Di Atas Jembatan Gantung
amirfath.com, Cerpen (25), Des 2020 – Pagi itu suasana perkampungan sangat sepi. Tidak seperti biasanya jalanan yang tadinya ramai dan terdengar suara anak-anak kecil di sana sini, kini benar-benar lengang. Memang waktu itu masih dalam bulan Ramadhan di mana mereka biasanya istirahat sesudah shalat subuh. Seorang Ustadz keluar bersama para santrinya menelusuri gang-gang rumah yang sempit. Di sebuah jembatan kecil Ustadz itu berhenti sejenak. Pandangannya tertuju pada air yang mengalir di kali. Tiba-tiba Ustadz nampak terdiam. Para santripun terhenyak. Seakan ada pesan yang akan disampai. Beberapa lama Ustadz tidak berkata-kata. Para santri tetap memandang kepada Ustad. Seperti menunggu pesan yang akan di sampaikan. Namun kalimat dari bibir Ustadz tidak kunjung terucap.
“Anak-anaku” Kata Ustadz sambil memandang ke arah kali. “lihatlah air yang mengalir ini. Nampak keruh dan berbahu. Sampah nangkring di tepiannya, menyangkut kepada pohonan dan dinding kali. Kira-kira kalian mau gak mandi di kali ini?”
Semua menjawab : “Tidak”. Dari ekspressi muka para santri bermacam-macam. Ada yang menutup hidungnya. Ada juga yang meringis karena saking jijiknya melihat air tersebut.
“Subhanallah” gumam Ustadz. “Di sini kita belajar bahwa setiap yang kotor menjijikkan”
“Benar pak Ustadz” kata santri serentak.
“Tapi pelajaran kita tidak berhenti di sini” Kata Ustazdz lebih lanjut.
“Memangnya ada lagi Pak Ustadz?”
“Ya ada”.
“Tambah lagi Pah Ustadz. Kita haus Ilmu”
“Dingarkan baik-baik anak-anaku”
Para santri terdiam. Perhatian mereka fokus memandang wajah Ustadz. Mareka teringat pesan yang sering diulang Ustadz dalam setiap kesepatan: “al ‘uyuunu malaa’iqul kalam” (pandangan itu sendok pembicaraan). Bahwa ilmu itu tidak akan masuk ke dalam hati orang yang sombong. Allah tidak pernah menciptakan dua hati dalam diri seseorang. Maka tidak mugkin seorang dapat ilmu sekalipun dalam majelis taklim tetapi pikirannya sibuk dengan pekerjaan lain. Dalam diri mereka tergambar betapa ilmu itu sangat agung. Apalgi ilmu agama yang akan menjadi bekal menuju akhirat. Memang semua ilmu itu penting. Tetapi kenyataannya ada ilmu yang tidak diminati banyak orang yaitu ilmu agama. Adapun ilmu dunia orang-orang kafirpun berlomba mencarinya. Jadi untuk ilmu dunia tidak perlu di dorong, orang-orang dengan sendirinya sudah bersaing mendapatkannya.
“Ada pelajaran lain lagi wahai anak-anaku” Tegas Ustadz lagi.
Para santri masih tetap arahkan perhatian kepada Ustadz. Sekalipun kadang terganggu oleh sepeda motor yang lewat, tapi mereka tetap fokus.
“Bahwa kotoran itu sama dengan dosa”. Kata Ustadz lagi.
Para Santri terdiam seperti ada pertanyaan dalam benak mereka. “Maksudnya apa? Mengapa kotoran itu sama dengan dosa”. Lalu Ustadz melajutkan penjelasannya : “Anak-anakku Ketika Nabi Isra’ Miraj sempat melihat seorang yang didepannya ditawari dua piring daging. Satunya daging yang segar dan menggiurkan sementara satunya daging yang busuk penuh dengan ulat. Tetapi orang itu lahap makan daging yang busuk dan menjijikkan. Sementara daging segar dibiarkan. Lalu Malaikat Jibril menjelaskan bahwa itu adalah para penzina. Mereka mengambil pasangan yang kotor dan menjijikkan sementara para istri yang bersih dan halal diabaikan”.
