Friday, August 22

Bekal Utama Aktivis Dakwah

amirfath.com, Artikel (05), Nov 2020 – Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (QS. 41: 33-35).

                Ayat di atas merupakan bekal utama bagi para aktifis da’wah di jalan Allah (da’i) agar selalu semangat dan istiqamah, tidak pernah gentar dan getir, senantiasa menjalankan tugasnya dengan tenang, dan tidak emosional. Ayat tersebut diletakkan setelah, sebelumnya, di awal surat Fushilat, Allah menggambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima ajaran Allah. “Mereka mengatakan: hati kami tertutup, (maka kami tidak bisa menerima) apa yang kamu serukan kepadanya, pun telinga kami tersumbat, lebih dari itu di antara kami dan kamu ada di dinding pemisah” (QS. 41:5).

                Bisa dibayangkan bagaimana beratnya tugas dakwah jika yang dihadapi adalah orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran, tidak mau diajak kepada kebaikan, lebih dari itu ia menyerang, memusuhi dan melemparkan ancaman. Setiap disampaikan kepada mereka ajaran Allah, mereka menolaknya dengan segala cara, entah dengan menutup telinga, menutup mata, atau dengan mencari-cari alasan dan lain sebagainya.

                Dakwah di jalan Allah adalah kebutuhan pokok manusia. Tanpa dakwah, manusia akan tersesat jalan, jauh dari tujuan yang diinginkan Allah SWT. Allah memilih para rasul dan nabi dalam setiap kurun tak lain adalah dalam rangka menegakkan risalah dakwah ini. Di dalam Al Qur’an, Allah SWT tidak pernah bosan mengulang-ulang seruan untuk bertakwa dan menjauhi jalan-jalan syetan. Tetapi manusia tetap saja terlena dengan panggilan hawa nafsu. Terpedaya dengan indahnya dunia sehingga lupa kepada akhirat. Dalam surat al infithaar ayat 6, Allah berfirman: “Yaa ayyuhal insaan maa gharraka birabbikal kariim (wahai manusia apa yang membuat kamu terpedaya, sehingga kamu lupa terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah)?” Dalam ayat lain: “Kallaa bal tuhibbuunal aajilah watadzaruunal aakhirah (sekali-kali tidak, sungguh kamu masih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat).” (QS. 75: 20-21).

                Perhatikan bagaimana pahit getir yang harus ditempuh para pejalan dakwah. Sampai kapan manusia harus terus terombang-ambing dalam gemerlap dunia yang menipu kalau tidak ada seorang pun yang bergerak untuk melakukan dakwah? Disini nampak bahwa tugas dakwah pada hakikatnya bujan hanya tugas para da’i, melainkan tugas semua manusia yang mengaku dirinya sebagai hamba Allah –tak perduli apa profesinya- lebih-lebih mereka yang telah menjadikan dirinya sebagai aktifis dakwah.

                Karenanya, persoalan dakwah bukan persoalan nomer dua, melainkan persoalan pertama dan harus diutamakan di atas segala kepentingan. Bila kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, maka kita juga harus mengaku bahwa berjuang di jalan dakwah adalah segala-galanya. Karena Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya tidak saja mengorbankan segala waktu, harta bahkan jiwa raganya, untuk berdakwah di jalan Allah. Bagi mereka rumah dan harta yang telah mereka bangun sekian lama di kota Makkah memang merupakan bagian dari kehidupan yang sangat mahal dan berharga. Tetapi     mempertahankan iman dan menegakkan ajaran Allah di bumi adalah di atas semua itu. Karenanya mereka tidak pikir-pikir lagi untuk berhijrah dengan meninggalkan segala apa yang mereka miliki. Mereka benar-benar paham bahwa iman dan dakwah pasti menuntut pengorbanan. Karenanya dalam dalam berbagai pertempuran para sahabat berlomba untuk melibatkan dirinya. Mereka merasa berdosa jika tidak ikut terlibat aktif. Tidak sedikit dari mereka yang telah gugur di medan tempur. Semua ini menggambarkan kesungguhan dan kejujuran mereka dalam menegakkan risalah dakwah yang taruhannya bukan hanya harta benda melainkan juga nyawa.

