Wednesday, July 23

Sikap Responsif Nabi Sulaiman & Burung Hud-Hud

amirfath.com, Sirah (03), Nov 2020 – Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum kamu ketahui; dan kubawa kepadamu dari negeri saba’ suatu berita penting yang diyakini, Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan( Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar”. (QS. An Naml 20-26)

                Sikap responsif adalah kesadaran akan tugas yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kepekaan yang tajam dalam menyikapi berbagai hal yang dihadapinya dan kepahaman makna tanggungjawab yang harus dipikul adalah ciri utama kepribadiannya. Ia merasa tidak enak jika suatu saat melalaikan kewajibannya. Perasaan berdosa selalu menghantuinya.

Karena itu, kapanpun, bagaimanapun dan dalam kondisi apapun ia selalu berusaha secara maksimal untuk melaksanakan tugasnya. Tugas apapun selama dalam kebenaran dan dalam koridor ajaran Allah. Bukan hanya kewajiban ibadah ritual melainkan juga ibadah sosial. Ayat di atas menggambarkan sikap responsif Nabi Sulaiman sebagai seorang pemimpin, dan sikap responsif burung Hud-hud sebagai anggota yang paham akan tugasnya.

Sikap Responsif Nabi Sulaiman

                Nabi Sulaiman dalam ayat di atas digambarkan sebagai pucuk pimpinan yang penuh sikap responsif kepada rakyatnya. Kata tafaqqada menunjukkan makna ini. Artinya pemeriksaan yang detil dan teliti. Cerminan dari besarnya rasa responsibilitas yang sangat dalam. Bukan sekedar basa-basi atau formalitas. Melainkan ia benar-benar memeriksa. Imam Al Asfahani menyebutkan bahwa al fadq artinya tidak ada setelah tadinya ada. At tafaqqud bermakna ta’aurufu fuqdanisy syai’, maksudnya upaya untuk tahu mengenai sesuatu yang hilang atau tidak hadir. Mengapa tidak hadir? Apa sebab ketidakhadirannya? (lihat, Al Ashfahani, mufradat alfadzil qur’an, h. 641). Sedemikian rupa sehingga seekor burung Hud-hud yang pada waktu itu nampak tidak hadir dipertanyakan. “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?

                Hud-hud memang tidak hadir pada waktu itu. Sudah barang tentu bahwa ketidakhadirannya tidak ada yang tahu. Karenanya ketika Nabi Sulaiman bertanya tidak ada yang menjawab. Hal semacam ini bagi seorang pemimpin yang peka dan responsif bukan masalah kecil. Ketidakhadiran seorang anggota dalam sebuah pertemuan tanpa pemberitahuan sebelumnya adalah masalah yang harus mendapatkan teguran secara serius. Nabi Sulaiman benar-benar menunjukkan sikap keseriusannya. Simaklah pernyataannya: “Sungguh aku akan mengadzabnya dengan adzab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya.”  Hukum pertama, adzab yang keras dan hukuman yang kedua menyembelihnya, keduanya mencerminkan besarnya pelanggaran tersebut, dan kesungguhan seorang pemimpin dalam menakar setiap kesalahan sesuai dengan porsinya. Boleh jadi sebuah kesalahan nampak kecil di depan mata manusia tetapi ketika itu menjadi kebiasaan, akibatnya fatal dan mengancam hidupnya sebuah bangsa.

                Perhatikan ketidakhadiran seekor Hud-hud di atas, secara sepintas itu kesalahan kecil, tetapi mengapa Nabi Sulaiman menentukan hukuman yang sangat keras bahkan hukuman mati. Di sini Nabi Sulaiman sebenarnya ingin menegakkan kedisiplinan dan kejujuran sebagai tonggak hidup tidak sebuah masyarakat. Bila keduanya tegak secara sempurna masyarakat akan kuat, aman dan sejahtera. Sebaliknya bila keduanya hilang, masyarakat akan resah, sengsara dan kacau balau. Perhatikan betapa jauh jangkauan berfikir Nabi Sulaiman. Makanya sekecil apapun yang mengarah kepada penggerogotan sikap disiplin dan kejujuran harus mendapat tindakan yang tegas.

