Rahasia Diikatnya Setan
amirfath.com, Artikel (240), April 2023 Apa maksud bahwa setan-setan diikat selama Ramadhan? Tetapi mengapa di sana-sini masih ada pemandangan dosa di Ramadhan?
Untuk menjelaskannya kita merujuk kepada surah al-Baqarah [2]: 183 tentang kata ash shiyaam (puasa). Bahwa ketika seorang hamba berpuasa, otomatis akan ter-setting mindset-nya untuk menghindari segala hal yang membatalkannya.
Secara hakikat, Nabi SAW telah memberikan aba-aba bahwa puasa itu bukan hanya menghindari makan dan minum, melainkan juga menjauhi segala dosa, seperti berbohong, menipu, mencuri, dan sebagainya.
Hadis yang mengatakan bahwa bagi orang yang suka berbohong dan menipu Allah SWT tidak butuh puasanya (Man lam yada’ qaulaz zuuri wal ‘amal bihii falaisa lillahi haajah fii ay yada’a tha’aamahu wa syaraabahuu) (HR Turmidzi). Hal ini karena dosa menipu dan berbohong akan menghapus pahala puasanya.
Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus.
Bila pahalanya terhapus, maka otomatis puasa tersebut hanya tinggal lapar dan haus. Karena itu, dalam hadis dikatakan bahwa berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus (Kam min shaaimin laisa lahuu min shiyaamihii illal juu’u wal athasy) (HR an-Nasai).
Memang dari segi ilmu fikih apa yang membatalkan puasa adalah memasukkan sesuatu ke dalam pencernaan dengan sengaja (idkhalusy syai ilall jaufi ‘amadan). Kata ‘amadan dalam Alquran disebut muta’ammidan (sengaja). Jika seorang lupa atau tidak sengaja makan dan minum, itu tidak membatalkan puasanya.
Nabi SAW menegaskan bahwa tidak dianggap dosa orang yang melakukan suatu pelanggarana karena lupa atau tidak sengaja (rufi’a ‘an ummatii alkhathu wan naisyaan) (HR Thabrani). Alquran menyebutkan istilah muta’ammidan mengenai pembunuhan bahwa hukuman bagi pelakunya sangat berat, yaitu neraka selamanya dan mendapatkan murka serta laknat dari-Nya (Wa may yaqtul mukminan muta’ammidan fajazaauhuu jahannam khaalidan fiihaa wa ghadhiballahu ‘alaihi wa la’anahu wa a’adda lahuu ‘adzaaban ‘azhiimaa) (QS an-Nisa’ [4]: 93).
Bila kesengajaan ini dilakukakan pada saat berpuasa Ramadhan dengan makan siang hari tanpa alasan yang diizinkan syariat, maka pelakunya telah melakukan dosa besar, sekalipun diganti di hari yang lain.
Apa yang kita jelaskan di atas menunjukkan bahwa ibadah puasa hakikatnya tidak saja ibadah fisik, yaitu dengan menahan lapar dan haus tetapi juga ibadah ruhani dengan menjaga diri dari perbuatan dosa. Bila seorang hamba berhasil melaksanakannya dengan memenuhi kedua dimensi tersebut, inilah puasa yang hakiki.
Atau boleh jadi itu simbolis karena banyaknya kebaikan yang berjalan serempak secara kolektif maupun individual, maka setan tidak mampu membendung kebaikan tersebut.
Namun jika hanya memenuhi dimensi fisiknya saja, maka sekalipun secara fikih puasanya sah, tetapi dari segi pahalanya tidak ada.
Bila dikatakan bahwa dalam Ramadhan setan diikat, itu boleh jadi bermakna hakiki, yaitu bahwa Allah SWT benar-benar mengikat setan-setan sehingga selama Ramadhan para setan itu tidak bisa beroperasi.
Atau boleh jadi itu simbolis karena banyaknya kebaikan yang berjalan serempak secara kolektif maupun individual, maka setan tidak mampu membendung kebaikan tersebut.
Jika di sebagian tempat masih ada yang berbuat dosa, boleh jadi karena di tempat itu tidak orang yang berpuasa atau karena lemahnya iman mereka atau dosa tersebut masuk melalui pintu nafsu. Sebab, sekalipun di siang hari pintu nafsu telah disempitkan melalui puasa, tetapi di malam hari pintu nafsu itu terbuka lagi. Dari pintu nafsu inilah boleh jadi dosa-dosa bermunculan di Ramadhan.
sumber : https://www.republika.id/posts/39288/rahasia-diikatnya-setan