Akhir Sejarah Materialisme
amirfath.com, Artikel (274),Agustus 2023 Surah al-Fajr merekam sejarah hancurnya materialisme. Bahwa sehebat apa pun kekuatan meterialisme akan mencapai titik jenuh yang di puncaknya akan runtuh dengan sendirinya.
Masih ingatkah Anda beberapa tahun yang lalu ketika hampir semua manusia di muka bumi memegang handphone Nokia, BlackBerry, dan sebagainya. Kini produk tersebut tiba-tiba hilang begitu saja.
Jauh sebelum itu peradaban besar Romawi dan Persia, yang telah dibangun dengan kekuatan yang kokoh, kini telah lenyap ditelan masa. Apa artinya bahwa tabiat benda di dunia ini pasti akan berakhir (expired).
Maka kekuatan apapun yang dibangun di atas benda-benda pasti akan mengalami kehancuran. Inilah yang Allah SWT tunjukkan dalam surah al-Fajr.
Maka kekuatan apapun yang dibangun di atas benda-benda pasti akan mengalami kehancuran. Inilah yang Allah SWT tunjukkan dalam surah al-Fajr.
Dimulai dengan sumpah atas waktu fajr (Wal fajr), sumpah dengan sepuluh malam yang agung (Walayaalin ‘asyr), maksudnya sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah.
Lalu sumpah dengan genap dan ganjil (Wasy syaf’i walwatr) dan sumpah dengan datangnya malam yang menutup cahaya siang (Wallaili idzaa yasr) (QS al-Fajr: 1-4).
Semua sumpah ini untuk menggugah manusia agar menggunakan akalnya dalam memandang semua kenyataan sebagai bukti kekuasaan-Nya (Inna fii dzaalika qasamun lidzii hijr) (QS al-Fajr: 5).
Kata “lidzii hijr” (bagi mereka yang berakal) maksudnya bahwa dengan akalnya, manusia seharusnya tahu diri di muka bumi. Bahwa ia tidak mempunyai kemampuan apa-apa tanpa pertolongan-Nya. Maka tidak pantas manusia sombong atas kelebihan yang dimilikinya, baik itu berupa harta, takhta, dan sebagainya.
Itulah mengapa pada ayat berikutnya, Allah SWT menyebutkan beberapa kaum terdahulu yang dihancurkan oleh-Nya karena kesombongan-Nya.
Dalam hadis Qudsi, Allah SWT berfirman, “Al kibriyaau ridaaii faman yunaaza’anii adzdzabtuhu wa fii riwayah adkhaltuhun naar” (Kesombongan adalah selendang-Ku, siapa yang menandingi Aku, pasti akan Aku azab dia) Dalam riwayat lain, (Aku masukkan neraka) (HR Muslim dan Abu Daud).
Kisah dihancurkannya kaum Aad, Tsamud, dan Firaun yang disebutkan dalam surah al-Fajr ini bukan karena mereka gagal mengelola bumi. Justru mereka dihancurkan pada saat berada di puncak keberhasilannya dalam membangun materialisme.
Kisah dihancurkannya kaum Aad, Tsamud, dan Firaun yang disebutkan dalam surah al-Fajr ini bukan karena mereka gagal mengelola bumi. Justru mereka dihancurkan pada saat berada di puncak keberhasilannya dalam membangun materialisme.
Kaum Aad, misalnya, mereka adalah bangsa Iram yang berhasil membangun rumah-tumah tinggi menjulang ditopang dengan tiang-tiang pencakar langit (Alam tara kaifa fafa’ala rabbuka bi’aad, irama dzaatil imaad). Bahkan, pencapaian mereka dalam peradaban tersebut tidak bisa ditiru oleh bangsa-bangsa lain (Allatii lam yukhlaq mitsluhaa fil bilaad) (QS al-Fajr: 6-8).
Begitu juga kaum Tsamud. Dengan sombongnya mereka berbuat semena-mena di muka bumi. Mereka beranggapan bahwa bencana yang kemungkinan akan menimpanya tidak lain hanya berupa gempa, banjir, dan angin kencang.
Mereka membangun rumah dengan cara memahat batu gunung yang cadas menjadi rumah-rumah megah, kuat, dan indah (Wa tsamudalladzii jaabus shakhra bilwaadi) (QS al-Fajr: 11).
Kata “bilwaad” maksudnya lembah perkampungan yang terletak sebelah barat utara Jazirah Arabia. Secara kasat mata, rumah-rumah tersebut bisa dikatakan aman dari berbagai macam bencana apapun.
Azab Allah SWT ternyata tidak hanya berupa gempa dan banjir, tetapi boleh jadi berupa suara yang sangat kencang, menggetarkan hati, dan memecahkan telinga-telinga mereka. Suara inilah yang Allah kirimkan sebagai azab atas kaum Tsamud.
Azab Allah SWT ternyata tidak hanya berupa gempa dan banjir, tetapi boleh jadi berupa suara yang sangat kencang, menggetarkan hati, dan memecahkan telinga-telinga mereka. Suara inilah yang Allah kirimkan sebagai azab atas kaum Tsamud.
Dalam surah al-Haaqqah, Allah SWT menyebutkan suara kencang itu dengan nama “ath thaaghiyah” (Fa’ammaa tsamuudu fauhlikuu bith thaaghiyah) (QS al-Haaqqah: 5).
Kata “ath thaaghiyah” dari kata “thagha” artinya melampaui batas. Maksudnya, suara kencang melampaui segala suara yang paling kencang.
Firaun juga demikian. Ia telah berhasil membangun istana-istana megah dan piramid-piramid yang kokoh (Wa fir’auna dzil autaad) (QS al-Fajr: 10). Tetapi karena kesombongannya, sekalipun sampai ke level mengaku tuhan, ternyata ia tidak berdaya berhadapn dengan nyamuk dan katak.
Allah SWT menenggelamkannya di Laut Merah sebagai awal azabnya, lalu kelak ia pasti akan dimasukkan neraka (Fa akhazdahullahu nakaalal aakhirati wal uulaa) (QS an-Naziat: 25).
sumber : https://www.republika.id/posts/44555/akhir-sejarah-materialisme