Catatan 2
amirfath.com, Cerpen (04), Des 2020 – Sekembalinya dari Makkah, saya melihat suasana rumah seperti biasa-biasa saja. Saya melihat istri saya, seperti tak terjadi apa-apa. Jadinya saya tak terlalu menaganggap ada persoalan serius salaam saya berada di tanah suci itu. Jadinya pula saya bertemu dengan istri saya dalam keadaan yang penuh kebahagiaan. Mesra, semesra pengantin di malam pertama.
Begitulah suasana kebahagiaan ini saya nikmati, sampai satu bulan berlalu tanpa saya rasakan.
Namun suatu hari, ketika istri saya berangkat kuliah, saya menemukan buku diarinya, tergeletak begitu saja di atas tempat tidur. Iseng-iseng saya membuka buku diary itu. Tak disangka ternyata di antara beberapa catatan yang terdapat disitu, saya mendapatkan suatu catatan yang sangat menyentuh hati saya. Catatn itu sangat mewakili keadaan psikologis istri saya selama sebulan saya meninggalkannya ke Makkah, isinya begini :
“Pa. Subhanallah, betapa Allah ciptakan cinta itu sebagai karunianya yang sangat besar. Kepergianmu ke Makkah, sungguh memperlihatkan betapa cinta itu Nampak lebih besar dari biasanya… mama kangen pa. Rasanya sulit bagi mama untuk melupakanmu. Padahal mama harus menghadapi ujian pertengahan semester. Mama tidak bisa belajar dengan tenang. Sepi sekali rasanya. Padahal baru empat hari papa di tanah suci, entah apa yang mesti mama perbuat, besok pagi ada miditest. Sedangkan perasaan kangen tak bisa dihindari.
“Pa, mama ingin mendengar suara papa melalui telepon, semenit saja. Papa sibuk yah? Pa? pa? Mama juga tidaak mengerti mengapa air mata ini kok tiba-tiba sulit dibendung hari ini. Padahal mama sedang belajar, rasanya semua sudah mama baca. Tapi pikiran mama ngelantur ke papa. Habis papa tega sih enggak nelpon. Mama bingung enggak karuan..
“Ya Allah Pa, mama sunggu nangis terus. Mama malu sama tetangga. Mama tidak uat di kamar sendirian, akhirnya mama lari ke kamar tetangga. Biar bisa ketawa disana. Tapi mama tidak bisa lama-lama disana. Pa, kenapa sih engga kangen mama? Masak sih sibuk. Enggak ada waktu istirahat sedikitpun, untuk di sisihkan nelpon ke mama?”
Dibawah ungkapan ini tercatat tanggal 23 Maret 1998. Sya memang take off tanggal 19 Maret 1998. Namun sesampainya saya di Makkah, saya menemukan kenyataan yang belum prnah saya bayangkan sebelumnya. Saya disana selama sepuluh hari hidup terlantar. Tidak menemukan tempat untuk membarungkan tubuh kecuali di halaman Masjid Al-Haram. Apalagi untuk mendapatkan makanan. Saya hanya bisa nebeng ke kawan-kawan yang mempunyai nasib lebih baik daripada saya. Lebih-lebih untuk nelpon istri saya, saya pada waktu itu belum kebayang sama sekali. Dari mana saya harus mendapatkan biaya untuk membayar telpon.
Memang kata orang, menelpon dari Makkah relative kebih murah daripada nelpon dari negeri lain. Namun pada waktu itu saya memang benar-benar tidak punya uang sampai sejumlah yang dianggap murah tersebut. Karenanya, ketika saya tidak nelpon, bukannya saya tidak kangen. Malainkan karena kondisi saya memang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa dalam keadaan kritis.
Tapi Alhamdulillah, setelah sepuluh hari itu, saya mendapatkan pekerjaan yang lumayan. Saya bekerja sebagai pembimbing bagi jama’ah haji yang datang dari Indonesia. Dari pekerjaan itulah saya mendapatkan secuil gaji. Dan dari gaji itulah saya kemudian bisa menelpon istri saya.
Pertamakali, ketika saya mendengar suara istri saya lewat telpon, hanya mengulang-ulang ungkapan “kangen”, saya menanggapinya biasa-biasa saja. Di hati saya tak sedikitpun terbayang kalau istri saya benar-benar sekian lama telah dirundung perasaan kangen yang demikian dalam. Namun setelah saya baca catatan itu, saya baru benar-benar mengerti, bahwa istri saya ketika menyatakan kangen saat lewat telpon, itu ternyata adalah luapa kekangenan yang sudah sekian hari terendam. Sedemikian rupa, sehingga ia tidak bisa sama sekali menyatakan sesuatu kecuali hanya kata “kangen” dalam telpon itu.
Karenanya, ketika saya membaca catatan itu, saya seketika di gerayangi perasaan berdosa. Hati saya luluh, airmata tiba-tiba menetes satu persatu. Rasanya tak sanggup untuk menanggung keperihan yang diderita istri saya selama itu.
Tapi apa boleh buat. Bagi saya konsep berlama-lama dengan kesedihan bukanlah jalan keluar. Saya harus segera menggantikannya dengan kegiatan lain. Saya harus pandai mencari celah dimana saya bisa menghibur dan membahagiakan istri saya. Untuk itu saya selalu melongarkan suasana keseharian dalam kehidupan berumah tangga. Kalau dulunya saya bersama keluarga hanya sebulan sekali berjalan-jalan. Sekarang seminggu sekali, kadang selesai kuliah, saya langsung mengajak istri saya menikmati “chicken corn shop” di pusat pertokoan yang tidak begitu jauh dari pemondokan.
Selebihnya, saya hanya bisa menyelipkan sebuah catatan dalam diari istri saya itu. Bunyinya : “Ma, Papa mohon maaf. Papa sungguh terenyuh ketika membaca catatan ini. Papah tahu bahwa mama mencintai Papa. Toh, sekalipun papa sering terlalu sederhana menyikapi mama. Sering apa adanya hidup bersama mama. Tapi papa sungguh cinta mama. Papa cinta mama. Papa cinta mama. Dan mama jangan ragu dalam hal ini. Mari kita saling membantu dalam menyusun startegi untuk kebahagiaan kita bersama…”