Sunday, August 17

Al Kafiruun (Orang-orang kafir)

amirfath.com, Tadabur Surah Al Kafiruun (109), Des 2020 – Surat ini diberi nama al Kafiruun, karena dalam ayat pertama Allah memerintahkan Rasulullah saw untuk menyatakan sikapnya secara tegas kepada orang-orang kafir bahwa ia tidak akan menyembah apa yang mereka sembah dari berhala dan patung-patung.

Korelasi surat dengan surat sebelumnya: Dalam surat sebelumnya (al Kaustar) Allah memerintahkan nabiNya untuk ikhlas beribadah hanya untuk Allah semata dan tidak mempersekutukannNya, adapun dalam surat ini Allah mengajarkan nabiNya sikap bara’ah (membesakan diri dari apa yang disembah orang-orang kafir). Ini menunjukkan bahwa untuk mencapai ikhlash yang murni tidak cukup dengan hanya meniatkan segala amal untuk Allah, melainkan di saat yang sama juga menjauh dari perbuatan syetan.

Dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa Rasulullah saw. membaca surat ini dan Al Ikhlash pada saat melaksanakan dua rakaat sehabis thawaf, dua rakaat fajar. Rasulullah saw. juga menganjurkan agar membaca surat ini saat mau tidur. Maka siapa yang membaca surat ini pada saat mau tidur –kata Rasullullah saw.- lalu ia meninggal dunia, ia terbebas dari syirik.

Diriwayatkan mengenai sebab turunnya bahwa orang-orang Quraisy Makkah menyediakan harta yang banyak dan istri yang cantik untuk Rasulullah serta membolehkannya untuk turut menyembah tuhan mereka, asalkan ia berhenti tidak melanjutkan dakwahnya kepada tauhid. Lalu Allah turunkan surat ini menegaskan bahwa tidak boleh Rasulullah melakukan tindakan syirik tersebut. 

Membebaskan diri dari perbuatan orang-orang musyrik (1)

Allah memerintahkan Rasulullah saw. agar menyatakan sikap tegas terhadap orang-orang kafir, bahwa ia tidak akan pernah menyembah apa yang mereka sembah kapanpun dan dalam kondisi apapun. Sebab akidah Islam yang dibawa Rasulullah saw. tidak akan pernah bertemu dengan akidah syirik. Ayat ini mencakup semua jenis kekafiran diatas muka bumi ini. Kata “qul” (katakanlah) perintah untuk menyatakan dengan baik, bukan dengan kasar dan menyakitkan hati.  Maksudnya Rasulullah saw. diperintah dengan lemah lembut dalam setiap perkara untuk menyatakannya kepada manusia dengan cara yang baik.

Perbedaan Yang disembah (2-3)

Ada alasan mendasar mengapa Allah mengajarkan RasulNya untuk menyatakan pernyataan tersebut, yaitu bahwa Tuhan (T besar) yang disembah Rasulullah tidak sama dengan tuhan (t kecil) yang mereka sembah. Rasulullah saw. menyembah Allah Sang Pencipta, sementara orang-orang kafir menyembah makhluk yang lemah dan tidak berdaya apa-apa. Perbedaan Tuhan yang disembah tentu tidak akan pernah bisa melahirkan kompromi. Sebab persoalan di sini adalah persoalan akidah.

Kata “laa” mengandung arti masa depan, maka kalimat “laa ‘abudu ma ta’buduun” artinya aku tidak akan menyembah saat ini dan di masa yang akan datang apa yang kamu sembah. Maka akidah Rasulullah dan umatnya benar-benar murni hanya menyembah Allah semata, tanpa sedikitpun menyekutukanNya. Sebalik orang-orang kafir menyembah selain Allah, seperti patung-patung, matahari, malaikat dan lain sebagainya, sikap inilah yang disebut syirik (menyekutukan Allah). Sarana kemusyrikan ini adalah hawa nafsu dan syetan.

Perbedaan Cara Beribadah (4-5)

Bila ayat (2-3) menegaskan perbedaan Dzat yang disembah, maka pada ayat (4-5) menegaskan perbedaan cara beribadah. Jadi antara ayat ini dan sebelumnya tidak terjadi pengulangan. Hakikat agama memang selalu terdiri dari Tuhan yang disembah dan cara beribadah. Tanpa kedua unsur ini tidak disebut agama. Karenanya di akhir surat dinyatakan lakum dinukum waliyadin bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Artinya sangat jelas perbedaan antara orang-orang beriman yang menyembah Allah semata, dan orang kafir yang menyekutukanNya, dengan menyembah makhluk yang lemah. Dalam surat Al Ankabut 29/41, Allah berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui”.

Imam Syafi’i ketika menafsirkan kalimat lakum diinukum menyatakan bahwa semua kekufuran adalah sama, satu agama. Sekalipun tuhan mereka berbeda-beda tetapi akhirnya sama menyekutukan Allah. Karena dalam Al Qur’an Allah menggambarkan bahwa orang-orang kafir semuanya saling tolong menolong di antara mereka: “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar” (QS. Al Anfal 8/73). Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author