Friday, July 18

Keutamaan Majelis Ilmu dan Perintah Iqra’

amirfath.com, Artikel (224), Mar 2023 Tidak ada majelis di muka bumi yang lebih Allah SWT sukai daripada majelis ilmu. Sungguh celaka orang yang menghina para pencinta majelis ilmu. Surah al-Alaq diturunkan pertama-tama kepada Rasulullah SAW adalah untuk menunjukkan hakikat ini.

Perintah iqra’ (membaca) dalam ayat “iqra’ bismi rabiikal ladzii khalaq” (QS al-Alaq [96]: 1) menjadi bukti bahwa ilmu akan didapat melalui membaca. Bahwa semua kegiatan membaca akan menjadi ilmu ketika dilakukan dengan kesadaran “bismi rabbika” (dengan nama Allah Tuhamu). Sebab dari sini akan muncul kesadaran tauhid “laailaaha illallah” (tiada tuhan selain Allah).

Karena itu, bedakan antara pengetahuan dan ilmu. Pengetahuan didapat melalui sekadar membaca tanpa kesadaran bismi rabbika, akibatnya banyak orang yang telah menyandang gelar kesarjanaan tetapi semakin jauh dari Allah SWT. Bahkan, mereka menjadikan keahliannya sebagai alat untuk menyesatkan orang demi keuntungan transaksional.

Sejak dini Alquran telah mengantispasi munculnya penyakit intelektual transaksional tersebut. Allah SWT berfirman, “Innamaa yakhsyallaha min ibaadihil ulamaau” (hanya para ulama yang memiliki rasa takut kepada Allah) (QS Fathir [35]: 28).

Semakin seorang berilmu pasti akan semakin takut kepada Allah SWT.

Maksudnya bahwa semakin seorang berilmu pasti akan semakin takut kepada Allah SWT. Di sini tampak bahwa ilmu yang disebutkan dalam ayat adalah yang ditopang dengan hidayah.

Sebuah riwayat mengatakan, “maniz daada ‘ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallahi illaa bu’daa” (siapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah hidayahnya maka akan semakin jauh dari Allah SWT). Artinya, ilmu tanpa hidayah hanya akan menjadi pengetahuan biasa berupa gelar-gelar akademis yang seringkali menyebabkan kesombongan dan kesesatan intelektual.

Itulah mengapa doa yang harus selalu dibaca dalam surah al-Fatihah adalah ihdinash shiraathal mustaqiim (berilah aku hidayah ke jalan yang lurus) (QS al-Fatihah [1]: 6).
Kata ihdinaa (beri kami hidayah) adalah permohon yang paling agung dalam mencari. Sebab, prestasi keilmuan apapun tidak akan ada gunanya tanpa hidayah-Nya.

Para ulama sempat mencari jawaban apa maksud hidayah dalam doa tersebut. Jawabannya baru diketahui setelah mempelajari ilmu manasabat (keterkaitan antara susunan surah dan ayat Alquran). Bahwa maksudnya adalah Alquran.

Sebab doa tersebut terdapat dalam surah al-Fatihah lalu setelah itu surah al-Baqarah yang dibuka dengan ayat dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi (inilah Alquran yang tidak ada keraguan di dalamnya) (QS al-Baqarah [2]: 2).

Semakin ilmu itu digali dari Alquran maka akan semakin menguatkan iman dan khasyyah.

Artinya, hidayah yang dimaksud adalah Alquran. Semakin ilmu itu digali dari Alquran maka akan semakin menguatkan iman dan khasyyah (rasa takut kepada Allah SWT).

Namun, faktor yang paling menetukan dalam hal ini adalah kejujuran hati (qalbun saliim) (QS asy-Syu’ara’ [26]: 89).

Seorang ulama menjelaskan bahwa tafsir yang paling baik adalah yang lahir dari hati yang jujur. Silakan seorang ahli tafsir menjelaskan makna ayat-ayat Alquran dari berbagai rujukan kitab tafsir yang paling representatif tetapi jika hatinya bengkok, maka akan lahir tafsir yang bengkok.

Berapa banyak dari kalangan akademisi yang menafsirkan Alquran, tetapi mereka jatuh dalam makna yang keliru karena memaksa ayat-ayat Alquran ikut jalan pikirannya yang salah.

Sebelum memasuki alam tafsir hendaknya dipastikan terlebih dahulu hati yang mengantarkan penafsiran terebut.

Penyebabnya adalah karena hatinya tidak lurus. Karena itu, sebelum memasuki alam tafsir hendaknya dipastikan terlebih dahulu hati yang mengantarkan penafsiran terebut.

Syeikh Asy Sya’rawi memberikan perumpamaan sebuah televisi. Sekalipun jaringannya bagus, tetapi jika televisisnya rusak maka tidak akan bisa memancarkan tayangan dengan baik.

Alquran pasti benar, tetapi jika orang-orang yang menerimanya mempunyai hati yang kotor maka pasti ayat-ayat Alquran akan dibawa kepada pemahaman yang kotor dan menyesatkan.

sumber : https://www.republika.id/posts/38314/keutamaan-majelis-ilmu-dan-perintah-iqra

About Post Author