Keistimewaan Alquran
amirfath.com, Artikel (223), Mar 2023 Alquran sangat istimewa, karena isinya firman Allah SWT, pemilik alam semesta. Tidak ada keraguan di dalamnya (laa raiba fiihi) sebagai petunjuk yang harus diikuti untuk mencapai takwa (hudal lilmuttaqiin) (QS al-Baqarah [2]: 2).
Tidak ada seorang hamba bertakwa tanpa Alquran. Surah al-Isra’ mengungkap beberapa keistimewaan Alquran.
Di antaranya bagi ahlul Quran akan mendapatkan penjagaan, “Wa idzaa qara’tal qur’aana ja’alnaa bainaka wa bainalladziina laa yu’minuuna bil aakhirati hijaabam mastuuraa” (Apabila engkau Nabi Muhammad, membaca Alquran, Kami adakan suatu tabir yang menutup antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman pada alam akhirat) (QS al-Isra’ [17]: 45).
Kata hijabam mastura maksudnya tabir pernghalang yang akan menjaga ahlul Quran dari keburukan orang-orang zalim. Kata mastuuraa adalah isim maf’ul sebagai ganti dari saatira bentuk ism fail, suatu ungkapan superlative untuk menggambarkan perlindungan yang sangat rapi dan tertutup rapat.
Nabi SAW menegaskan bahwa ahlul Quran adalah keluarga Allah SWT yang paling istimewa. Beberapa bukti telah Allah SWT tunjukkan kepada Rasulullah SAW ketika hari itu Nabi SAW sedang membaca Alquran.
Beberapa bukti telah Allah SWT tunjukkan kepada Rasulullah SAW ketika hari itu Nabi SAW sedang membaca Alquran.
Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Ummu Jamil bersepakat akan menyakiti Nabi SAW. Tetapi dengan izin Allah SWT telinga mereka tidak bisa mendengar sama sekali suara Nabi SAW saat membaca Alquran.
Bukti lain lagi, malam itu rumah Nabi SAW dikepung oleh sekelompok anak muda yang bersekapat akan membunuhnya. Seketika mata mereka tidak bisa melihat Nabi SAW yang sedang keluar di hadapan mereka dengan terang-terangan.
Bahkan Nabi SAW sempat mengatakan, “syaahatil wujuuh” sambil melemparkan debu ke muka mereka. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mendengar ucapan Nabi SAW tersebut, juga tidak ada satu pun yang melihatnya.
Surah al-Isra juga menggambarkan bahwa Alquran mengandung sejarah masa lalu tentang orang-orang sukses kerena patuh kepada Allah SWT seperti para nabi dan pengikutnya dan orang-orang yang gagal karena tidak mau beriman kepada kebenaran yang Allah SWT turunkan.
Bagi yang gagal adalah azab Allah di dunia dan di akhirat. Sebagian dari mereka ada yang dihancurkan perkampungannya dengan suara yang sangat keras seperti yang dialami kaum Tsamud (fa’amma tsamuudu fauhlikuu bith thaaghiyah) (QS al-Haqah [69]: 5).
Sebagian lainnya dihancurkan dengan angin yang sangat kencang dan sangat dingin seperti yang dialami kaum Aad (Wa ammaa ‘aadun fauhlikuu biriihin sharsharin ‘aathiyah) (QS al-Haqah [69]: 6).
Surah al-Isra’ meringkasnya dalam ayat berikut, “Wa in min qaryatin illa nahnu mhlikuuhaa qabla yaumil qiyaamati) (QS al-Isra’ [17]: 58).
Alquran juga digambarkan sebagai syifa (Wa nunazzilu minal quraani maa huwa syifaauw warahmatul lil mu’miniin) (QS al-Isra’ [17]: 82). Kata syifa (kesembuhan) maksudnya kesembuhan secara umum, jasmani maupun ruhani.
Bila hatinya kotor maka Alquran tidak bisa menjadi syifa baginya. Sebaliknya, jika hatinya lembut maka Alquran akan menjadi penyembuh baginya.
Adapun kesembuhan jasmani sudah pernah terjadi di zaman nabi seperti yang diriwayatkan Abi Said Al-Khudri bahwa sebagian sahabat saat melewati sebuah perkampungan diminta untuk mengobati kepala suku mereka yang disengat ular. Para sahabat ketika itu hanya membacakan surah al-Fatihah. Dengan izin Allah SWT, kepala suku itu sembuh.
Adapun dari sisi kesembuhan ruhani, ini sangat bergantung pada hati yang menyimak Alquran. Bila hatinya kotor maka Alquran tidak bisa menjadi syifa baginya. Sebaliknya, jika hatinya lembut maka Alquran akan menjadi penyembuh baginya.
Umar bin Khaththab pernah mengalami sendiri pada saat hatinya penuh kekafiran, Alquran tertolak. Namun ketika hati Umar lembut dan siap menerima hidayah, seketika apa yang ia simak dari saudrainya berupa ayat-ayat Alquran bisa membuatnya beriman.
sumber : https://www.republika.id/posts/38219/keistimewaan-alquran