“Oh, begitu toh maksudnya” kata para santri.
“Belum selesai di sini”. Kata Ustadz.
“Ada lagi Pak Ustadz” Kata para santri.
“Bahwa apapun jika setiap saat diisi kotoran dan dibiarkan kotor, lama kelamaan itu akan menjijikkan. Buktinya kalian tidak mau mandi di kali ini”.
“Benar Ustadz” kata Santri.
“ Sama dengan diri kita “ kata Ustadz lebih lanjut. “Kalau setiap hari diri kita ini diisi kotoran dan dosa-dosa lama kelamaan orang akan jijik”.
“ Allah Akbar “ kata para santri serentak.
Di sini para santri menemukan ilmu yang luar biasa. Hal yang selama ini tidak pernah mereka perhatikan ternyata di situ ada ilmu yang sangat dalam. Mereka teringat firman Allah yang berulang-ulang berpesan agar selalu melihat alam sekitar. Melihat langit dan bumi, melihat pohonan dan keadaan. Serta melihat kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa. Dalam semua itu sungguh ada hikmah yang tidak akan pernah kita temukan di buku-buku manapun. Selama ini banyak orang menyangka ilmu itu hanya dalam buku. Ketika tidak baca buku tidak dapat ilmu. Akibatnya setiap yang mereka lihat diabaikan begitu saja.
Dulu para ulama justru banyak yang menulis buku dari apa yang mereka lihat. Karenanya buku-buku mereka tebal dan menghidupkan jiwa. Sebab yang mereka tulis adalah sesuatu yang hidup. Imam Ar Razi hidup dalam tradisi ilmu kalam. Waktu itu sedang berlangsung perdebatan filosofis yang sangat mengandalkan kekuatan rasional. Maka buku-buku beliau penuh dengan kaidah-kaidah ilmu kalam. Istilah ilmu kalam ini untuk zaman sekarang memang kurang dikenal. Maksudnya adalah ilmu yang membahas masalah-masalah akidah dengan pendekatan akal. Maka siapapun yang ingin paham tafsir Imam Ar Razi dianjurkan agar belajar ilmu kalam.
Ada lagi tafsir yang ditulis dari sudut penjara. Seorang juru dakwah yang mengalami tekanan tidak saja secara fisik tetapi juga secara psikologis. Maka dari perasaannya yang menggelora membela kebenaran lahirlah tafsirnya yang menggerakkan iman. Inilah Ustadz Sayyed Qutub dengan kitab tafsirnya “fii zhilalil Quran” di bawah naungan Al Quran. Artinya bahwa apa yang kita lihat dan kita rasakan adalah sumber ilmu. Karenanya jangan mengabaikan sekecil apapun yang kita lihat di sekitar kita. Memang kebanyakan manusia hampir selalu menganggap remeh sesuatu yang sudah biasa mereka lihat. Seperti matahari, bulan, langit dan bumi. Padahal semua itu adalah hakikat yang luar biasa. Tetapi karena sudah dianggap biasa maka dibiarkan lewat begitu saja.
Itulah mengapa Allah swt. selalu bersumpah dalam Al Quran dengan makhluk-makhlukNya. Bersumpah dengan buah At Tin dan buah Az Zaitun, langit dan bumi, siang dan malam. Itu tidak lain supaya kita segera menyadari bahwa semua itu adalah kenyataan yang luar biasa. Seharusnya kita setiap saat memuji Allah swt. Tatapi sayang karena kelalaian akibatnya semua hakikat besar yang setiap saat terjadi di depan mata kita hilang begitu saja. Padahal Allah swt. mempunyai maksud besar dalam mempersaksikan segala kejadian. Yaitu agar kita selalu berterimaksih kepadaNya. Dalam Bahasa Al Quran berterimakasih ini disebut dengan syukur. Para ulama menyimpulkan bahwa tugas pokok seorang hamba Kadapa Allah swt. adalah bersyukur. Jika tidak mau bersyukur otomatis kufur. Itulah mengapa dalah Al quran Allah swt. menegaskan bahwa kata syukur sebagai lawab kata kufur : “lain syakartum la aziidan nakum wa lain kafartum inna adzaabi lasyadiid”.