Monday, August 25

Akhir Kesombongan Materialisme

amirfath.com, Artikel (287), Agustus 2025 – Surah al-Fiil adalah personifikasi kekuatan materialisme. Allah SWT menurunkan surah khusus untuk merekam kesombongan seorang raja yang tertipu dengan kekuasannya. Seakan kerajaan yang diraihnya melalui jalan pintas di Yaman adalah keabadian.Padahal, dunia dengan segala gemerlapnya hanyalah tipu daya belaka (wamal hayatud dunyaa illal mataaul ghurur) (QS Ali Imran: 185). Raja itu dikenal dengan nama Abrahah.Seorang komandan tempur bersama teman satunya yang bernama Ariyadh yang diutus untuk menaklukkan Yaman oleh Najasyi, seorang raja di Habsyah. Tiba-tiba setelah kemenangan dicapai, Abrahah mengumumkan bahwa dirinyalah raja Yaman.Ariyadh tidak mau menerima pengumuman tersebut. Terjadilah kemudian perang tanding antara Abrarah dan Ariyadh dengan kesepakatan siapa yang menang dialah yang berhak menobatkan dirinya jadi raja. Singkat cerita, pada putaran pertama, hidung Abrahah terkena pedang dan menjadi gompal. Tetapi pada putaran kedua, Abrahah berhasil membunuh Ariyadh. Maka dialah yang kemudian menjadi raja.Mendengar kejadian itu, Raja Najasyi murka. Ia bersumpah tidak akan duduk sampai berhasil menginjak kepala Abrahah. Untuk membatalkan sumpahnya, Abrahah mengirim rambutnya kepada Najasyi, lalu ia diminta untuk menginjaknya. Setelah itu raja bisa duduk kembali.Namun, tidak hanya itu usaha Abrahah untuk membuat Raja Najasyi senang. Abrahah bertekad untuk membuat gereja terbesar di Yaman dengan nama al-Qullaish sebagai hadiah untuk Raja Najasyi. Lalu, ia sesumbar akan menggerakkan semua manusia di muka bumi agar berdatangan ke gereja tersebut untuk beribadah.Mendengar sesumbarnya itu, seorang datang memberitahukan kepadanya bahwa ambisinya tidak akan tercapai sampai berhasil menghancurkan Ka’bah. Abrahah baru mendengar pertama kali kata Ka’bah. Dijelaskan kepadanya bahwa itu adalah rumah Allah yang menjadi pusat ibadah semua manusia di muka bumi. Karena itulah kemudian Abrahah bertekad untuk menghancurkan Ka’bah yang berada di Kota Makkah.Supaya keinginannya tercapai dan tidak ada kekuatan apapun yang bisa menhalanginya, Abrahah menyiapkan pasukan paling kuat dengan mengendarai gajah. Terhitung ada seribu gajah yang dia bawan dipimpin oleh seekor gajah namanya Mahmud. Maka ke mana Mahmud melangkah, semua gajah mengikutinya.Ketika sampai di sebuah tempat disebut Wadi Muhashshir, Abrahah dan pasukannya istirahat sejenak. Di sana, bantal unta-unta dan domba-domba gembalaan dirampas. Di antaranya adalah unta-unta milik Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW.Untuk menuntut balik unta-untanya, Abdul Muthalib datang untuk menemui Abrahah. Dari kejauhan, di atas singgasananya, Abrahah melihat wajah Abdul Muthalib penuh wibawa. Dalam benaknya Abarahah berkata bahwa dialah pemilik Kota Makkah. Allah mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan kerikil yang panas, sehingga mereka menjadi seperti daun-daun yang dimakan ulat.QS AL FIIL Seketika Abrahah turun dari singgasananya untuk menyambut kehadiran Abdul Muthalib. Sebelumnya, Abrarah tidak pernah turun berhadapan dengan siapapun. Ini dilakukan karena dalam pikirannya, Abdul Muthalib sangat agung, wibawanya menimbulkan rasa segan dalam diri Abrahah. Dia berharap agar Kota Makkah diserahkan segera kepadanya.Ketika bertemu Abrahah, Abdul Muthalib mengatakan bahwa ia datang untuk meminta unta-untanya. Seketika Abrahah kecewa, karena ternyata orang yang sangat ia hormati, datang bukan untuk menyerahkan Kota Makkah melainkan untuk menuntut unta-untanya.Abdul Muthalib berkata, “Aku pemilik unta-unta itu. Maka akulah yang berhak mengambilnya kembali. Adapun Ka’bah yang akan kau hancurkan itu ada pemiliknya. Silakan kamu berhadapan langsung dengan pemilik Ka’bah tersebut.”Setelah unta-unta itu dikembalikan, Abrahah langsung bergegas menyiapkan pasukan untuk menghancurkan Ka’bah. Pasukan gajah diarahkan ke Kota Makkah.Tiba-tiba ada seseorang datang kepada Mahmud, pimpinan gajah, dan berbisik di telinganya bahwa Ka’bah itu milik Tuhannya. Sejak itu, Mahmud setiap kali diarahkan ke Kota Makkah tidak mau melangkah. Sebaliknya, ketika diarahkan ke Yaman, Mahmud bersemangat dan semua gajah ikut di belakangnya. Berkali-kali ini dilakukan, tetapi tidak berhasil.Ketika semua pasukan gajah terhenti, datanglah tiba-tiba sebuah warna gelap di angkasa dari arah Yaman. Tadinya mereka menyangka bahwa itu mendung untuk mengirimkan hujan. Tetapi lama kelamaan warna hitam itu semakin melebar bagaikan hamparan tikar yang pekat menutup langit secara perlahan.Anehnya, hamparan hitam itu semakin mendekat ke arah pasukan Abrahah. Ternyata itu adalah pasukan burung kecil yang berbaris rapi. Tidak ada celah di antara mereka.Masing-masing burung membawa tiga kerikil kecil sebesar biji sawi. Di setiap kerikil itu tertulis nama-nama semua pasukan Abrarah. Begitu kerikil tersebut dilempar, maka semua pasukan terkena dan tidak ada seorang pun yang terlewatkan.Begitu kerikil itu menimpa mereka, terjadilan pemandangan yang sangat mengenaskan. Seketika semua pasukan terbakar, tubuh mereka menjadi lepuh. Lalu satu persatu anggota tubuh mereka terputus antara satu dengan lainnya. Menumpuk menjadi seperti daun-daun yang dimakan ulat.Pemandangan itu direkam dalam surah al-Fil dengan singkat, tetapi sangat mewakili semua apa yang terjadi. Siapapun yang membacanya akan mengalami suasana seperti hadir pada saat kejadian.Suatu pelajaran bahwa kekuatan materialisme sehebat apapaun ketika digunakan untuk berbuat lalim pasti akan dihancurkan.Allah SWT berfirman, “Tidakkah engkau melihat bagaimana Allah memperlakukan pasukan gajah? Bukanlah Allah telah membuat tipu daya, mereka memakan diri mereka sendiri? Allah mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan kerikil yang panas, sehingga mereka menjadi seperti daun-daun yang dimakan ulat.” (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran )

About Post Author

Leave a Reply