Dakwah, Tugas Yang Sangat Mulia

                Ayat di atas dibuka dengan pernyataan “wamna ahsanu qawlan.” Ustadz Sayyid  Quthb ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Kalimat-kalimat dakwah yang diucapkan sang da’i adalah paling baiknya kalimat, ia berada pada barisan pertama diantara kalimat-kalimat yang baik yang mendaki ke langit” (lihat fii dzilaalil qur’an, oleh Sayyid Quthb, vol. 5, hlm. 3121). Kata waman ahsanu Allah ulang di beberapa tempat dalam Al Qur’an untuk menegaskan tingginya kualitas-kualitas tertentu. Pada surat An Nisa ayat 125, Allah berfirman: “Waman ahsanu diinan mim man aslama wajhahuu lillaah (Siapakah yang lebih bagus agamanya daripada orang yang menyerahkan diri kepada Allah)?” Dalam Al Maidah ayat 50: “Waman ahsanu minallahi hukman (Siapa yang lebih bagus ajarannya dari pada ajaran Allah)?” Dan pada ayat dia atas: “Siapakah yang lebih bagus perkataannya dari pada perkataan para da’i di jalan Allah?” Perhatikan semua ayat-ayat tersebut secara seksama, betapa tugas dakwah sangat Allah muliakan. Peringkatnya sangat tinggi, setara dengan kualitas hukum Allah dan penyerahann diri kepada-Nya secara total. Adalah suatu keharusan bagi seorang da’i untuk menyerahkan hidupnya kepada Allah SWT. Ia tidak kenal lelah dlam menjalani tugas-tugas dakwah. Pun ia tidak mengharapkan keuntungan duniawi dibaliknya, kecuali hanya mengharapkan ridha-Nya. Dalam Surat Yaasiin ayat 21 Allah berfirman: “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Toh Allah dapat membuka jalan rizki baginya melalui jalan-jalan tak terduga “fadzaalila khairun ‘alaa khair.” Yang penting jangan sampai seorang da’i berorientasi pada dunia. Sebab bila seorang da’i sudah berorientasi pada dunia, maka kepada apa dia hendak berdakwah, wong  tema utama dakwah adalah ajakan untuk mempersiapkan diri menuju akhirat.

Berdakwah Dengan Amal

                Ayat selanjutnya menegaskan pentinya amal shalih: “Wa amila shaalihaa.” Mengapa? Apa hubungannya dengan dakwah? Bahwa seorang da’i jangan hanya ngomomg  saja, sementara perbuatannya jauh atau bahkan bertentangan dengan apa yang disampaikannya. Benar, bahwa perkataaan dakwah adalah paling baiknya perkataan, tetapi itu kalau diikuti dengan amal shahih. Jika tidak. Maka perkataan ituakan menjadi bumerang yanga akan menyerang sang da’i itu sendiri. Dalam surat Ash Shaff ayat 3, Allah berfirman: “Amat besar kebencian Allah, bila kamu hanya mengatakan tanpa mengerjakannya.”

                Karenanya, Rasulullah SAW tidak hanya berbicara, melinkan lebih dari itu, seluruh perbuatannya merupakan contoh amal shalih. Allah SWT memberikan rekomandasi yang luar biasa dalam surat Al Qalam ayat 4: “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Imam Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan riwayat dari Aisayah RA. Bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al Qur’an (lihat Tafsir Ibn Katsir, vol. 4, hlm. 639). Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para ulama tidak semuanya berupa ucapan Rasulullah SAW, melainkan banyak sekali yang berupa cerita para sahabat mengenal perilaku dan sikap sahabat mengenai perilaku dan sikap Rasulullah SAW. Banyak sekali hadits-hadits yang berupa ucapan pendek, to the point, tidak bertele-tele, mudah dihafalkan. Suatu gambaran betapa keberhasilan dakwah Rasulullah SAW adalah karena setiap yang diucapkannya langsung ada contohnya dalam bentuk amal nyata dari sikap dan akhlaknya yang sangat mulia.

Menampilkan Diri Sebagai Seorang Muslim  Adalah Dakwah

                Diantara ciri ulama berdakwah kepada Allah adalah tidak saja dengan mengamalkan ajaran-Nya dan menjauhi segala yang dilarang, melainkan lebih dari itu menampilkan diri sebagai sorang Muslim dimana pun ia berada, Allah berfirman pada ayat berikutnya: “Wa qaala innanii minal minal Muslimiin.”  Dengan kata lain, tidak cukup seorang mengamalkan Islam hanya dengan shalat, membayar zakat, dan menjalankan haji, sementara dalam hidupnya sehari-hari tidak mencerminkan Islam misalnya ia tidak merasa berdosa dengan memper-tontonkan auratnya dimana-mana, bergandengan tangan dengan wanita yang bukan istrinya dan di depan banyak orang, melakukan kemaksiatan, kedzaliman, korupsi, judi, perzinaan dengan terang-terangan. Anehnya dia merasa malu untuk menampilkan Islam dengan sebenar-benarnya. Ia tidak merasa bangga sebagai seorang Muslim. Bahkan Islam yang dipeluk digerogoti ajarannya sedikit demi sedikit, dengan sikap memperdebatkan prinsip-prinsipnya yang sudah baku, mencari-cari dalil untuk membangun keraguan terhadap kebenaran Islam.