                Memberikan hukuman yang setimpal adalah kewajiban seorang pemimpin dalam setiap pelanggaran anggotanya. Ketidaktegasan dalam menegakkan hukum akan menyebabkan sikap main-main, kebiasaan berbuat maksiat dan keberanian melanggar aturan.

Dari kebiasaan jelek tersebut akan lahir secara bertahap berbagai proses menuju kehancuran sebuah masyarakat, sebuah bangsa dan sebuah Negara. Bukti-bukti mengenai hal ini tidak terhitung dalam sejarah. Tetapi manusia sering kali tidak mau mengambil pelajaran dan suka mengulangi kesalahan masa lalu dengan tanpa merasa berdosa. Nabi Sulaiman memang tegas dalam menentukan hukuman, tetapi ia bukan tipe pemimpin diktator.

                Alasan yang jujur dan logis masih bisa diterima. Nabi Sulaiman berkata: Kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang. Kata sulthon artinya kekusasaan, dan dalam ayat di atas dipakai untuk makna alasan yang kuat (hujjah), seperti dalam beberapa ayat berikut: Alladzina yujadiluna fii ayaatillah bighairi sulthanin (QS. Ghafir: 35)  fa’tuuna bisulthanin mubiin (QS. Ibrahim: 10), walaqad arsalna musa biayaatina wasulthanin mubiin (QS. Ghafir: 23) (lihat Al Ashfahani, mufradat alfadzil quar’an, h.420).

                Ini untuk menunjukkan betapa sebuah sikap dan perbuatan sekecil apapun harus berdasarkan alasan yang kuat, apalagi sikap tersebut berupa sebuah pelanggaran. Maka ia harus mempertanggungjawabkannya secara jujur. Bukan mencari-cari alasan, dengan menyembunyikan kebusukan di dalamnya. Setiap amal apapun –apalagi amal dakwah dijalan Allah. Karenanya bila suatu kaum hendak berda’wah di jalan Allah, maka yang pertama kali ia sempurnakan kepribadiannya. Kebersihan dirinya dan dari sinilah kelak sikap responsif akan muncul. Sikap responsif tidak akan pernah muncul dari pribadi yang kotor, penuh maksiat dan tidak bertanggungjawab. Dari sini hampak kedalaman makna ungkapan: wasulthanin mubiin.

Sikap Responsif Burung Hud-hud

                Ustadz Sayyid Quthub menggambarkan bahwa Hud-hud tersebut bukan sembarang burung. Tidak seperti jutaan Hud-hud yang berkeliaran dimana-mana. Al Qur’an merekam kecerdasan dan sikap responsifnya yang luar biasa. Bahwa Hud-hud tersebut mempunyai kepribadian yang peka dan berkeinginan kuat (lihat Sayyed Quthub, fii dzilail qur’an, vol.5, h.2638). Bukan hanya itu cara bersikapnya pun mencerminkan kebijakan yang luar biasa. Ketika datang Hud-hud langsung mengajukan alasannya dengan penuh keyakinan:

                “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum kamu ketahui, dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini, Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan( Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk”.

Apa yang tergambar dari alasan Hud-hud adalah:

  • Bahwa ia terlambat buakan apa-apa, melainkan dengan inisiatif sendiri sedang melakukan tugas yang sangat penting. Tugas yang dengannya kelak sebuah kaum menjadi tunduk kepada Allah. Dimana seandainya Hud-hud tidak melakukan itu, kaum tersebut akan terus tersesatjalan. Tidak menenmukan jati dirinya sebagai hamba Allah, melainkan hamba syetan dan matahari yang disembahnya. Perhatikan bagaimana sikap responsif burung Hud-hud yang demikian cerdas dan tajam ini telah menghentak kita semua. Allah merekamnya untuk menjadi pelajaran agar kita yang dibekali akal tidak kalah dengan burung Hud-hud dalam menegakkan kebenaran.

