Tetangga
amirfath.com, Cerpen (24), Des 2020 – Hidup bertetangga memang ada saja persoalan, dulu masih saya di hostel salah seorang kawan saya dari Jordan selalu mengeluh mengenai perilaku tetangganya. Ketepatan kamarnya memangnya berdampingan, jendelanya berhadapan. Jadi apa saja yang berisik dari kamar tetangganya kedengeran. Lebih-lebih ketika tetangganya itu lagi mendemostrasikan kesukaannya, dengan menyetel lagu barat. Waduh langsung deh, kawan saya yang dari Jordan itu angkat emosi, dia datang dan menegurnya, kadang ia minta tolong kepada untuk menasihatinya. Sebab ketepatan tetangganya itu orang Indonesia.
Tapi apa yang bisa saya lakukan, sementara anaknya itu memang mempunyai tabiat cowek, tidak suka mengindahkan nasihat orang lain. Menurutnya, apa yang ia lakukan itu paling benar, akhirnya yang menjadi korban kawan saya itu. Ya, kalau diusut-usut dari mana asal muasal kemusykilan itu, ternyata memang berangkat dari keperibadian masing-masing di antara mereka. Kawan yang Jordan ini ya, boleh disebut bahwa ia nampaknya sungguh-sungguh untuk menjalankan Islam. Baginya Islam itu bukan hanya ibadah ritual. Melainkan segala totalitas kehidupan, itu harus Islam. Karenanya kalau saya melihat sikapnya sehari-hari tidak ada yang bersifat main-main. Semuanya ia kalkulasi dengan ukuran pahala, semuanya ia terjemahkan dalam bentuk-bentuk akhlak dan mu’amalah yang islami.
Nah dari sinilah, saya sering melihatnya hati-hati dalam berbagai hal. Sampai-sampai masalah music yang sebagian mengatakan itu masalah khilafiyah, bagi dia itu tidak perlu ditinjau dari segi khilafiyah atau tidak. Tetapi harus diliaht dari sisi “Fiqhul Waqi”[1] artinya menurut dia, mari kita bersikap sebagai umat Islam secara kolektif, bukan secara individual. Sebab kalau kita selalu bersikap secara individual, ya tentu saja kita akan segera melemparakan alasan bahwa masalah music itu para ulama berbeda pendapat. Maka tidak perlu di besar-besarkan, siapa yang mau menikmati silahkan, dan siapa yang tidak mau itu hak dia. Semuanya bebas menentukan sikapnya, ini kalau kita secara individual. Tapi coba katanya, kita sejenak merenungkan apakah benar cara bersikap seperti ini, apakah benar bahkan umat Islam, ummat yang individual. Artinya tidak perlu menjenguk dan merasa saudara kita yang sakit. Tidak perlu membantu saudara kita yang dibantai orang Hindu di Kashmir dan saudara kita yang di rampas haknya oleh kaum Yahudi di Palestina. Apakah benar seperti itu, tentu tidak kan. Nah, kalau fitrah kita sebenarnya tidak mengizinkan kita untuk berislam secara individual, berarti tidak bisa tidak kita harus berislam secara kolektif. Dan kalau begitu berarti pula kita harus mereasa tidak enak ketika sekarang-sekarang ini lagi gencar-gencarnya orang barat membantai umat Islam. Masak enak kita disini berdansa dengan music-musik barat itu. Sementara saudara kita di sebelah sana tidak mendapatkan apa yang harus mereka perebuat untuk kehidupannya.
Wah, saya juga tersentuh ketika mendengar ungkapan itu. Sebab ternyata pendekatan yang ia lakukan sungguh pemdekatan yang berdasarakan kondisi social. Dan rupanya saat-saat seperti ini, pendekatan semacam itu sangat dibutuhkan. Sebab nampaknya umat Islam sanoai sekarang masih saja terpaku pada rangkaian-rangkaian khilafiyah yang tidak pernah selesai. Ya, kalau lebih diperjelas lagi, maksudnya bahwa uamt Islam yang diperntingkansekarang bersatu dalam satu barisan. Satu harapan, satu cita-cita dan satu pegangan. Adapun masalah cara rerserah, sebab itu sangat tergantung pada kondisi yang dihadapi masing-masing.
