Saturday, August 9

Al Quran Fitrahku

amirfath.com, Opini (18), Des 2020 – Ketika Allah swt. menciptakan manusia, Allah ingin agar manusia ini mengelola bumi sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Inilah makna firmanNya : “innii ja’ilun fil ardhi khalifah” (sungguh aku akan menciptakan makhluk sebagai khalifah yang akan mengelola bumi). Dua ribu tahun sebelum penciptaan manusia Allah telah menugaskan jin mengelola bumi. Tetapi jin gagal. Jin hanya sibuk saling menumpahkan darah antar mereka selama di bumi. Akibatnya mereka diusir dari bumi lalu ditempatkan di tengah laut “ fii jazaairil buhuur”. 

Manusia berbeda dengan jin. Allah telah membekalinya kecerdasan lebih tinggi dari pada jin. Nabi saw. bersabda tentang kemampuan cara berpikir jin : a’qaluhum bi aqli shabiyyin bi ‘asyri siniin (paling cerdasnya jin hanya selevel anak manusia umur sepuluh tahun). Berdasarkan ini manusia jauh lebih hebat dari pada jin, baik secara kemampuan berkrasi maupun secara kemampuan berinovasi. Karena tugasnya yang mulia dan agung ini Allah bekali manusia pandaun yang tidak saja menjelaskan aturan hidup secara jasmani tetapi juga menjelaskan aturan cara mengisi ruhani. Sebab kebutuhan pokok manusia dua : kebutuhan jasmani dan ruhani sekaligus. Satu sisi diabaikan manusia akan celaka. Lebih celaka lagi kalau yang diabaikan adalah sisi ruhaninya. Manusia akan mengalami kecelakaan jauh lebih parah dari pada sekedar kecelakaan jasmani. Seorang yang lapar secara jasmani paling bahaya ia mati. Tetapi seorang yang lapar secara ruhani ia tidak hanya mencekakan diri sendiri tetapi boleh jadi akan mencelakakan orang lain. Bayangkan kalau yang lapar ruhaninya adalah pemimpin provinsi, maka yang akan dicekakan rakyat seprovinsi. Kalau yang lapar ruhaninya seorang pemimpin Negara maka yang akan dicekakan rakyat satu Negara. Dan lebih dari itu kalau yang lapar ruhaninya adalah pemimpin dunia, maka yang akan dicelakakan manusia seluruh bumi. Karenanya Allah swt. sangat perhatian terhadap kebutuhan ruhani manusia. Sampai-sampai Allah tidak hanya menurunkan panduan tetapi juga para pembimbing dan pemandu yaitu para Nabi dan Rasul.

Untuk pemenuhan kebutuhan jasmani manusia boleh berkereasi sepanjang itu halal. Tetapi untuk memenuhi kebutuah ruhani manusia tidak bisa mengarang sendiri. Karena peket ruhani harus mengikuti panduan langsung dari Allah dan RasulNya. Inilah Al Quran. Karenanya Al Quran tidak saja dikemas dengan pemberitaan mengenai aturan hidup tetapi juga disajikan dengan bahasa yang sangat mengagumkan dan menyentuh hati. Siapaun yang membacanya sesuai dengan kaidah ilmu tajwid yang sudak baku pasti akan merasakan hidup ruhaninya. Ibarat pulas bagi HP Al Quran adalah pulsa fitrah manusia. Manusia akan kehilangan arah tanpa Al Quran. Bahkan yang membuat manusia menjadi bermakna hidupnya adalah ketika ikut panduan Al Quran dan bersahabat dengannya. Karena itu Allah swt. menegaskan bahwa Al Quran adalah ruh bagi manusia. Maka tanpa Al Quran seperti rangka tanpa ruh. Inilah makna ayat : wakadzaalika awhainaa ilaika ruuhan min amrina (demikianlah Kami wahyukan kepada (Al Quran) sebagai ruh dari urusan Kami). (QS. Asy Syura : 52).

Benar, Al Quran adalah ruh sekaligus fitrah manusia. Dengannya manusia menjadi manusia. Allah telah mengatakan kepada manusia yang tidak ikut Al Quran : fa aina tadzhabuun, in huwa illaa dzikrul lil aalamiin (wahai mau kemana kalian pergi? Bukankah Al Quran sebagai panduan bagi semua manusia). Bagaimana cara ikut panduan Al Qur’an? Jawabannya minimal ada lima kewajiban yang harus dipenuhi secara paralel : (a) selalu membacanya secara rutin, usahakan setiap hari minimal satu juz supaya bisa khatam setiap bulan sekali. (b) berusaha memahami kandungannya, minimal tahu ketentuan pokoknya, seperti : ini kerjakan dan ini jangan. (c) berusaha menambah hafalan karena dengannya seorang akan lebih tinggi derjatanya di surga. (d) bersungguh-sungguh mengamalkannya. Ingat isi Al Quran hanya dua : kerjakan dan jangan kerjakan. Apa kata Al Quran kerjakan, maka kerjakanlah. Dan apa kata Al Quran jangan, maka jauhilah. (e) ajak orang lain supaya ikut Al Quran. Jangan menjadi orang shalih sendir, tetapi sebarkanlah kesalihan itu untuk orang lain. Ingat syetan saja bekerja keras untuk mengajak orang lain ke neraka. Maka hendaklah hamba Allah lebih bekerja keras untuk bersaing dengan syetan, mengajak orang lain ke surga.

About Post Author