Tuesday, July 29

Puasa

amirfath.com, Cerpen (22), Des 2020 – Istri saya besok mau puasa, malam ini ia sibuk sekali, kerjanya menyiapkan makan malam dan sekaligus makan sahur.

            “Mama” kata saya “mau puasa apaan besok ma?”

            “Biasa pa” jawabnya “Puasa Sunnah, besok kan hari senin”

            “O, iyaa ya ma”

            Saya sejenak berfikir, dibenak terlintas bayangan kataatan istri saya keapda Allah. Ia memang selalu saya lihat konsisten dalam beribadah, kalau datang waktu shalat ia tidak lagi menunda-nunda, ia langsung mengingatkan saya. Dan ia sendiri langsung mengerjakannya, bagaimanapun sibuknya saya menyaksikan kenyataan itu sungguh bahagia sekali. Di dalam hati terdetik rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang besar ini.

            Sebab, kalau saya pikir-pikir saya kawaing memang untuk mendapatkan teman yang bisa memabntu saya dalam mendekatkan diri kepada Allah, dan itu memang tujuan perkawinan bagi saya, pandangan ini mungkin agak berbeda dari pamdangan banyak orang. Namun saya melihat bahwa tujuan inilah yang benar karena kalau kita melihat rasulullah saw begitu memang cara kawinnya, didalam sejarah belum pernah disebutkan bahwa beliau kawin unutk keperntingan hawa nafsu. Toh sekalipun pada kenyataannya istri rasulullah berjumlah Sembilan namun tak satupun yang beliau kawin atas dorongan kepentingan pribadi. Sebut saja misalnya beliau kawin dengan Khadijah, kepentingannya bukan apa-apa, melainkan karena Khadijah adalah anak bangsawan yang terhormat, sehingga dengan demikian ia bisa menjaga keamanan Rasulullah dalam berdakwah, begitu juga beliau kawin dengan Aisyah, Hafshah dan seterusnya.

            Saya Alhamdulillah mendapatkan seorang istri yang agaknya dan mudah-mudahan bisa memenuhi tujuan yang saya inginkan, dan saya benar-benar tersentuh oleh ketaatannya tiu. Tidak itu saja, saya juga secara perlahan merasa terbimbing kepada hal-hal yang lebih baik dan lebih meningkatkan keimanan. Satu hal misalnya, kalau saya dulunya jarang bangun untuk melaksanakan sholat malam, sekarang bisa dikatakan sering dan bahkan mungkin hampir tiap malam. Ini jelas suatu kemajuan, lebih-lebihbyang namanya shalat jama’ah di Masjid itu tidak perlu ditanyakan lagi. Dan ini bukan sombong lho, tetapi dalam rangkan mengungkan nikmat Allah. Sebab Allah dalam Al-Qur’an memerintahkan kepada kita, agar kita tidak segan-seagn menceritakan nikmat yang telah kita terima wa’amma bini’mati rabika ahaddits [1]

            Sebelum subuh, istri saya bangun untuk sahur. Setelah itu ia shalat malam, dilanjutkan dengan mengaji Al-Qur’an sampai terbit fajar. Ketika adzan terdengar, saya segera berangkat ke Masjid,d isana saya sembahyang subuh berjama’ah, sementara istri saya sembahyang sendirian dirumah.

            Siang harinya istri saya, seperti biasanya kalau ia berpuasa, ia tidak bisa ngapa-ngapain. Pandangannya sayu, tubuhnya Nampak tak bertenaga kelihatannya mau tiduran saja. Tak ada yang bisa ia lakukan, kalaupun ia berusaha untuk baca buku, tapi itupun tidak langsung lama. Mungkin hanya seperempat jam, setelah itu ia tidur, saya tersenyum saja melihat istri saya.

            Setelah ia bangun, saya mencoba menggodanya :

            “Mama” kata saya “Kayfa hal[2] mama?” saya tersenyum dan mendekatinya. “Kucing juga bisa berpuasa, kalau tidur melulu”

            “Ah papa” kata istri saya sambil menggeliatkan tubuhnya “papa godain mama terus sih, tidur kan ibadah pa saat kita puasa”

            “Ibadah sih ibadah ma, tapi kalau kebanyakan tidurnya “

            “Ya, mama abru sepuluh menit pa tidur”

            “Sepuluh menit apaan ma, diam-diam mama meniru Ash-habul kahfi ya, yang mereka tidur tiga  ratus lima puluh tahun. Namun mengakui nya sehari atau setengah hari saja”

            “Iya dong sekali-kali”

            “Tapi jangan diterusin lagi ma, sekarang sudah hampir buka nih”

            “Masak ah pa”

            “Lihat jam nay dong!”

            Istri saya segera melihat jam, ternyata waktu sudah menghampiri Maghrib, ia segera bangun dan shalat Ashar, setelah itu ia segera masuk dapur. Dilihatnya dapur kosong, tidak ada yang bisa dimasak.

            “Pa, kita mau buka apaa pa?” katanya sambil tergesa-gesa

            “Memagnya kenapa ma?” kaat saya

            “Dapurnya lagi sepi nih”

            “Wah, kalau begitu bagaimana kita ngerjain Kak Hikmah, kita ziarah ke sana, sekaligus kita minta buka disana”

            “Kalau kita restoran? Gimana menurut papa?”

            “Restoran jauh am, lagian kita massih boke nih”

            “Okelah, mama setuju”

            Akhirnya kami segera berangkat ke rumah Kak Hikmah, kakak kandung istri saya. Dan Alhamdulillah, ketepatan mereka lagi masak untuk makan malam. Maka pas lah rencana yang kami inginkan, selesai kami buka, kami ngobrol disana sampaui larut malam. Setelah itu kami pulang kerumah, ditengah jalan raya saya bertanya kepada istri saya.

            “Mama” kata saya “apa yang mama arsakan dari puasa hari ini?”

            “Ya Alhamdulillah mama merasa lebih tenang” jawabnya

            “Lebih tenang gimana ma?”

            “Ya, puasa kan sebenarnya adalah ibadah untuk mendidik hati kita, yaitu bagaimana supaya hati kita selalu jujur, bersih, bebas daris egala penyakit yang mengotorinya seperti dengki, hasud, dan lain sebagainya. Nah kalau kita terus menerus berpuasa, kan otomatis penyakit itu akan hilang, dan kalau penyakit itu hilang kita pasti akan tenang. Karenanya Allah mengisyaratkan bahwa tujuan puasa itu adalah untuk mencapai titik takwa. Itu apa rahasianya pa? itu tak lain karena hakikat terdalam dari ketakwaan, adalah ketenangan sang hamba. Begitu kan pa?”

            “mengapa begitu ma?”

            “Kan memang demikian pa, artinya ketika seorang hamba telah mencapai titik takwa, ia ebrarti dekat kepada Allah, dan kalau ia dekat kepada Allah, ia otomatis akan tenang. Mengapa tidak pa, wong seorang yang edkat dengan presiden saja, ia merasa tenang kok dari berbagai ancaman polisi dan lain-lainnya. Nah, kita bisa bayangkan bagaimana kalau kita dekat degan Dzat yang menciptakan presiden itu, maka tentu lebih tenang. Dan tentu pula ketenangan ini lebih abadi”

            “Wah, diam-diam mama berfilsafat nih yee”

            “Iya dong”


[1] Artinya dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaknya kamu seanntiasa menyebutnya ( Q.s Adh-Dhuha 11 )

[2] Dikutip dari ungkapan Bahasa arab yang artinya : “apa kabar”

About Post Author