                Seorang aktifis dakwah sejati selalu bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Ia tidak takut menampilkan Islam sebagai pribadinya. Sungguh krisis umat Islam dimana-mana pada hari ini adalah krisis keberanian untuk menampilkan wajah Islam yang sebenarnya. Islam mengajarkan kedisiplinan, kebersihan dan akhlak mulia, tetapi umat Islam dimana-mana selalu terkesan jorok, kotor dan beringas. Islam mengajarkan kejujuran, dan ketegasan  dalam menegakkan hukum, tetapi penipuan dan korupsi justru merebak di tengah masyarakat yang mayoritasnya umat Islam. mengapa ini semua terjadi? Bukankah orang-orang non Muslim sudah sedemikian jauh menampilkan dirinya sebagai bangsa yang bersih, disiplin dan lain sebagainya?

                Maka tak heran jika kemudian saya mendengar pernyataan salah seorang muallaf: “Saya masuk Islam bukan karena umat Islam. Seandainya umat Islam mampu menampilkan Islam dengan sebenar-benarnya, niscaya mereka akan berbondong-bondong masuk Islam.” Bahkan ada ungkapan yang sangat terkenal dan diulang-ulang hampir dalam setiap seminar di dalam dan di luar negeri: al islam mahjuubun bil Muslimiin (Kebenaran Islam terhalang oleh orang-orang Islam sendiri). Perhatikan  realitasnya, apa yang sedang berlangsung dalam diri umat Islam dimana-mana. Ya, kalau tidak berperang diantara mereka sendiri, maka mereka dizalimi oleh pemimpinnya sendiri yang mengaku Muslim.

                Karenanya, menampilkan Islam secara jujur dalam dirisebagai pribadi, dalam berumah tangga, dalam bermasyarakat, dan dalam berbangsa dan bernegara adalah sebuah keniscayaan, dan menurut ayat di atas termasuk perbuatan yang sangat baik dan mulia. Oleh sebab itu, pada ayat diatas termasuk perbuatan yang sangat baik dan mulia. Jangan sampai –karena suatu saat kelak menghadapi cobaan berupa munculnya orang-orang yang mencolok dakwahnya dan lain sebagainya- ia kemudian menjadi emosional. Sehingga perkataannya lepas kontrol, lalu membalas cercaan mereka dengan cercaan. Ayau lebih dari itu ia kemudian putus asa, lalu menjadi lesu dan patah arang. Akibatnya dakwah yang sangat Allah muliakan ia lalaikan begitu saja.

Tidak, tidaklah demikian pribadi seorang aktifis dakwah. Seorang aktifis dakwah selalu menjiwai ayat ini: “Walaa tastawil hasanatu walas sayyi’ah.” Benar, tidak akan pernah sama antara kebaikan dengan keburukan. Kata-kata dakwah tetap lebih mulia daripada kata-kata si pencerca. Pertahankan kata-kata yang baik itu untuk terus menghiasi lidah sang da’i. Jangan sampai terpengaruh emosi para pencerca lalu  ditukar menjadi cercaan pula. Maka dari itu, Allah ajarkan konsep: “idfa’ billatil hiya ahsan,”  balaslah dengan ucapan yang lebih baik. Kata ahsan juga diu;lang pada ayat lain: “Wajadilhum billatii hiya ahsan,” suatu sikap yang harus selalu menghiasi pribadi seorang da’i setiap saat dan dimana pun ia berada, lebih-lebih saat menghadapi penolakan, cercaan dan makian. Di saat seperti itu seorang da’i, harus benar-benar tampil sempurna, bijak, dan tenang. Mengapa? Sebab ia membawa misi Allah Yang Maha Perkasa. Maka ia harus selalu yakin dan percaya diri dengan posisinya. Tidak usah minder apalagi rendah diri.

                Bahkan pada ayat selanjutnya Allah mengajarkan agar ia selalu tampil dengan penuh persahabatan, sekalipun terhadap mereka yang mencerca dengan penuh permusuhan. Perhatikan bagaimana Allah mengajarkan cara berdakwah yang efektif, diamana kemudian cara ini menjadi salah satu pilar utama dalam ilmu komunikasi modern. Setelah itu Allah menegaskan bahwa untuk menjadi seorang da’i tidak cukup hanya dengan bermodal semangat, melainkan lebih dari itu harus mempunyai sifat sabar dan selalu memohon kepada Allah agar mendapatkan nasib yang baik, di sunia dan di akhirat. Tanpa sifat sabar dan doa untuk memperoleh nasib yang baik, segala proses akan menjadi sia-sia. Sebab kemenangan tidak akan pernah dicapai tanpa pertolongan-Nya.

Wallahu a’lam bisshawab.

About Post Author