Saturday, August 16

Nabi Yusuf as. dan Reformasi Ekonomi

amirfath.com, Opini (16), Des 2020 –

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ(54)قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ(يوسف55)

Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami”.Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”

Satu-staunya kisah Nabi dalam Al Aqu’an yang diceritakan secara khusus dalam satu surah adalah kisah Nabi Yusuf as. Selain Nabi Yusuf, kisah para nabi disebar oleh Allah swt. dalam beberapa surah. Ternyata, bila kita teliti surah yusuf secara ,mendalam, kita dapatkan tidak hanya benang merah sejarah mengenai jatuh bangun perjalanan hidup seorang anak manusia, melainkan juga berbagai pelajaran di antaranya mengenai bagaimana Nabi Yusuf as. mengentaskan rakyat Mesir dari krisis ekonomi, bahkan pada masa-masa yang sangat sulit, Mesir pada waktu itu menegalami kelebihan pangan sehingga mampu mengirimkan suplay makanan ke wilyah-wilayah sekitar termasuk Palestina.

Nabi Yusuf memang sempat mengalami liku-liku hidup yang sangat mengharukan. Tadinya Nabi Yusuf sangat disayang oleh ayahnya Nabi Ya’qub as. Namun setelah itu sejarah menunjukkan kisah yang menyedihkan. Nabi Yusuf jatuh dari posisi yang penuh kasih sayang dan cinta ke dalam sumur yang mematikan. Tetapi Allah swt. tidak menghendaki kematian baginya. Seketika Allah kirimkan musafir yang kehausan dan mencari Air. Darinya Nabi Yusuf  kemudian bisa keluar dari Sumur. Dari sumur nabi Yusuf di bawa ke Mesir. Di Mesir nabi Yusuf dijual murah dan di beli seorang bangsawan Mesir. Di sini nabi Yusuf naik derajat, dari sumur yang sempit dan pengap ke dalam istana yang megah dan luas. Tetapi kemudian ujian datang lagi, Nabi Yusuf terkena fitnah dan dijebloskan ke dalam penjara. Setelah sekian lama dalam penjara, Nabi Yusuf naik lagi dan diangkat menjadi mentri keuangan negara. Demikianlah kita lihat secara jelas turun naik sejarah kehidupan anak manusia bernama Yusuf as. Apa yang menarik untuk kita simpulkan di sini adalah bahwa hidup tidak selamanya di bawah. Bahwa ketika kita di bawah jangan sedih, kerena itu justru peroses untuk naik ke atas. Bagitu juga sebaliknya, ketika kita di atas jangan bangga, karena itu proses untuk turun ke bawah.

Ayat di atas adalah gambaran satu sisi dari perjuangan Nabi Yusuf setelah melalui proses panjang perjalanan hidupnya yang berliku-liku. Yaitu sisi kontribusinya dalam membangun ekonomi masyarakat Mesir. Dimulai dari mimpi seorang raja yang menggelisahkan. Mimpi tentang tujuh ekor sapi gemuk-gemuk dimakakan oleh tujuh ekor sapi kurus-kurus. Di sini Nabi Yusuf menunjukkan kebolehannya dalam melakukan takwil mimpi. Dari penjara nabi Yusuf menjelaskan bahwa akan datang masa subur selama tujuh tahun, lalu diikuti dengan masa peceklik selama tujuh tahun, di mana kita tidak bisa makan kecuali apa yang telah panen selama musim subur. Sejak itu Raja terkagum terhadap Yusuf. Karenanya ia miminta Yusuf untuk menjadi tangan kanannya. Namun Nabi Yusuf tidak segera menerima tawaran tersebut. Bahkan Nabi Yusuf tidak mau keluar dari penjara kecuali setelah tuduhan atasnya benar-benar dibersihkan. Dari sini Raja semakin kagum. Tidak saja karena keilmuan Yusuf yang luas dan dalam, melainkan juga sikapnya yang jujur dan bersih. Bahwa untuk menjadi pemimpin rakyat dan mengetaskan mereka dari keterpurukan ekonomi bukan semata bermodal semangat, melainkan kemampuannya melakukan analisa yang tajam terhadap segala situasi dan kejujurannya lebih dari itu kebersihan dirinya dari berbagai tuduhan yang mengurangi kepercayaan.

