Feminisme
amirfath.com, Cerpen (05), Des 2020 – “Islam betul-betul merendahkan derajat kaum wanita” kata seorang kawan istri saya tiba-tiba di depan kawan-kawannya, “saya memang tetap mengakui sebagai muslimah. Tetapi dalam beberapa hal saya tidak mau mengikuti ketentuan-ketentuan Islam. Masak laki-laki di tentukan mempunyai derajat lebih tinggi dari wanita. Padahal saya sendiri dalam banyak kemungkinan mempunyai kelebihan dari pada laki-laki. Tidak hanya saya, di sana banyak wanita-wanita yang mampu memimpin negara. Katakanlah seperti Benazir Bhutto, Qary Aquino dan lain sebagainya. Belum lagi dalam masalah ketentuan harta warisan. Islam ternyata bertindak tidak adil dalam hal ini. Masak kaum wanita mendapatkan bagian lebih sedikit dari pada laki-laki. Ini kan jelas tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang. Kalaupun alasannya, karena laki-laki bertanggung jawab atas nafkah keluarganya, sekarang kita saksikan banyak wanita-wanita yang justru bekerja keras untuk menghidupi family dan keluarganya. Dan boleh jadi jumlah mereka tidak kalah banyak dengan numlah laki-laki yang bekerja. Coba, kalau tidak percaya adakan sensus, di pabrik-pabrik. Dikantor-kantor swasta. Di perusahan-perusahaan. Di lembaga-lembaga pemerintahan. Ini jelas bahwa ketentuan ketentuan Islam itu harus di kaji ulang, atau ditafsirkan kembali sesuai dengan kebutuhan zaman.”
Begitu semangat ia menyampaikan uneg-unegnya itu. Kawan-kawannya termasuk istri saya, menyimpulkan bahwa anak gadis yang satu ini memang berambisi keras untuk menjadi tokoh feminism. Dia agaknya satu-satunya yang paling menonjol untuk ikut-ikutan orang barat. Kata sebagian mahasiswi yang sempat mendengarkan kata-katanya yang membingungkan. Sebagian yang lain mengomentari juga, bahwa ia keterlaluan menyikapi Islam secara negative. Amsak sampai melebihi orang yang barat yang tidak percaya Islam. Mereka saja tidak sampai ke tingkat seperti itu memandang Islam.
Melihat gejala yang demekian tidak menyenangkan itu, istri saya segera mengambil tindakan. Kali ini ia berlagak seperti pahlawan. Hari itu istri saya menemui kawannya yang nyeleneh itu.
“Mbak kok gitu sih?” istri saya langsung menembaknya dengan nada santai.
“Memangnya kenapa?” kata kawannya. Ia seakan tidak tahu menahu terhadap apa yang terjadi.
“Ah, embak masak tidak merasa. Lihat saja kawan-kawan embak itu. Mereka semua tersinggung. Mereka sakit hati”
“Memangnya saya menyinggung mereka? Setahu saya, enggak pernah saya melakukan itu”
“ya. Kalau menyinggung mereka sih enggak, tapi kalau menyinggung akidah mereka itu benar terjadi”
“Menyinggung akidah bagaimana?”
“Ya, menyalah-nyalahkan Islam. Itukan berarti menyinggung akidah mereka”
“saya tidak menyalahkan Islam. Hanya saja saya melihat bahwa di antara ajaran Islam itu harus ada yang di kaji ulang”
“O, begitu. Memangnya kenapa ajaran Islam?”
“Ya, tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang”
“Yang tidak sesuai apanya?”
“Kalau menurut kajian saya sementara ini, ya masalah berkaitan dengan kaum wanita”
“memangnya kenapa kaum wanita sekarang?”
“Mereka kan sudah mengalami perubahan, secara sosisal mereka kini banyak mengendalikan peran yang dulunya hanya dilakukan laki-laki”
“Jadi maksudnya embak ingin mengubah ajaran Islam dan disesukai dengan zaman sekarang”
“Mengubah sih enggak, menafsirkan saja”
“Ya, menafsirkan kalau sampai terlalu jauh dari makna yang sebenarnya, kan sama saja dengan mempreteli ajaran Islam. Mempreteli berarti juga mengubah apa yang sudah ada. Jadi kalau embak memaki istilah menafsirkan itu hanya memperhalus Bahasa saja”
“Ya, memangnya kenapa?”
“Itu jelas keterlaluan mbak, maka wajar kalau mereka tersinggung. Saya pun tersinggung”
“Tersinggungnya kenapa?”
“Ah, masak sih embak enggak punya perasaan?”
“Benar nih, saya enggak merasa”
“Lho, saya kan ingin berbuat untuk Islam. Saya ingin merombak pemikiran yang selama ini jumud dan kaku. Saya ingin menyodorkan kepada umat ini sesuatu yang terbaik untuk kemajuan yang harus mereka capai”
“Tapi embah tahu enggak, bahwa gagasan embak itu banyak yang menentangnya?”
“Iya, tahu. Sayapun kalau sendirian sering dihantuan pertanyaan-pertanyaan. Kenapa pikiran-pikiran saya itu tidak diterima. Padahal niat saya baik, saya benar deh ingin berbuat untuk kemajuan Islam.”
“Ya, kalau niat embak baik. Caranyapun harus baik, masak embak ingin berbuat baik caranya menghancurkan kebaikan. Itu jelas keliru”
“Kelirunya dimana?”
“Coba embak renungkan, yang menciptakan embak siapa?”
“Allah”
“Kalau begitu mana lebih tahu antara emba dengan Allah tentang segala kondisi yang embak butuhkan?”
“Ya, lebih tahu Allah”
“Kalau begitu, mana yang embak dahulukan antara hukum Allah dengan hukum yang dibuat otak embak sendiri?”
“Ya, tentu saya dahulukam hukum Allah”
“Mengapa?”
“Karena hukum itu pasti yang lebih cocok untuk kenyataan diri saya.”
“Tapi mengapa embak kok masih sibuk-sibuk mencari hukum yang lain. Padahal hukum Allah itu sudah begitu jelas dan rinci mengenai bagaimana seharusnya wanita? Embak pingin meniru orang barat? Ya, kalau mau meniru orang barat janagn setengah-setenga. Seperti kalau mau mandi basahkan saja, begitu juga kalau embak pingin jadi seorang muslimin, jangan setengah-setenga. Di dalam Islam tidak ada madzhab yang setengah-setangah. Jadi Imma Islam secara total. Atau kafir secara total”
“Memangnya kenapa?”
“Ya, setiap setengah-setenagh itu tidak jelas. Dan hal yang tidak jelas itu syubhat, syubhat itu hukumnya haram” Akhirnya ia terdiam, pikirannya buntu. Ia tidak punya alasan lagi. Jadi ternyata ia berbicara itu hanya modal meniru-niru saja. Ikut-ikutan, pingin dibilang hebat. Dan lain sebagainya, yang ujung-ujungnya menyembul di perut feminism.