskan dengan firmanNya: inna a’thainaakal kautsar (sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang tak terhingga), dibanding dengan apa yang orang kafir banggakan, itu tidak ada apa-apanya. Kenikmatan dunia yang mereka punya sangat sedikit, sementara nikmat yang Allah berikan kepada Rasulullah saw. sangat banyak, diantaranya sungai Al Kautsar di syurga.
Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah menggambarkan sungai Al Kautsar sebagai berikut: tebingnya terbuat dari emas, dan dasarnya terbuat dari mutiara. Debunya lebih harum dari minyak kesturi, airnya lebih manis dari madu, dan warnanya lebih putih dari salju (HR Turmidzi). Anas meriwayatkan bahwa sungai ini telaganya Rasulullah saw. (HR. Muslim).
Shalat, Ikhlas dan Kurban (2)
Lalu Allah perintahkan RasulNya tiga hal: Lakukan shalat dengan ikhlash karena Allah, baik yang fardhu maupun yang nawafil. Setelah itu Allah memerintahkan untuk berkurban atas nama Allah. Itulah tarbiyah yang diajarkan kepada Rasulullah dalam mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan (lihat juga QS. Al An ‘aam 6/162-163).
Ibnu Katsir mengatakan bahwa berdasarkan riwayat yang sahih: Rasulullah saw. melaksanakan shalat Hari Raya lalu menyembelih Kurban. Setelah itu Rasulullah bersabda: Siapa yang shalat seperti shalatku dan berkurban seperti aku berkurban, maka ia kurbannya benar. Siapa yang berkurban sebelum shalat ia tidak mendapat pahala kurban.
Terputus kebaikan bagi pembenci Rasulullah (3)
Lalu Allah menegaskan bahwa siapa saja yang membenci Rasulullah dan membenci risalah yang dibawanya, mereka adalah orang-orang yang abtar (hina, rendah diri dan terputus dari segala kebaikan di dunia dan kahirat). Ayat adalah jawaban atas ucapan Al ‘Ash bin Wa’il yang menghina Rasulullah dengan ucapan Abtar pada saat anaknya Abdullah yang dilahirkan Khadijah meninggal dunia. Abtar maksudnya seorang laki-laki yang tidak punya anak. Ibn Abbas mengatakan: bahwa sifat Abtar ini mencakup semua orang yang memusuhi Nabi saw. Hasan al Bashri mengatakan bahwa orang-orang musyrik disebut abtar karena mereka telah “terputus” dari tujuan yang sebenarnya sehingga mereka tidak mencapainya.