Permintaan Sang Raja

Allah berfirman:  وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي (Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat kepadaku”). Pada ayat sebelumnya (nomer:50) Allah juga menceritakan bahwa raja pernah minta nabi Yusuf untuk menemuinya. Ini menunjukkan bahwa Raja telah meminta nabi Yusuf dua kali: Pertama, ketika Yusuf masih dalam penjara dan setelah menafsirkan mimpi, tetapi Yusuf tidak mau keluar dari penjara, kecuali setelah dijelaskan bahwa ia tidak bersalah. Kedua, setelah jelas bahwa Yusuf tidak bersalah, dan wanita bangsawan mengakui bahwa dialah sebenarnya yang telah menggoda Yusuf untuk berbuat maksiat. Untuk panggilan yang kedua ini Yusuf mau keluar dari pnejara dan menemui raja. Ketika bertemua raja berkata: إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ (“Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami”).

Dari kisah ini kita petik beberpa pelajaran: (1) Bahwa Raja meminta Yusuf untuk menjadi tangan kanannya bukan tanpa pertimbangan, melainkan setelah melalui ujian yang sangat teliti. Yusuf telah terbukti keluasan ilmunya. Ia adalah seoran futuris sejati. Analisanya yang tajam, membuat raja terbebas dari lilitan mimpi yang mencemaskan dan tak terjawabkan. Analisa Yusuf memang benar-benar tajam, karena ia tidak saja membeberkan peristiwa yang akan terjadi, tetapi lebih dari itu ia memberikan solusi yang sangat jelas, praktis dan efektif. Bayangkan apa yang akan di alami masyarakat Mesir, bila ternyata kemudian mereka tidak pernah memperkirakan adanya malapetaka ekonomi besar-besaran di masa yang akan datang. Bayangkan jika selama tujuh tahun mereka berfoya-foya dalam masa subur, lalu setelah itu mereka harus menghadapi masa peceklik tanpa persiapan sebelumnya. Berapa jumlah nyawa yang harus melayang karena kelaparan.

            Pribadi futuris seperti Yusuf sungguh sangat dibutuhkan untuk mengentaskan kondisi ekonomi moderen. Berbagai persoalan ekonomi dihadapi bebrabagai negara, adalah karena terlalu besarnya egoisme masing-masing negara dan masing-masing individu. Akibatnya mereka selalu berada dalam persaingan menegruk keuntungan tanpa akhir, dengan segala cara. Sampaipun cara-cara tersebut harus menghancurkan kemanusiaan, itu semua dilakukan. Semangat kapitalisme yang tanpa diimbangi dengan semangat ekonomi kemanusiaan, itulah yang membuat ekonomi moderen terseok-seok dalam kegelisahan yang semakin mencekam. Kita sangat membutuhkan sistem ekonomi kemanusiaan seperti yang Yusuf gagaskan. Bahwa yang penting dalam berekonomi bukan bagaimana aku kaya, melainkan bagaimana manusia selamat dari cekaman kerisis yang berkepanjangan.     

            (2) Yusuf sangat tulus memeberikan ide-idennya. Sekalipun ia sedang dalam penjara, dan raja sangat membutuhkan kehadirannya, Yusuf tetap tulus. Padahal ia bisa berkata: “Keluarkan dulu aku dari penjara, baru setelah itu akan aku beritahukan jawabannya”. Tapi Yusuf tidak berkata demikian. Yusuf malah langsung memberikan jawaban yang dibutuhkan. Dari sini nampak bahwa bagi Yusuf yang terpenting bukan bagaimana menyelamatkan dirinya, melainkan bagaimana menyelamatkan orang lain. Bahwa persoalan ekonomi bagi sebauh negara adalah persoalan yang fundamental. Karena ia berkait erat dengan kebutuhan dasar manusia secara luas. Karenanya Yusuf segera memberikan jawaban, jauh sebelum malapetaka menimpa. Ini adalah sisi yang lain lagi kita petik dari peribadi nabi Yusuf. Bahwa untuk mengentaskan ekonomi negara kita sangat membutuhkan seorang yang tidak hanya cerdas, melainkan juga tulus. Cerdas saja tanpa dimbangi ketulusan, malah akan menambah persoalan semakin membelit. Apapun kekayaan yang dimiliki sebeuh negara, ketika para pelaku ekonominya adalah manusia-manusia rakus dan hanya sibuk dengan kepentingan dirinya, sungguh pasti akan memanmbah permasalah ekonomi akan semakin berat.