Kecerdasan Hud-hud nampak dari segi cara memulai pembicaraan. Seketika ia berkata: Aku telah mengetahui sesuatu yang belum kamu ketahui”. Pembukaan ini menggambarkan pentingnya sebuah berita yang dibawanya. Disaat yang sama telah membuat Nabi Sulaiman terpanggil untuk mengetahui dan mengurungkan niatnya.

Dalam kondisi dimana Nabi Sulaiman sedang konsentrasi untuk mendengarkan alasannya, Hud-hud mulai bercerita: kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini, Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Di sini Hud-hud menekankan adanya kenyataan yang aneh. Seorang wanita memimpin sebuah kaum. Tersirat dari sini bahwa secara fitrah –sebagaimana ditangkap oleh Hud-hud- yang menjadi pemimpin puncak sebuah kaum seharusnya laki-laki. Para Nabi semuanya laki-laki. Nabi Sulaiman sebagai pemimpin pada waktu itu adalah laki-laki. Makanya ia buka laporanjya dengan menyebutkan: Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka. Secara tidak langsung Hud-hud telah mengkritisi kenyataan sosial kaum Saba’ tersebut yang nampak bertentangan dengan fitrahnya. Dari sini terlihat betapa tingginya sikap reponsif dang Hud-hud. Sehingga begitu Nabi Sulaman mengambil tindakan, ia menekankan dengan suratnya seperti terekan pada ayat lebih lanjut: (An Naml:31): Wallata’lu alayya wa’tunni muslimiin (janganlah kamu berlaku sombong kepadaku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri). Dengan itu kemudian yang menjadi pemimpin puncak adalah Nabi Sulaiman.

  • Hud-hud mengkritisi bahwa kekuatan politik wanita tersebut tegak bukan karena didukung oleh fikrah (risalah suci) melainkan oleh semata kekuatan harta. Simaklah Hud-hud berkata: Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Fenomena politik seperti ini bagi Hud-hud bukan hanya sebuah kepemimpinan yang rapuh, melainkan ia tidak sepantasnya merajalela dan berlangsung lama. Sebab keberadaannya cenderung mengarah kepada kemungkaran. Dan itu sudah Hud-hud contohkan pada ayat selanjutnya bahwa mereka tidak menyembah Allah melainkan menyembah matahari. Berbeda dengan kerajaan Nabi Sulaiman yang memancarkan risalah tauhid (ketundukan total kepada Allah Sang Maha Pencipta langit dan bumi). Karena itulah sisi tersebut Hud-hud tekankan dalam laporannya, supaya kelak tidak berulang sebuah kepemimpinan yang hanya mengutamakan fondasi materialisme. Dan supaya yang menjadi master plane adalah kepemimpinan Nabi Sulaiman yang gagah, beribawa dan membawa risalah tauhid yang suci dan mulya.
  • Hud-hud mengkritisi sikap kaum Saba’ dari sisi akidahnya, ia berkata: Aku mendapat dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah) sehingga mereka tidak dapat petunjuk”.

Disini Hud-hud menginformasikan bahwa kamu Saba’ itu tidak menyembah Allah Yang Menciptakan mereka, melainkan menyembah matahari. Mengapa? Hud-hud menjelaskan itu karena mereka mengikuti ajakan syetan, yang menyesatkan. Padahal syetan tidak pernah berbuat baik untuk mereka, bahkan berusaha keras: (a) agar manusia tidak mendapatkan petunjuk yang benar (b) mereka tidak menyembah Allah.

Tetapi mengapa mereka tetap terpedaya olehnya. Lain hanya Allah yang sudah jelas menyediakan segala yang mereka butuhkan. Dengar kata Hud-hud: Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai ‘ Arsy yang besar”. Terlihat dengan jelas sikap responsif Hud-hud yang demikian dalam untuk memperbaiki setiap penyimpangan akidah demi tersebarnya risalah tauhid. Benar, sekali lagi saya ingin mengutipucapan Ustadz Sayyed Quthub di sini, bahwa Hud-hud tersebut bukan sembarang burung, melainkan burung istimewa, tidak sama dengan jutaan burung Hud-hud lainnya yang beterbangan di berbagai penjuru.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author