Merebut Keagungan Dzulhijah
amirfath.com, Artikel (264),Juni 2023 Di pembukaan surah al-Fajr, Allah SWT bersumpah dengan waktu fajar, sepuluh malam, dan angka genap serta ganjil. “Wal fajr, wa layaalin ‘asyr wasy syaf’i wal watr.” (QS al-Fajr [89]: 1-4).
Ini tidak lain untuk menunjukkan betapa agungnya semua hal tersebut. Waktu fajar adalah awal persinggahan waktu yang sangat berkah.
Disebutkan bahwa itulah waktu didistrubusikannya rezeki (Dzaalika waqtun yuwazza’u fiihil arzaaq). Karena itu, Allah SWT yang Mahatahu mengondisikan hamba-hamba-Nya agar merebut kesempatan tersebut.
Diperintahkannya shalat malam (tahajjud) adalah untuk menggerakkan para hamba agar bangun sebelum fajar. “Wa minallaili fatahajjad bihii naafilatan lak ‘asaa ayyab’ataska rabbuka maqaamam mahmuudaa” (Di antara sebagian malam lakukanlah tahajjud semoga dengannya engkau dimudahkan mencapai kemuliaan).
Perhatikan kata “tahajjud” dan “maqaamam mahmuuda” (posisi yang tinggi) bahwa kemuliaan itu sangat bergantung pada sejauh mana seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.
Di antara cara terbaik untuk mendekat kepada-Nya adalah melakukan shalat malam. Allah SWT Mahatahu waktu terbaik bagi terbukanya hati seorang hamba agar merasakan kelezatan ibadah kepada-Nya. Itulah waktu sebelum fajar terbit di mana seorang hamba benar-benar dalam keheningan malam, lalu dengannya ia terantar kepada terbitnya fajar.
Inilah waktu untuk menegakkan shalat Subuh sebagai fardhu. Bagi yang mau berpuasa inilah waktu untuk memulai menahan lapar dan haus sampai Maghrib.
Sedemikian agungnya waktu fajar, Nabi SAW menjelaskan bahwa siapa yang melakukan dua rakat fajar (qabliyatush shubhi) pahalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Adapun sepuluh malam (walayaalin ‘asyr) maksudnya adalah sepuluh hari pertama Dzulhijah. Rasulullah SAW menggambarkan dalam hadisnya bahwa tidak ada hari untuk beramal saleh lebih Allah SWT cintai daripada sepuluh hari ini (maksudnya sepuluh hari pertama Dzulhijah). “Maa min ayyaamil amalish shaalih ahabbu ilallahi min haadzhil ayaam”.
Para sahabat bertanya, “Apakah pahala jihad di jalan Allah masih kalah dengan pahala amal saleh yang dikerjalan pada hari-hari ini (Walal jihaadu fii sabiilillah?)”
Nabi menjawab, “Ya, pahala jihad pun masih kalah (Walal jihaadu fii sabiilillah).”
Lalu nabi menjelaskan, “Kecuali orang yang keluar berijihad dengan jiwa dan hartanya lalu ia tida pulang lagi ke rumahnya, maksudnya mati syahid (Illaa rajulun kharaja binafsihii wa maalihi fa lam yarji’ min dzaalika bisyai’)” (HR Bukhari).
Artinya bahwa amal saleh yang dikerjakan pada sepuluh hari pertama Dzuihijah pahalanya sama dengan mati syahid.
Ada dua cara amal saleh yang direbut hamba-hamba Allah pada saat memasuki bulan Dzulhijah ini. Bagi hamba-hamba Allah yang dimudahkan berangkat haji ke Tanah Suci, mereka pada tanggal depalan Dzulhijah akan menuju Mina untuk melakukan Tarwiyah, lalu pada tanggal sembilannya melakukan wukuf di Arafah sejak matahari tergelincir.
Setelah matahari terbenam pada tanggal sepuluhnya, mereka bergerak menuju Muzdalifah dan melakukan mabit di sana sampai fajar. Setelah itu mereka menuju Mina untuk melempar jumrah aqabah.
Lalu mabit di Mina selama tanggal sebelas, duabelas, dan tiga belas untuk melempar jumrah ula, wushtha aqabah. Setelah itu berangkat ke Makkah melakukan thawaf ifadhah dan sai lalu tahallul.
Sebagian ada yang keluar dari Mina tanggal dua belas, ini disebut nafar awal dan sebagian yang lain keluar pada tanggal tiga belas, ini disebut nafar tsani.
Adapun bagi para hamba yang tidak melaksanakan haji, mereka bisa mengisi hari-hari pertama Dzuhijah dengan memperbanyak ibadah, Tahajud, sedekah, shalat Dhuha, berpuasa, terutama puasa Arafah pada tanggal sembilan Dzuhijah.
Lalu puncaknya pada tanggal sepuluhnya melaksanakan shalat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban. Bagi yang sudah berniat berkurban sejak awal Dzuhijah disunnahkan tidak memotong rambut dan kuku supaya menyerupai jamaah haji yang sedang berihram (tasyabnuhan bil hujjaj).
sumber : https://www.republika.id/posts/42224/merebut-keagungan-dzulhijah