            (3) Yusuf sangat menjaga kehormatan dirinya. Ia tidak mau dirinya terekam dalam cacatan busuk (tuhmah). Karenanya ia tidak mau keluar dari penjara sampai terbukti bahwa yang salah bukan dirinya. Bahwa ia hanya dituduh. Sebab Yusuf tahu bahwa untuk memegang sebuah tanggung jawab besar – apalagi tanggung jawab itu berkaitan dengan harta – itu tidak mungkin kecuali harus seorang yang bersih. Bersih dari dosa dan perasangka. Inilah sebenarnya pribadi yang sangat diubutuhkan untuk menajalankan ekonomi negara. Artinya silahkan perbanyak ahli ekonomi sebuah negara, tetapi jika mereka bukan seorang penegak amanah, negara akan tetap sakit secara ekonomi. Negara sangat membutuhkan peribadi yang bersih untuk mengembalikan kekuatan ekonomi. Itulah rahasia firman Allah dalam surah Al A’raf:96 :  وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ (Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi). Bahwa di atas semua keahlian dan kecerdasan harus ada keimanan dan ketakwaan yang jujur. Sebagaimana juga di atas semua keuntungan yang manusia kejar harus ada keberkahan. Apalah arti kekyaan sebauh negara, bila jauh dari keberkahan. Oleh karena itu untuk memperbaiki kondisi ekonomi sebuah negara tidak cukup dengan hanya mengnadlkan keilmuan para ahli ekonomi melainkan harus diimbangi dengan keimanan dan ketakwaan yang mnaksimal kepada Allah. Dari kepribadian nabi Yusuf kita biasa melihat kenyataan ini dengan kontras.

            (4) Raja percaya bahwa Yusuf bisa membawa amanah. Allah merekam pernyatan raja kepada Yusuf: إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ (“Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami”). Ini persaksian disamapaikan langsung seketika Yusuf menemuinya di istana kerajaan. Sudah pasti bahwa pernyataan ini bukan semata kalimat yang diucapkan dengan maksud basa-basi. Melainkan sebuah persaksian yang jujur. Bahwa Yusuf memang pantas menyandang gelar Al Amin, seperti Rasulullah saw. mendapatkan gelar tersebut dari masyarakat Arab sejak zaman jahiliah. Dan ucapan raja ini sekaligus sebagai rekomendasi bahwa Yusuflah yang pantas untuk menjadi tangan kanannya dalam mengentaskan ekonomi negara.

            Di sini tergambar ketelitian raja dalam memilih orang-orang yang akan mendampinginya. Bahwa persoalan negara bukan persoalan main-main. Bahwa untuk menjalan roda politik dan ekonomi negara bukan semata membutuhkan orang-orang yang dekat dengannya, melainkan orang-orang yang benar pantas dan tepat. Tidak sedikit negara yang tadinya kuat dan kaya, lalu tiba-tiba menjadi hancur karena manusia yang menaganinya tidak tepat. Raja melihat bahwa Yusuf memang the right man on the right place. Karenanya ia langsung memberinya gelar Al Amin, karena pada masa sulit, tidak ada lain negara membutuhkan pribadi yang penuh dedikasi dan amanah.

Permintaan Nabi Yusuf as.

Yusuf tahu kemampuan dirinya, pun juga tahu titik persoalan yang paling menentukan untuk menyelamatkan negaranya pada masa sulit. Karenanya, ia segera memilih posisi. Allah merekam pemintaan Yusuf kepada raja: قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ (“Jadikanlah aku bendaharawan Negara..”).  Kata خَزَائِنِ الْأَرْضِ menunjukkan bahwa tanggungjawab Yusuf sangat besar dan luas. Sebab sekali gagal selama tujuh tahun mengendalikan ekonomi Negara, maka selama tujuh tahun pula dunia mengalami penderitaan. Jadi bukan hanya Mesir yang akan terkena dampak kerisis tetapi juga belahan bumi lainnya. Dan memang benar bahwa ketika masa peceklik itu tiba selama tujuh tahun, ternyata banyak manusia dari seluruh wilayah Syam berdatangan ke Mesir untuk membeli makanan. Ketika semua belahan bumi menaikkan harga pangan, karena banyakknya permintaan dan sedikitnya barang yang tersedia, Mesir tetap menjual pangan dengan harga yang sangat terjangkau. Inilah bukti keberhasilan Nabi Yusuf ketika mengendalikan ekonomi negara.

