Tuesday, July 22

Kemenangan Itu dari Allah

amirfath.com, Artikel (277),Agustus 2023 Perang Badar adalah peperangan yang paling spektakuler dalam sejarah. Tidak saja sejarah Islam, tetapi juga sejarah dunia. Sebab, belum pernah ada peperangan yang sedahsyat perang Badar, baik sebelum maupun sesudahnya.

Dahsyat maksudnya bahwa perang Badar bukan hanya melibatkan unsur bumi, tetapi lebih dari itu adalah turunnya malaikat dengan jumlah yang sangat besar. Dengan satu malaikat saja sebenarnya manusia sejumlah apa pun dan dengan persenjataan secanggih apa pun tidak akan sanggup menghadapinya.

Namun dalam perang Badar ini Allah SWT menurunkan seribu malaikat, “Anni mumiddukum bialfim minal malaaikati” (QS al-Anfal: 9).

Dahsyat maksudnya bahwa perang Badar bukan hanya melibatkan unsur bumi, tetapi lebih dari itu adalah turunnya malaikat dengan jumlah yang sangat besar.

Bukan hanya turunnya malaikat, tetapi lebih dari itu Allah SWT menimbulkan dalam hati-hati orang kafir rasa takut sehingga mereka dengan mudah dibunuh oleh kaum muslimin, dipotong leher dan jarinya, sehingga mereka lari tunggang-langgang dari peperangan, “Saulqii fii quluubilladziina kafarur ru’ba fadhribuu fauqul a’naaqi wadhribuu minhum kulla banan” (QS al-Anfal: 12).

Surah al-Anfal secara khusus telah merekam perang Badar. Tergolong surah Madaniyah karena turun setelah peristiwa hijrahnya Nabi SAW, yaitu setelah turunnya surah al-Baqarah, sekalipun urutannya dalam mushaf terletak setelah surah al-Araf, surah al-Anfal terkenal dengan sebutan surah Badar.

Memang perang Badar adalah peperangan yang pertama dalam sejarah Islam. Perang ini terjadi ketika Rasulullah SAW memerintahkan kaum Muslimin agar keluar untuk menangkap kafilah dagang Abu Sufyan. Karena itu, mereka keluar tanpa persenjataan yang lengkap dan hanya bersama dengan satu orang pasukan berkuda.

Akan tetapi tidak disangka, perjalanan itu mengantarkan mereka ke medan Badar di mana tanpa mereka ketahui ternyata di situlah pasukan perang Quraisy telah bersiap-siap untuk perang melawan kaum Muslimin.

Melihat kenyataan itu sebagian pasukan Islam banyak yang merasa tidak siap perang. Allah SWT tahu apa yang sedang bergejolak dalam hati mereka berupa ketidaksukaan terhadap perang.

Melihat kenyataan itu sebagian pasukan Islam banyak yang merasa tidak siap perang. Allah SWT tahu apa yang sedang bergejolak dalam hati mereka berupa ketidaksukaan terhadap perang, “Wa inna fariiqan minal mu’miniina lakaarihuun” (QS al-Anfal: 5).

Tetapi karena itu memang janji Allah SWT yang harus terjadi, maka mereka tidak bisa menghindarinya, “Wa idz yaidukumullahu ihdat thaaifatain annahaa lakum” (QS al-Anfal: 7).

Padahal yang mereka sukai adalah menangkap kafilah Abu Sufyan yang tanpa perang, tapi ketentuan Allah SWT tidak bisa dikalahkan oleh keinginan mereka. Itulah kondisi yang melatarbelakangi perang Badar. Bahwa perang itu terjadi murni karena desain Allah SWT.

Tujuannya untuk menunjukkan yang benar adalah benar dan yang batil adalah batil, “Liyuhiqqal haqqa wa yubthilal baathila” (QS al-Anfal: 8).

Memang ketika itu tidak seimbang antara pasukan orang-orang kafir dan kaum Muslimin, baik dari segi jumlah maupun persenjataan. Orang kafir berjumlah seribu orang pasukan perang, sedangkan pasukan Islam berjumlah 313 orang tanpa senjata lengkap.

Orang kafir berjumlah seribu orang pasukan perang, sedangkan pasukan Islam berjumlah 313 orang tanpa senjata lengkap.

Karena itu, Nabi SAW berdoa mengangkat tangan setinggi-tingginya sampai terjatuh selendangnya (“Idz tastaghitsuuna rabbakum”). Doa Nabi SAW ini langsung diterima dan seketika Allah SWT menurunkan ribuan malaikatnya berbodong-bondong, “Fastajaaba rabbukum annii mumiddkum bialfin minal malaaikati murdifiin” (QS al-Anfal: 9).

Hal ini tidak lain sebagai kabar gembira bahwa Allah SWT berpihak kepada kaum Muslimin, “Wa maa ja’alahullahu illaa busyraa wa litathmainna bihii quluubukum” (QS al-Anfal: 10).

Ayat “wa litathmainna bihii quluubukum” menunjukkan bahwa sekalipun kaum Muslimin tidak siap perang, tetapi hati mereka tetap tenang karena mereka merasa bersama Allah SWT.

Agar kaum Muslimin tetap semangat, Allah SWT memberikan karunia kepada mereka bisa tertidur di malam itu dengan nyenyak supaya merasa aman dan tidak ada sedikit pun rasa takut di hati mereka, “Idz yughasysyiikumun nu’aasa amanatan” (QS al-Anfal: 11).

Lalu Allah SWT turunkan kepada mereka hujan supaya mereka bisa bersuci (“liyuthahhirakum”) sehingga tidak ada setan yang mendekati mereka (“wa yudzhiba ‘ankum rijzas syaithaan”).

Maka dengannya mereka tetap bersatu (“wa liyarbitha ‘alaa quluubikum”) dan supaya jejak kaki mereka menjadi kokoh karena dengan air hujan, tanah yang mereka injak menjadi kuat tidak menghamburkan debu (“wa yutsabbita bihil aqdaam”) (QS al-Anfal: 11).

sumber : https://www.republika.id/posts/43888/kemenangan-itu-dari-allah

About Post Author