Tertidur
amirfath.com, Cerpen (23), Des 2020 – Karena tertidur tadi pagi, akhirnya saya banyak meninggalkan kegiatan. Program kuliah sudah jelas terbengkalai. Hafalan Al-Qur’an yang biasanya saya setorkan juga hangus, urusan untuk mengecek proses untuk mendapatkan NOC (Number Of Clearance) ke kementrian Luar Negeri pun tertunda. Belum lagi masalah perpanjang kamar di hostel. Itu juga belum saya lakukan.
Sementara tetangga saya tidak tahu bahwa saya sedang tidur. Padahal katanya, banyak kawan-kawan saya yang mengetok saya melalui telpon. Dan memang saya hari ini lagi banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan bersama mereka. Ya, apa boleh buat. Nasi telah menjadi bubur, saya tidak bisa mengulang kembali peristiwa yang telah lewat. Tapi, apapun dibalik semua itu, banyak pelajaran-pelajaran. Paling tidak pelajaran untuk berhati-hati pada kesempatan berikutnya.
Masalah hati-hati sebenarnya sudah lama saya sadari. Dan kejadian ini bukan pertama bagi saya, makanya saya sebelum tertidur tadi sudah berusaha untuk jalan-jalan. Sebelumnya saya sempatkan duduk di masjid sambil mengaji Al-Qur’an sampai terbit matahari. Tapi karena apa-apa kok tiba-tiba setelah saya mengantarkan istri ke tempat kuliah. Rasa kantuk datang, tak tertahan. Saya coba sejenak berusaha untuk tidak tidur. Saya segera meraih majalah Gatra. Naumn tak disangka-sangka, tahu-tahu saya menemukan diri saya sudah berada di waktu dzuhur.
Sungguh perjalanan waktu yang begitu cepat, saya bergumam sambil menggelengkan kepala, dan memang demikian saya seringkali tidak sempat memikirkan hal itu. Dan saya yakin orang-orang selain saya juga sering mengalami demikian. Artinya, tiba-tiba ia tertangkap kedalam penyesalan-penyesalan. Di dalam otaknya seketika menggerundel sejuta ungkapan yang sebenarnya hampir bisa di katakana mustahil untuk dicarikan jalan keluarnya, mengapa saya tadi tidur? Seandainya saya tadi tidak tidur niscaya semuanya itu tidak akan terjadi? Mengapa saya tidak belajar sejak dulu? Sehingga sekarang setelah saya kawin banyak kesibukan yang harus saya kerjakan? Dan ini tidak kalah pentingnya dengan belajar? Mengapa saya tidak kawin kemarin saat saya ditawarkan oleh kawan saya? Padahal seandainya saya kawin saya yakin hidup saya akan tenang? Dan lain sebagainya. Yang sering orang ungkapan secara di sengaja saat-saat ia menyesali sesuatu.
Seperti saya sekarang lagi menyesali masa lalu, mengapa saya tidak sejak kecil menghafal Al-Qur’an? Akibatnya sekarang saya menemukan banyak kesulitan. Karena otomatis, usia semakin tua, tidak saja hafal semakin lemah, melainkan kesibukan juga semakin banyak, yang tentu dalam banyak hal, menyita pikiran. Dengan demikian kemungkinan untuk menghafal Al-Qur’an seperti usai sekarang-sekarang ini, toh sekalipun bisa tapi menuntut kesungguhan yang lebih prima. Dan ini hampir bisa dikatakan tidak mungkin.
Saya barusan ketika bangun tidur, memang tiba-tiba di penuhi oleh perasaan yang bercampur dengan penyesalan. Apalagi saat itu istri saya belum kembali dari kuliah. Jadinya rasa kesepian semakin lengkap, dan untuk menutupi kesepian ini saya segera bangkit dan perhi ke Masjid untuk sholat Dzuhur, setelah sholat saya menemani tetangga unutk memperbaiki teleponnya yang lagi kurang bekerja dengan baik. Siapa tahu pahalanya bisa mengimbangi kekurangan amal saya hari ini.
Tak berapa lama istri saya datang, ia menampakkan kecapean. Ia masuk kamar dan langsung berbaring di tempat tidur, sementara saya belum makan siang., dan untuk minta tolong kepada istri saya, saya seperti terikan oleh perasaan yang tidak mengizinkan, jalan keluarnya saya membeli Cepati([1]) di pasar. Lalu saya makan berdua dengan tetangga saya, sebab ketepatan istri juga lagi kurang sehat.
Sekarang istri saya sedang istirahat. Saya tidak boleh menganggunya, kalau saya masuk kamar saya berusah untuk berjalan dengan gaya ektra hati-hati. Saya hindari suara-suara yang sekiranya bisa membuat ia terbangun dari tidurnya, baru setelah ia bangun saya mulai mengajaknya ngobrol.
“Mama mau jalan-jalan?” tanya saya “Kalau mama mau, papa temani kemana mama suka”
“Aduh, Pa. kayanya mama masih capek” katanya, tapi memang saya melihat wajanya Nampak pucat.
“Jadi, mama mau dirumah saja?”
“Iya saja deh, Mama sekarang lagi ga mood nih. Untuk kemana-mana”
“Tapi mama tadinya bilang, mau beli Chicken Corn Soup. Ayo kalau mama mau, papa anterin”
“Enggak usalah pa”
“Kalau begitu, papa belikan untuk mama Chicken Corn Soup yang mama sukai”
“Ah, papa disini saja”
Maka lengkaplah saya hari ini dirumah, tidak kemana-mana. Bermula dari tertidur sampai membuat segalanya jadi loyo.
“Wah, mulai sekarang saya harus pasang kuda-kuda untuk tidak tertidur lagi” saya bertekad
[1] Cepati makanan yang dari tepung gandum, berbentuk bundar. Dan merupakan tradisional rakyat Pakistan.