            Untuk meyakinkan raja akan kemampuannya, Yusuf segera menyebutkan dua sifat utama yang diperlukan dalam memegang amanah besar tersebut : (1) Nabi Yusuf berkata bahwa dirinya memepunyai sifat حفيظ (pandai menjaga). Dan teklah terbukti bahwa nabi Yusuf mampu menjaga kehormatannya. Sekalipun dihadapannya terdapat kesempatan untuk berbuat maksiat, dan ia mampu mengerjakannya, namun ia tetap menjaga kehormatannya. Berapa banyak orang yang baik karena belum mempunyai kesempatan dan kemapuan. Begitu didepannya terbuka kesempatan dan ia mampu mengerjakannya, seketika ia tidak mampu menjaga kehormatan dirinya. Dan menjaga amanah harta sangan membutuhkan peribadi seperti Yusuf. Peribadi yang benar-benar jujur menjaga kehoirmatan dirinya. Bukan menjaga diri pada sirusi tertentu saja, sementara dalam situasi yang memungkinkan ia adalah manusia paling bejat.

            (2) Nabi Yusuf mempersaksikan bahwa dirinya mempunyai sifat عليم (berpengetahuan luas). Ini juga telah terbukti dari kemampuannya mentakwil mimpi raja. Dalam kata عليم tidak saja terkandung makna ilmu, melainkan juga kecerdasan. Bahwa Yusuf bukan semata pribadi yang berpengetahuan luas melainkan juga di saat yang sama ia mampu mengehadapi dengan cerdas berbagai situasi yang berkembang. Dari sini nampak bahwa untuk mengentaskan ekonomi sebuah negara tidak saja dibutuhkan gelar kesarjanaan di bidang ekonomi yang pada era moderen hal tersebut sangat diutamakan, melainkan di atas semua itu adalah keilmuan yang diangan di atas kejujuran dan pengalaman yang luas. Itulah yang nampak pada diri Nabi Yusuf.

            Berdasarkan penjelasn di atas, nampak dua hal: Pertama, bahwa permintaan Yusuf bukan didasrakan atas kepentingan pribadi melainkan berangkat dari ketulusan untuk mengentaskan ekonomi negara. Kedua, bahwa pengakuannya bahwa dirinya mempunyai dua keistimewaan: حفيظ عليم bukan mengada-ada, melainkan sudah terbukti dan diketahui oelah banyak orang termasuk raja sendiri. Karenanya, begitu Yusuf meminta jabatan tersebut, raja langsung stuju dan tidak seikitpun keberatan. Jelasnya bahwa tidak mungkin untuk menyelamatkan negara dari kerisis ekonomi tanpa dihadirkan orang-orang yang benar-benar amanah, jujur menjaga kehormatan dirinya dan mempunyai pengalaman serta pengetahuan yang memadai.

*      *      *

            Dari kisah Al Qur’an tentang Nabi Yusuf di atas, jelas bahwa persoalan apapun di dunia sebenarnya yang menjadi ujung pangkalnya adalah manusianya sebelum masuk kepada masalah-masalah lainnya. Sebab negara dan segala kekayaannya hanyalah sarana. Karenanya Rasulullah saw. bersabda: “Paling baiknya harta adalah yang berada di tangan orang yang saleh. Sebaliknya paling buruknya harta adalah yang berada di tangan orang yang bejat. Karena itu berbicara reformasi sebuah ekonomi di masa krisis, tidak ada lain solusinya kecuali mem,perbaiki manusianya sebelum segala sesuatunya. Silahkan hadirkan para ahli dan silahkan bikin sistem dan undang-undang yang mengagumkan, tetapi jika manusianya tidak mau tegas menjalankannya, itu semua omong kosong. Karena itu Al Qur’an selalu berbicara tentang pembinaan manusia. Benar para ulama tafsir mengatakan bahwa tema pokok Al Qur’an adalah menjadikan manusia hamba Allah. Sebab tanpa menghmbakan diri kepada Allah manusia pasti akan menghambakan dirinya kepada nafsu. Bila nafsu sebagai tuhannya, silahkan bersenang-bersenang dengan bencana dan penderitaan di dunia lalu silahkan bersenang-senang selamanya dengan adzab Allah di akhirat. Wallahu a’lam bishshawab.  

About Post Author