Optimis
amirfath.com, Opini (17), Des 2020 – Islam datang sebagai agama fitrah. Karenanya kehadiran Islam merupakan air ruhani yang sangat dinantikan bagi manusia. Siapapun yang menginginkan kebaikan pasti tidak akan pernah bisa menghindar dari Islam. Banyak negara-negara maju secara diam-diam telah melaksanakan nilai-nilai Islam, sekalipun tidak atas nama Islam. Mereka praktekkan kejujuran, kebersihan dan kerapian. Orang-orang lemah ditanggung oleh negara. Pelayanan kesehatan dan pendidikan sangat dimudahkan dan tidak membebani di luar kemampuan. Keadilan mereka perjuangkan dan kedzaliman mereka lawan. Ini semua adalah inti ajaran Islam. Hanya sayangnya kata Islam ini kemudian diselewengkan dan diidentikkan dengan kata terorisme. Sehingga seakan-akan kehadiran umat Islam adalah momok yang mengancam. Padahal tidak demikian hakikat Islam.
Islam adalah keadilan, kejujuran dan kedamaian. Islam menantang segala bentuk kedzaliman dan kemaksiatan. Islam diturunkan untuk mengentaskan kemanusiaan dari kegelapan zaman jahiliah. Pada saat Allah swt. menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah saw. masyarakat kota Makkah sedang terpuruk dalam kubangan jahiliah yang menghancurkan kemanusiaan. Mereka menyembah batu yang tidak berdaya apa-apa. Kaum wanita dihinakan, bahkan dicampakan menjadi semata benda yang mati. Setiap mereka mendapatkan anak perempuan wajah mereka hitam legam. Dalam surah An Nahl:58, Allah menceritakan hal ini: Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Bahkan tidak sedikit anak-anak perempuan yang dibunuh hidup-hidup. Al Qur’an menyebutkan dengan istilah al mawuudah (anak peremepuan yang dibunuh hidup-hidup).
Kini kita menyaksikan zaman kembali mendekati zaman jahiliah tersebut. Banyak kaum wanita kembali dihinakan. Bahkan dianggap seperti komuditi yang diperjualbelikan. Perzinaan meraja lela. Budaya telanjang dikumandangkan di mana-mana. Yang kuat menguasai yang lemah. Kedzaliman di mana-mana kita bisa temui dengan jelas. Pemerasan kemanusiaan tidak bisa dihindari. Inilah akibat meterialisme. Bahwa semakin jahiliah suatu kaum, semakin identik dengan meterialisme. Dalam dunia materlialisme harta serta-merta menjadi tuhan. Allah yang menciptakan langit, bumi dan semua manusia diabaikan. Manusia tidak tertarik mempelajari ajaran Allah swt. Bahkan mereka sibuk mengarang sendiri cara hidup dan cara mengelola kehidupan mereka. Akibatnya segala cara mereka lakukan. Halal-haram yang Allah tentukan tidak menjadi rujuan. Semua orientasi mengarah kepada uang. Mereka menggelar semboyan: “yang penting uang di tangan, terserah halal atau haram itu tidak penting“.
Masihkah manusia akan terus rela hidup dalam kondisi yang mencekam seperti ini. Tidak, suatu saat kelak mereka akan kembali kepada fitrahnya. Bahwa semua bentuk kedzaliman ini tidak pantas dipertahankan. Mereka secara perlahan akan berjuang dengan sendirinya menuju kepada suara fitrahnya. Dan kita telah menemukan kenyataan di mana-mana orang-orang kembali kepada pangkuan Islam. Karenanya, wahai orang-orang Islam: ayo kita istiqamah. Janganlah kita menjadi orang yang pecundang. Di saat orang-orang kembali kepada pangkuan Islam, kita kok malah baru belajar keluar dari ajaran Islam. Sekali lagi ayo kita istiqamah. Tidak mungkin sukses kita capai tanpa keistiqamahan sejati. Kita optimis islam jalan keluar masa depan bagi kemanusiaan. Tapi ingat bahwa untuk membuktikan ini butuh kesungguhan. Tidak cukup kita hanya dengan berdoa, tetapi lebih dari itu kita harus berdakwah. Dalam surah Al Ashr, Allah swt. Menegaskan bahwa untuk selamat dari kerugian kita tidak hanya beriman dan beramal saleh melainkan harus juga terus menerus mekaukan tawaashaw bil haq wa tawaashaw bish shabr (saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran). Wallahu a’lam bishshawab.