Populer
amirfath.com, Cerpen (21), Des 2020 – Di dorong oleh cita-cita ingin populer, kawan istri saya itu berlagak yang aneh-aneh. Kemarin ia menulis artikel di majalah kampus, isinya menjelek-jelekkan ulama yang sudah jelas tak terbantah pengabdiannya kepada Islam. Hari sebelumnya, ia menentang islam dianggapannya islam itu agama yang terlalu mengikat kaum wanita. Masak dunia waniat dibatasi katanya, ini kan melecehkan martabat kaum hawa. Ocehanya lebih lanjut, belum lagi sifat lainnya, sebelum itu ia menolak hadits-hadits yang sudah jelas shahih, dipandangnya hadits-hadits tersebut, terlalu mengucilkan kaum wanita, anehlah pokoknya. Hari ini lain lagi yang ia lakukan, ia menunjukkan artikelnya yang dimuat disebuah koran kepada orang-orang.
Lebih aneh lagi, ia mempunyai ego yang tinggi. Ia tidak suka menerima nasihat atau pendapat orang lain, pernah suatu hari kakaknya diminta untuk menegurnya, ia malah ngambek. Ia tidak suka lagi datang kerumah kakaknya, dan kalau kakaknya memberikan pandangan dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an, atau perkataan para ulama yang shaleh, ia menolak semua itu dengan pendapat orang-orang yang tidak jelas surganya, seperti plato. Artistotelis dan lain sebagainya.
Anehnya, ia mengaku muslimah. Tapi akhlaknya lebih buruk dari orang-orang yang tidak suka kepada Islam, lihat saja sikapnya ketika orangtuanya mengasi pandangan-pandangan untuk kemashlahatan dia di masa depan. Apa yang ia perbuat, ia malah tidak menghiraukan pandangan orangtuanya dengan sikap yang tidak sewajrnya di lakukan seorang anak. Lebih-lebih ia seorang wanita.
Apa yang ia inginkan, kawan-kawannya bertanya-tanya kalau ingin populer, masak begitu caranya. Dr, Yusuf Al-Qardhawi populer, tapi ia tidak bersikap seaneh itu. Da kalau ia menginginkan contoh dari sorang wanita, lihat saja Zainab Al-Ghazali, ia juga populer. Tapi caranya yang ia lakukan tidak mengurangi ketaatannya keapda Islam. Wal hasil, rame sekali desas-desus yang muncul dari mulut kawan-kawannya.
Sebagian kawannya menganalisa, bahwa ia mungkin ingin jadi tokoh feminize. Seperti Dr Rifat Hasan, tapi kawannya yang lain lagi segera mengomentari. Masak yang dicontoh orang yang begitu-begitu, ya jelas kalau sikapnya aneh-aneh. Coba, kalau yang dicontoh wanita-wanita shohabiyah. Itukan jelas syurganya, lho wong dia tidak ingin masuk syurga kok. Kata yang lain lagi, dia hanya ingin populer, titik.
“Wah, macam-macam ya Pa. manusia?” Komentar istri saya ketika mendengar khusus kawannya itu.
“Ya namanya manusia, ma” jawab saya “kalau enggak macam-macam, ya bukan manusia”
“Tapi menurut papa, gimana memandang khusus tersebut?”
“Ya, kasus itu adalah kasus yang sering terjadi. Dan itu wajar. Hanya tidak wajarnya, kalau itu terjadi pada seorang muslimah, mahasiswi Islam lagi. Ini yang menjadi persoalan”
“Persoalannya dimana pa?” Istri saya pura-pura mengejar sepeerti seorang wartawati
“Ah, mama kaya enggak tahu aja. Masak seorang yang mengaju Islam, pekerjaannya mempereteli Islam yang ia percayai, itukan aneh ma. Seperti seorang mengaku dirinya manusia tapi sikap-sikapnya seperti binatang, itukan jelas aneh. Oke, bolehlah ia beralasan untuk melakukan pembaharuan dalam Islam, tapi masak cara menghancurakan Islam. Seperti seorang yang ingin beruma tangga, tapi caranya ia memukul istrinya habis-habisan. Masak benar begitu? Ini jelas, merupakan cara yang tidak sesuai, dengan fitrah manusia. Siapapu yang berpikir normal, ia akan menolak cara bersikap semacam ini”
Istri saya agaknya mengakui kebernaran apa yangh saya katakana, kepalanya mengangguk-angguk.
“Dan masalahnya lagi ma” saya melanjutkan pembicaraan “kalau ia mengaku muslimah, ia berarti dihati kecilnya ada cita-cita ingin masuk syurga. Apalagi ia mengaku bahwa ia ingin berbuat untuk Islam, ia tentu menginginkan kebahagiaan abadi. Dan ini papa yakin, tidak mungkin ia pungkiri sekalipun secara lisan ia bersikap ingkar. Sebab boleh jadi, ia masih dipengaruhi oleh hawa nafsunya. Karena gensi kek atau apa, yang jelas ia tetap mempunyai cita-cita ingin masuk syurga. Nah, sekarang anehnya ia tidak suka meniru kehidupan ahli syurga. Bahkan ia menolak hadits-hadits Rasulullah yang harus ia jadikan panutan, nah kalau begitu Islam seperti apa yang ia inginkan. Memangnya ia menerima wahyu, sehingga sehari-harinya ia menolak hadits-haditslah yang sudah jelas benar kedudukannya”
“Tapi kalau ia beralasan, bahwa ia berhak untuk memahami dan menafsirkan ayat-ayat sesuai dengan kehendak akalnya. Bagaimana komentar papa?”
“Wah kayanya mama benar-benar berbakat jadi wartawati, begini ma akal itu kemampuannya terbatas. Apalagi yang akan ditelurusri akal adalah nash-nash yang datangnya dari Allah. Itu tidak membutuhkan sekedar akal. Melainkan harus ada proses sebelumnya, bagaimana mungkin orang-orang yang jauh dari Allah, hisa memahami spirit firman Allah. Bagaimana seorang yang tidak sepernuh ya mentaati Allah, mau menyusun pemahaman dari Firman Allah. Ya, mungkin sih mungkin tapi kemungkinan tidak benarnya, bisa dikatakan seratus persen. Seperti seorang yang tidak pernah belajar berenang, kemudian ia memberanikan diri melompat dengan tangan kosong ke dalam lautan, tentu dong tenggelam. Nah, disini begitu juga masalahnya, dan itu baru lautan. Sekarang bagaimana kalau lautan itu adalah lautan Al-Qur’an, tentu sangat membutuhkan proses yang panjang, lihat saja bagaimana para mujtahid agung, seperti Imam Abu Hanifa, Imam Maliki, Imam Hambali, dan Imam Syafi’i. pelajari coba riwayat hidupnya, kita pasti akan menyaksikan bahwa mereka tidak sekedar mengandalkan kemampuan akal. Melainkan meraka sungguh mempunyai tingakt ketakwaan yang tinggi. Jauh lebiih tinggi dari kemampuan akalnya, lain dengan orang-orang sekarang ma. Baru saja menulis satu artikel,a tau sebuah bukum sduah mengaku oemikir. Mengaku pembaharu lagi, pemikiran dan pembaharuan apapun itu. Memangnya membaharui kehidupan hanya cukup dengan artikel, kalau begitu Rasululalh ngapain capek-capek berjihad. Artikel itu hanya satu cara terkecil untuk berdakwah,d an bukan satu-satunya ada yang paling pokok dari semua cara itu. Ialah revolusi akhlak dan disinilah rahasia keberhasilan dakwah Rasulullah”