Jalan Menuju Husnul Khatimah
amirfath.com, Artikel (242), April 2023 Kematian pasti datang secara tiba-tiba. Tidak ada yang tahu pasti jam dan tanggal berapa kematian itu akan menjemput kita. Yang jelas semua pasti mati.
Surah al-Araf yang diturunkan untuk memberikan pilihan, antara surga dan neraka, baik dan buruk, taat dan maksiat, menyisipkan pesan tentang kematian tersebut. Bahwa setiap orang pasti akan mengalaminya.
Di sini seakan ada pesan pilihlah selalu kebaikan sehingga ketika Anda mati, sedang dalam keadaan berbuat baik. Memang kedatangannya tidak ada seorang pun yang bisa mengatur, menunda atau mempercepat (Wa likulli ummatin ajal, faidzaa jaa a ajaluhum laa yasta’khiruuna saa ‘ataw wa laa yastaqdimuun) (QS al-A’raf [7]: 34).
Kata likulli ummatin ajal menggambarkan tentang tabiat dunia yang pasti ada masa akhirnya.
Kata likulli ummatin ajal menggambarkan tentang tabiat dunia yang pasti ada masa akhirnya. Siapa pun tidak bisa menghindarinya. Tidak ada hubungannya dengan jabatan atau banyaknya harta. Bukan karena seseorang kaya atau masih berkuasa, lalu umurnya bisa diperpanjang.
Kata ummah menunjukkan kelompok, kaum, atau bangsa secara kolektif. Bahwa berakhirnya kehidupan tidak hanya berlaku bagi individu saja, tetapi berlaku juga bagi sebuah bangsa secara kolektif.
Dulu pernah ada bangsa Romawi dan Persia, kini kedua superpower itu sudah berahir. Kata laa yasta’khirun (ditunda) dan laa yastaqdimuun (dipercepat) menunjukkan bahwa kematian tidak bisa direkayasa.
Sekalipun seseorang hidup di alam damai dan sehat, bukan artinya ia masih bisa menuda kematiannya. Atau sebaliknya, bukan karena seseorang hidup di alam perang dan sakit, ia pasti akan mati lebih dahulu.
Tidak demikian hakikat kematian terjadi. Ia bisa menjemput siapa saja, kaya atau miskin, sakit atau sehat pada waktu yang telah ditentukan.
Tidak demikian hakikat kematian terjadi. Ia bisa menjemput siapa saja, kaya atau miskin, sakit atau sehat pada waktu yang telah ditentukan.
Lalu bagaimana caranya supaya husnul khatimah? Inilah pertanyaan yang menjadi cita-cita semua orang. Jawabannya adalah pertama, lakukan selalu kebaikan. Sebab, kematian –sebagaimana dijelaskan di atas– tidak diketahui kedatangannya. Maka dengan melakukan kebaikan setiap saat, jika tiba-tiba datang kematian, bisa dipastikan Anda sedang dalam ketaatan.
Misalnya, bacalah Alquran selalu atau perbanyaklah duduk bersama orang-orang saleh, sehingga pas kematian hadir, Anda sedang membaca Alquran atau sedang mudzakarah (belajar bersama) dengan orang-orang saleh.
Ada juga orang yang menjemput husnul khatimah dengan berniat yang kuat bahwa ia ingin dicabut nyawanya pada saat berceramah. Nabi SAW bersabda: “Innamal a’maalu binniyaat (setiap amal tergantung niat), wa innamaa likullim riin maa nawaa” (dan pasti setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan).
Berdasarkan ini, banyak juga orang yang meninggal dunia sesuai dengan apa yang ia niatkan. Dalam hadis dikatakan bahwa siapa yang berniat mati syahid dengan jujur maka ia akan mendapatkannya sekalipun ia mati di atas kasurnya (man saalasy shahadata shaadiqan ballaghahullahu manaazilasy syuhadaa wa in maat ‘aala firasyihii) (HR Abu Daud).
Selain itu, perbanyaklah melakukan ibadah yang tidak diketahui orang (ibadatul khalawaat). Misalnya melakukan shalat Tahajjud di saat semua orang tidur yang dengannya seseorang akan mencapai kemuliaan (Wa minallaili fatahajjad bihii naafilatallaka ‘asaa ayyab’atsaka rabbuka maqaamam mahmuudaa) (QS al-Isra’ [17]: 79).
Juga biasakan beramal dengan cara rahasia (amalus sir). Misalnya, bersedekah tanpa diketahui orang lain sehingga tangan kirinya pun tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya (Hatta laa ta’lama syimaaluhu maa tunfiqu yamiinuhuu) (HR Bukhari).
Terakhir, perbanyak doa, dengan membaca “Allahumma innii as’aluka husnal khaatimah” (ya Allah aku mohon kepadamu husnul khatimah).
sumber : https://www.republika.id/posts/39383/jalan-menuju-husnul-khatimah