Sunday, July 20

Jagalah Hubungan dengan Alquran

amirfath.com, Artikel (241), April 2023 Alquran adalah kitab yang paling agung. Dalam surah al-Hijr, Allah SWT menegaskan keagungan Alquran ini (Wa laqad aatainaaka sab’an minal mtsanii wal quraanal azhiim) (QS al-Hijr [15]: 87).

Diturunkan pada saat Nabi SAW mengalami intimidasi dari kaum kafir Makkah, surah al-Hijr seakan mengatakan dengan ayat ini: “Wahai Muhammad jangan risau menghadapi ancaman itu, karena di tanganmu ada Alquran”.

Memang segala sesuatu menjadi mulia ketika dihubungkan dengan Alquran. Malaikat Jibril menjadi panglima para malaikat karena membawa Alquran kepada Rasulullah SAW.

Di saat yang sama, Rasulullah SAW menjadi pemimpin para nabi (sayyidul anbiyaai wal mursaliin) karena menerima Alquran. Bulan Ramadhan menjadi paling mulianya bulan (sayyudusy syuhuur) karena diturunkan di dalamnya Alquran (syahru ramadhaanal ladzii unzila fiihil quraan) (QS al-Baqarah [2]: 185).

Malam al-Qadar menjadi paling agungnya malam karena diturunkan di dalamnya Alquran (innaa anzalnaahu fii lailatil qadr) (QS al-Qadr [97]: 1).

Sungguh bagi Allah sangat mudah menghancurkan langit dan bumi dengan segala isinya, jika Allah tidak ingin menurunkan Alquran.

Karena itu, para ulama sepanjang sejarah keilmuan Islam, bahkan kaum muslimin pada umumnya berlomba-lomba untuk menghubungkan diri mereka dengan Alquran. Sebagian dengan cara membacanya siang dan malam tanpa lelah.

Diceritakan bahwa di rumah-rumah para sahabat terdengar suara mendengung seperti suara lebah.

Diceritakan bahwa di rumah-rumah para sahabat terdengar suara mendengung seperti suara lebah (shautun ka dzawin nahl) orang-orang membaca Alquran. Imam An-Nawawi menggambarkan dalam kitabnya at Tibyaan fii Adaabi Hamalatil Quraan: Ada yang mengkhatamkannya dua bulan sekali, sebagian sebulan sekali, sebagian sepuluh hari sekali, sebagian setiap delapan hari sekali. Banyak juga yang khatam setiap tujuh hari, setiap enam hari, setiap empat hari. Tidak sedikit yang khatam setiap dua hari, bahkan banyak juga yang khatam setiap hari sekali.

Ada juga yang menulis Alquran dengan tangannya sendiri. Para sahabat banyak yang menulis secara pribadi apa yang mereka hafal dari Alquran.

Karena itu, Zaid bin Tsabit pada pada saat mengumpulkan Alquran –kata Syekh Az Zurqani– ia tidak hanya berdasarkan apa yang dihafal para sahabat tetapi juga berdasarkan apa yang mereka tulis (maa kutiba baina yadayir rasuuli, wa maa kaana mahfuzhan fii shuduurir rjaal) (Manahulu Irafan, Zurqaani: 1/252).

Di Muritania menjadi kebiasaan anak-anak kecil berlomba menghafalkan Alquran sambil menulis. 

Di Muritania menjadi kebiasaan anak-anak kecil berlomba menghafalkan Alquran sambil menulis. Di Turki ada seorang Syekh yang setiap hari membaca Alquran. Khawatir pada masa tuanya, ia tidak bisa membacanya lagi karena pandangannya semakin rabun. Maka ia menulisnya dengan tulisan yang lebih besar.

Di India ada seorang ibu yang berhasil menulis Alquran dengan jahitan tangannya. Saya melihat langsung mushaf ini di Musium Madinah, sampai sekarang masih ada.

Para ulama banyak yang menulis Tafisir Al-Quran supaya mendapatkan kemuliaannya. Imam Ath-Thabarai menuslis tafsir bernama Jami’ul bayaan ‘an ta’wiili aayil quraan dikenal dengan Tafsirut Thabari.

Begitu juga Ibn Katsir dengan nama kitabnya Tafsirul Quranil Azhim, dikenal dengan Tafsir ibn Katsir. Sayid Quthub menulis tafsir dengan pendekatan sirah yang menggerakkan jiwa agar mempunyai semangat iman yang kokoh dalam kitabnya Fiizhilalail Quraan.

Tidak sedikit para ulama yang juga menulis ilmu-ilmu tentang Alquran, seperti Imam Az- Zakasyi dalam bukunya Al-Burhaan fii uluumil Quran dan Ash Shyutuhi dalam bukunya Al Iqaan fii uluumil Quran. Ini semua karena memburu keagungan Al Quran.

Mereka tahu bahwa paling mulianya ilmu adalah ilmu-ilmu Alquran (asyaraful uluum uluumul quraan).

sumber : https://www.republika.id/posts/39347/jagalah-hubungan-dengan-alquran

About Post Author