Tapi apakah ini mungkin? Ya, mungkin. Wong Rasulullah bisa kok menyatukan orang-orang yang asalnya kafir, masak kita tidak bisa bersatu. Wong kitasudah jelas muslim, caranya bagaimana? Ya kita ikuti secara detail bagaimana cara Rasulullah menyatukan shabat-sahabat nya. disini kita dituntut untuk memperlajari “sirah” Rasulullah dengan lebih mendalam lagi.
Mengapa harus cara Rasulullah? Apakah tidak mungkin kalau kita mengembangkan cara kita sendiri? ya, bisa saja tapi apakah kita yakin bahwa cara yang kita kembangkan itu akan mencapai titik kegemilangan seperti yang dicapai Rasulullah. Ya, kalau kita masih coba-coba ngapain kita cape-cape. Seperti kalau kita ditawarin dua hal, bahan mentah untuk dibuat mobil dan mobil yang sudah siap pakai. Masak kita memilih bahan yang mentah itu. Tentunyakan membuang waktu dan tenaga namanya. Itupun bahan mentang tersebut belum pasti bisa dibuat mobil seperti yang sudah jadi itu.
Tapi ada salah seorang kawan saya nyeletuk dalam sebuah obrolan santai. Ia mengatakan bahwa kita sekarang sedang menjalani sebuah era baru, era ini kita kenal dengan kemoderanan. Makanya, ia meyebutkan, kita tidak perlu mengulang-ulang apa yang telah lewat, cara Rasaulullah itu katanya lebih lanjut, sudah berlalu. Dan itu hanya berlaku pada kondisi yang beliau hadapi. Maka tidak mungkin itu dipraktekan pada kondisi sekarang. Apalagi masyarakat dan tempatnya berbeda. Dan kita katanya kagi dengan semangat yang menggebu-gebu, sudah tahu bahwa itu hanya masalah system. Maka tidak perlu terikat pada sister Rasulullah secara ketat.
“Terus, system apa yang anda mau ikuti?” Kata saya
“Ya, kita bisa mengambil system dari Plato, Aristotelis dan lain sebagainya.” Ia menjawab
“Memangnya Plato itu orang modern?”
“Tidak, orang lampau. Tapikan pemekirannya menghebuskan angina modern”
“Jadi ajaran Rasulullah itu tidak mengehembuskan angina modern?” kawan saya dia,. Saya melanjutkan pembicaraan.
“Apa sih beratnya kalau anda mengutamakan system Rasulullah untuk anda jadikan pedoman? Bukankah Rasulullah telah berhasil secara nyata dalam dakwahnya? Dan itu telah diakui sejarawan dunia? Kalau Plato mana bukti keberhasilannya? Demokrasi? Apakah benar manusia merasa sejahtera dengan demokrasi? Coba anda adakan penelitian secara jujur? Ajukan data-data empiris?
Kawan saya itu tersenyum. Kepalanga mengagguk-angguk. Saya menangkap sebuah kesan, ternyata banyak gunanya juga ngobrol-ngobrol sesama tetangga.
Namun sekarang, saya telah kawin. Rumah saya ketepatan terletak di kawasan ‘Jin Nine Four’. Ettangga-tetangga saya rata-rata para pengungsi Afghanistan. Jadinya saya sulit untuk berkomunikasi dengan mereka, paling banter saya hanya bisa mengucapkan salam saat hendak menziarahinya dan saat berpapasan di tengah jalan.
[1] Artinya cara berfikir yang didasarkan pada kenyataan yang ada