Jalan Sukses Kepemimpinan
amirfath.com, Artikel (276),Agustus 2023 Surah Quraisy secara khusus membahas tentang suku Quraisy yang darinya lahir Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat mengenai keutamaan suku Quraisy, Nabi SAW menceritakan bahwa Allah SWT telah memberikan kepada mereka beberapa kelebihan.
Kelebihan itu di antaranya adalah kenabian dipilih dari keturunan mereka, pasukan gajah dihancurkan untuk menjaga keutuhan mereka. Lebih dari itu, Allah SWT menurunkan surah khusus dalam Alquran, yaitu surah Quraisy.
Surah Quraisy tergolong surah Makkiyah kerena turun sebelum hijrah. Surah Quraisy menceritakan sejumlah nikmat bagi kaum Quraisy, seperti memelihara kesatuan mereka (al ulfah) dalam kekeluargaan yang kokoh. Ini satu makna dengan “iilaaf” dalam ayat (“li iilaafi quraisy”) (QS Quraisy: 1).
Selain itu, mereka dimudahkan oleh Allah SWT untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam urusan perdagangan (“Iilaafihim rihlatasy syitaai wash shaif”) (QS Quraisy: 2).
Kata “syita’” adalah istilah khusus untuk musim dingin. Kam Quraisy di musim dingin suka melancong ke wilayah yang hangat. Tidak saja untuk menghangatkan diri, tetapi juga untuk berdagang sesuai dengan tabiat hidup mereka sebagai pedagang.
Kam Quraisy di musim dingin suka melancong ke wilayah yang hangat. Tidak saja untuk menghangatkan diri, tetapi juga untuk berdagang sesuai dengan tabiat hidup mereka sebagai pedagang.
Wilayah terdekat yang paling cocok bagi mereka adalah Yaman, karena wilayah tersebut relatif panas di musim dingin. Lebih dari itu, di Yaman banyak barang-barang impor dari India yang bisa dijadikan komoditas, seperti kayu oud dan parfum.
Adapun pada musim panas disebut dengan istilah “ash shaif”. Makkah memang sangat panas. Karenanya, kaum Quraisy biasanya melancong ke tempat yang relatif dingin, seperti wilayah Asy Syam (kini Suriah, Lebanon, Yordania, dan Palestina). Wilayah yang dalam Alquran disebutkan telah mendapatkan keberkahan dari Allah SWT (“Alladzii baaraknaa haulahu”) (QS al-Isra: 1).
Sebab, di negeri itu para nabi berkesinambungan berdakwah sepanjang zaman. Di negeri itu pula, Allah SWT telah menurunkan wahyu kepada para utusan-Nya.
Secara urutan mushaf, surah Quraisy terletak setelah surah al-Fil (Gajah) yang menceritakan secara khusus dihancurkannya pasukan gajah. Mereka dihancurkan karena kesombongannya.
Abrahah sebagai rajanya bertekad ingin melawan Allah SWT dan menghancurkan Ka’bah. Tujuannya tidak lain kecuali untuk menunjukkan kekuasaannya di muka bumi bahwa ia mempunyai kekuatan yang tidak akan tertandingi.
Bagi Abrahah, dengan membawa gajah dalam jumlah banyak, sebagaimana disebutkan dalam riwayat mencapai 1.000 gajah, adalah cara unjuk gigi yang paling spektakuler pada masa itu. Mungkin seperti unjuk kekuatan nuklir pada masa kini.
Namun, sehebat apa pun kekuatan manusia tidak akan pernah bisa menandingi kekuatan Allah SWT. Apalagi memang Allah SWT telah menyiapkan kenabian dari keturunan suku Quraisy yang akan diserang oleh Abrahah.
Tentu Allah SWT tidak akan membiarkan Abrahah bertindak semena-mena. Itulah kemudian yang terjadi, Abrahah dihanguskan hanya dengan segerombolan burung ababil yang masing-masing membawa batu panas dari api neraka.
Suatu susunan yang indah di mana setelah surah al-Fil langsung ada surah Quraisy. Ini salah satu dimensi mukjizat Alquran yang jarang dibahas.
Suatu susunan yang indah di mana setelah surah al-Fil langsung ada surah Quraisy. Ini salah satu dimensi mukjizat Alquran yang jarang dibahas.
Padahal, susunan surah-surah Alquran dari awal sampai akhir adalah dari Allah SWT yang Maha Luas ilmu-Nya. Sungguh sangat tepat jika setelah surah al-Fil adalah surah Quraisy yang membahas mengenai kaum Quraisy yang diselamatkan dari serangan Abrahah dan pasukan gajahnya.
Untuk mensyukuri nikmat yang sangat agung tersebut, Allah SWT memerintahkan agar bersungguh-sungguh beribadah kepada-Nya sebagai Pemilik Ka’bah, “Falya’buduu rabba haadzal bait” (QS Quraisy: 3).
Ayat ini memberikan panduan bahwa tidak ada jalan bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kecuali beribadah kepada-Nya.
Adapun peran manusia di muka bumi, sebagai pengusaha, apalagi sebagai pemimpin, bila bercita-cita ingin mencapai sukses tidak ada pilihan kecuali harus tunduk dan patuh kepada-Nya. Dari ketundukan ini pasti akan terwujud dua kondisi yang menjadi persyaratan kebahagiaan secara personal maupun secara kolektif sebagai keluarga atau negara, yaitu kesejahteraan (“Alladzii ath’amahum minjuu’”) dan keamanan (“Wa amanahum min khauf”) (QS Quraisy: 4).
Inilah dua kondisi yang jika benar-benar tercapai oleh seorang pemimpin dalam keluarga maupun negara, maka dia –seperti kata Nabi SAW — seakan mempunyai dunia dan seisinya (“Fakannama hiizat lahud dunya wa hadzaafirihaa”) (HR Turmidzi).
sumber : https://www.republika.id/posts/43989/jalan-sukses-kepemimpinan