Monday, July 21

Bahaya Bermegah-megahan

amirfath.com, Opini (08), Des 2020 – Dalam surah At Takaatsur Allah swt. mengancam orang-orang yang bermegah-megahan dengan dunia (at takaatsur). Asal kata at takaatsur diambil dari kata takaatsra yatakaatsaru artinya memperbanyak. Al Qur’an menggunakan istilah ini untuk makna bermegah-megahan yang melalaikan kepada Allah. Dalam surah Al Munaafiquun:9 Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Ayat ini dipertegas lagi dalam surah at takaatsur, Allah berfirman: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Dari sini nampak bahwa yang dimaksud dengan bermegah-megahan dalam Al Qur’an adalah (a) bermegah-megahan dengan harta. (b) bahwa bermegah-megahan yang dilarang adalah bermegah-megahan yang melalaikan kepada Allah. Mengapa sikap at takaatsur dianggap melalaikan kepada Allah? Dari sikap at takaatsur skan lahir sikap-sikap tercela sebagai berikut:

Pertama, at takabbur (sombong). Seorang yang sibuk memperkaya dirinya sendiri dan mengabaikan kewajibannya kepada orang lain, akan cendrung menjadi sombong. Dalam al alaq: 6-7 Allah berfirman: Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Perhatikan betapa dari sikap bermegah-megahan seseorang mudah terseret menjadi sombong. Ingat bahwa Allah sangat membenci orang yang sombong. Karena ketika seorang sombong ia telah menganggap dirinya sama dengan Allah. Ia merasa dirinya tinggi setinggi Allah. Karena itu orang yang sombong disebut lupa daratan. Sebab ia merasa kakinya tidak berjalan di atas bumi. Ia memandang semua orang lain dibawahnya. Di hari kiamat nanti di padang mahsyar – dalam sebuah hadits- orang yang sombong akan dikumpulkan menjadi paling keciul badannya seperti semut. Ia penuh ketakutan. Takut diinjak-injak orang disekitarnya.

Kedua, al bukhl (kikir). Seorang yang bermegahan-megahan dengan harta cendrung akjan bersikap kikir. Mengapa? (a) ia akan selalu menghitung-hitung harta. Allah berfirman dalam surah Al Humazah: 2, “yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya” (b) ia yakin bahwa hartanya akan membuat usianya semakin kekal. Allah berfirman:  dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya (Al Humazah:3). Dari keyakinan semacam ini seorang manusia at takatsur akan sulit memberikan bantuan kepada fakir miskin. Sebab baginya membantu fakir miskin akan mengurangi jumlah harta kekayaan yang ia punya. Padahal setiap bantuan tidak akan mengurangi jumlah hartanya, melainkan justru akan membuat kekayaannya semakin berkah.

Ketiga, al kufr bil akhirah  (inkar kepada akhirat). Dalam surah al maa’uun Allah berfirman:  “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”. Dari sini nampak bahwa ketika seseorang bermegah-megahan ia telah yakin bahwa dunia adalah segala-galanya. Akhirat bukan tujuan. Karenanya ia menjadi bakhil. Sikap bakhil inilah yang membuat hatinya keras dan sulit membantu anak yatim dan fakir miskin. Wallahu a’lam bishshawab.  

About Post Author