Hakikat Istiqamah
amirfath.com, Artikel (263),Juni 2023 Istilah istiqamah satu akar dengan kata “qaama” (berdiri). Alquran banyak menggunakan kata “qaama-yaquumu” untuk makna sungguh-sungguh dan maksimal dalam beramal.
Pada saat menjelaskan hakikat shalat, Allah SWT berfirman, “Wa yuqiimuunash shalaata” (dan menegakkan shalat) (QS al-Baqarah [2]: 3).
Dalam hadis juga digunakan istilah “wa iqaamatush shalaati” (HR Bukhari-Muslim). Padahal dalam bahasa Arab cukup dengan kata “shalla-yushalli” sudah sama artinya.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dengan menggunakan kata “aqaama-yuqiimu” dalam istilah shalat, Allah SWT menginginkan agar shalat tersebut benar-benar dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan maksimal, bukan asal shalat.
Dari segi pelaksanaannya harus thuma’ninah (tenang dan khusyuk), bukan tergesa-gesa, “Wa inaahaa lakabiiratun illaa ‘alal khaasyi’iin” (Sesunguhnya shalat ini terasa berat kecuali bagi mereka yang khusyuk) (QS al-Baqarah [2]: 45).
Kata “khaasyi’uun” diartikan “saakinuun” (tenang). Sebab, hanya dengan jiwa yang tenang shalat akan terasa bermakna.
Hanya dengan jiwa yang tenang shalat akan terasa bermakna.
Suatu hari Umar bin Khaththab melihat seorang sedang shalat, tetapi ia banyak menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Umar berkata, “Lau khasya’a qalbuhuu khasya’aat jawaarihuhu” (Seandainya hatinya khusyuk niscaya anggota tubuhnya akan tenang).
Apa yang ingin ditegaskan di sini bahwa kata “qaama” digunkanan untuk menggambarkan pribadi kehambaan yang penuh dengan kesungguhan dan tidak pernah menyerah dalam kondisi sesulit apa pun.
Maka ketika Allah SWT dan Rasul-Nya menggunakan kata “qaama” sebagaimana di atas, itu tidak lain untuk menggambarkan bahwa setiap amal saleh termasuk shalat harus benar-benar maksimal, karena hanya dengan itu akhlak mulia akan lahir.
Perhatikan ayat tentang shalat, misalnya, “Innash shalaata tanhaa ‘anil fahsyaai wal munkar” (Sesungguhnya shalat akan mencegah pelakuknya dari perbuatan keji dan mungkar) (QS al-Ankabut [29]: 45).
Ketika menggambarkan perjuangan Ashhaabul Kahfi, Allah SWT menggunakan kata “qaama” (Idz qaamuu fa qaaluu rabbuna rabbus samaawaatia wal ardh) (QS al-Kahfi [18]: 14).
Ini menunjukkan bahwa Ashhaabul Kahfi benar-benar maksimal dalam berdakwah kepada tauhid, sekalipun harus berhadapan dengan ancaman sampai akhirnya harus bersembunyi di dalam gua.
Demikian juga bagi seorang suami harus bersungguh-sungguh dalam bertanggung atas keluarganya. Karena itu, Allah SWT menggunakan istilah “qawwam” untuk para suami (Arrijaalu qawwamuuna ‘alan nisaai) (QS an-Nisa [4]: 34).
Ini bukti bahwa fungsi seorang laki-laki dalam rumah tangga, tidak saja sebagai suami bagi istrinya di mana ia harus menyiapkan nafkah yang halal, tetapi juga bersungguh-sungguh mendidiknya.
Di saat yang sama ia harus juga tampil sebagai ayah bagi anak-anaknya, sekalipun ia sibuk dalam mencari nafkah, tetapi di saat yang sama harus hadir di hadapan anak-anaknya sebagai figur yang mangagumkan dalam kebaikan.
Surah Fushshilat menggunakan kata “istiqamaah” ketika menggambarkan orang-orang sukses di dunia dan akhirat. Bahwa syarat untuk menjadi orang-orang mulia yang ditemani oleh para malikat, bebas dari rasa takut dan khawatir akan masa depan, lalu kelak dimasukkan surga adalah “istiqamah” (Innalladziina qaalu rabbunallahu tsummas taqaamuu tatanazzalu ‘alaihimul malaaikatu allaa takhaafuu wa laaa tahzanuu wa absyiruu biljanntillati kuntum tuu’aduun) (QS Fushshilat [41]: 30).
Sesuai dengan tema pokok surah ini, yaitu keharusan bersikap responsif terhadap perintah Allah SWT dan sigap berdakwah di jalan-Nya, maka penggambaran tentang istiqamah ini adalah penting sebagai syarat untuk menjadi pejuang di jalan Allah.
Seakan dikatakan wahai hamba-Ku, jika kamu ingin melibatkan dirimu dalam perjuangan dakwah tidak cukup kamu hanya bermodal semangat, tetapi harus benar-benar istiqamah mengikuti perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku.
Dari sini kita mengerti mengapa sejak awal membaca Alquran langsung dibuka dengan doa, “Ihdinash shiraathal mustaqiim” (Tunjukilah kami ke jalan yang lurus) (QS al-Fatihah [1]: 6).
Kata mustaqiim adalah sifat maksudnya lurus bahwa seorang hamba disebut berhasil mencapai puncak istiqamah apabila benar-benar mengikuti jalan lurus. Sebab, hanya jalan lurus yang akan mengantarkan kepada tujuan dengan cepat.
Sebaliknya, jalan yang bengkok akan terus membuat hidup terombang-ambing, tanpa ada ketenangan (Fii thugyaanihim ya’mahuun) (QS al-Baqarah [2]: 15).
sumber : https://republika.id/posts/42126/hakikat-istiqamah