Saturday, August 16

Catatan 1

amirfath.com, Cerpen (03), Des 2020 – Sebelum berangkat kuliah, istri saya meninggalkan sebuah catatan. Kali ini ia menulisnya dengan Bahasa Inggris. Isinya mengenai kecapean yang ia rasakan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sehari-hari. Dari sejak ia berangkat kuliah sampai ia balik ke rumah. Belum lagi masalah yang berkaitan dengan urusan. Urusan masak, urusan nyuci pakaian dan lain sebagainya.

            Memang saya sering mendengar dari celetukan yang ia sampaikann saat kami lagi santai. Bahwa ia ingin seorang pembantu, terutama untuk menyuci pakaian dan membersihkan kamar mandi. Hanya saja, saya tidak menanggapi dengan serius. Karena dalam pikiran saya masalah mencuci pakaian dan lain sebagainya, itu bisa diatasinya sendiri. lebih-lebih jika melihat keadaan saya secara ekonomi. Agaknya sangat tidak memungkinkan untuk memanggil dan menggaji seorang pembantu.

            Saya berpikir agak lama ketika membaca catatan istri saya itu. Perasaan saya terenyuh, saya memang memahami kalau ia sangat capek. Apalagi setelah kampusnya pindah dengan jarak yang lumayan jauh dari rumah yang saya diami. Belum lagi kalau bis jemputan universitas kepenuhan. Istri saya, seperti yang ia sering ceritakan, selalu berdiri selama satu jam perjalanan.

            Tapi apa boleh buat, kenyataan yang harus kami jalani memang demikian. Saya hanya bisa memberikan semacam dorongan kepadanya untuk selalu sabar. Dan kenyataan seperti ini tidak hanya dihadapi istri saya. Istri kawan saya yang lagi kuliah juga mengalami hal yang sama. Hanya saja, memang ada diantara kawan saya yang tertakdirkan lebih mampu secara finansial, sebagian ada yang mempunyai sepeda motor. Dan sebagian yang lain ada yang mempunyai mobil. Tapi, masa saya harus melirik kepada mereka yang kaya itu. Tentu tidak dong, islam selalu mengajarkan bahwa saya harus senantiasa melihat kepada yang lebih miskin dari pada saya. Agar saya terus syukur atas nikmat yang saya terima.

            Toh, saya tidak pernah sedikitpun dihinggapi rasa iri terhadap rizqi yang diterima kawan saya itu. Sebab bagaimanapun yang membagi rizqi itu adalah Allah. Dan Allah Maha Bijaksana, maka tentu apa yang saya dapatkan dari sebagian rizqi itu, adalah yang terbaik bagi saya. Karenanya, saya selalu bertanya kepada istri saya setiap kami lagi jalan-jalan, atau ziarah ke rumah kawan dengan berjalan kaki. Bertanya apa yang ia rasakan selama ia hidup bersama saya. Apakah ia merasa bahagia atau tidak. Atau merasa tertekan secara psikologis, karena saya dalam banyak hal tidak bisa memenuhi keinginannya. Terutama dari segi material. Namun, selama itu belum pernah saya mendengar jawaban negative. Istri saya selalu bercerita bahwa ia merasa bahagia dengan saya. Bahkan kalau suatu saat salah seorang kawannya bertanya kepadanya, ia menjawab seperti apa yang ia jawabkan kepada saya.

            Ya, saya sendiri hanya bisa berhusnuzhan atas sikap istri saya itu. Ssebab saya yakin bahwa ia juga memahami kondisi saya. Karenanya, ia jarang sekali atau boleh dikatakan tidak pernah meminta hal-hal yang membebani kemampuan saya. Ia mau saja kalau saya ajak kemana-mana dengan mengendarai kendaraan umum. Dan ketika saya tanya, apakah ia merasa gengsi, ia menjawab tidak. Berarti ia masih tetap tabah atas segala hal yang harus dijalani bersama.

            Terus, masalah catatan ini, ya saya juga memandangnya dari sisi yang paling positif. Sebab selama ini, saya belum pernah merasakan ada kerengganggan komunikasi antara saya dengan dia. Saya bersamanya akrab-akrab saja, tak ada sedikitpun yang mengganjal. Saya terbuka dan diapun terbuka. Dalam banyak kesempatan kami sering bercanda, dan rupanya memang demikian redaksi yang bisa saya tangkap derai catatannya. Tak ada sedikitpun nada mengeluh, atau mangkel kepada saya. Toh sekalipun dia menyinggung sikap saya dalam catatan itu, ia memaparkannya dengan apa adanya. Tak ada yang ditambah-tambah. Dan taka da yang disertai emosi.

            Apalagi ketika saya membaca bagian akhir dari catatan itu. Saya semakin yakin bahwa istri saya benar-benar seorang wanita yang tabah. Coba simak dia berkata :

            “ I Just pray to God. May Allah give me the abilities to do my duties. May Allah bless me in all of my works. And may Allah give me the holy heart. So that I be the mokhlisoh “

            Ia agaknya, memang ingin bercerita semua ini hanya kepada Allah. Bukan kepada siapa-siapa. Dengan harapan agar kelak selalu dikaruniai barokah dan pahala yang setimpal dari segala amal yang ia lakukan.

            Ini tentu suatu kesadaran yang tinggi. Dan saya sangat memahaminya kalau ia berkata demikian. Sebab akhir-akhir ini kondisi tubuhnya memang agak lemah, ia sering sakit. Dan saya selalu mengatarkannya ke dokter spesialis. Maka wajar kalau ia menagadu seperti itu kepada Allah. Sebab bagaimanapun pekerjaan mundar-mandir sejauh itu untuk urusan kuliah, ditambah lagi dengan urusan rumah, adalah tetek bengik yang mencapekkan.

            Sementara saya tidak bisa berbuat lebih. Kalau menghentikan kuliahnya, itu bukan jalan keluar. Dan kalau saya yang menangani segala urusan rumah, ini malah semakin fatal. Saya tidak bisa ngapa-ngapain jadinya, ini  masih agak ringan, karena kami masih belum punya anak. Nah kalau punya anak, ini malah tambah berat. Kawan saya beberapa hari lalu telah menarik istrinya dari bangku kuliah. Alasannya, karena anak tidak ada yang mengurus, sementara suaminya harus segera menyelesaikan tesis.

            Wah, pokoknya persoalan ini rumit deh. Dalam hal ini saya hanya bisa menulis sebuah catatan untuk istri saya “semoga sabar, semoga cepet selesai kuliahnya dengan ilmu yang manfaat, semoga berkah hidupnya, semoga sehat lahir batin dan semoga di terima semua amalnya dengan balasan syurga di sisi-nya. amien “

About Post Author