Sunday, August 24

Penghalang untuk Berbuat Adil

amirfath.com, Artikel (184), November 2022

Mengapa dalam surah an- Nisa ada ayat tentang sikap bakhil dan riya? Apa hubungannya dengan keharusan berbuat adil sebagai tema pokoknya? Ternyata ini adalah pesan bahwa sikap bakhil dan riya adalah penghalang untuk berbuat adil.

Ayat 37 tentang bakhil, Alladziina yabkhaluuna wa ya’muruunan naasa bilbukhli(Orang-orang yang kikir dan mengajak orang lain agar berbuat kikir).Ayat 38, tentang riya: Walladzii na yunfiquuna amwaalahum riaa annaasi(Orang-orang yang menafkahkan harta mereka karena riya). Seakan dikatakan:wahai kaum Muslimin, janganlah sekali-kali Anda berakhlak bakhil dan riya karena tidak mungkin Anda berbuat adil selama Anda mengidap kedua penyakit tersebut.

Lalu Allah tegaskan bahwa diri-Nya menolak untuk berbuat za lim walaupun hanya sebesar zarrah: Innallaha laa yazhlimu mitsqaala dzarratin.(QS 4: 40). Ini untuk menunjukkan bahwa ke za lim an adalah perbuatan yang paling dibenci oleh-Nya. Maka, siapa pun selain-Nya yang berbuat zalim adalah musuh-Nya. Karena itu, pada ayat 58, Allah memerintahkan agar setiap amanah dilaksanakan dengan seadil-adilnya: Innallaha ya’murukum an tuaddul amaanaati ilaa ahlihaa, wa idzaa hakamtum bainan naasi an tahkumuu bil adli (Sesungguhnya Allah menyuruhmu agar menyampaikan amanah kepada yang berhak dan menyuruhmu agar menetapkan hukum di antara manusia dengan adil).

Dari apa yang telah dijelaskan di atas, nampak bahwa keadilan akan tegak jika para pelakunya adalah orang-orang beriman yang patuh kepada Allah dan rasul-Nya.Karena itu pada ayat berikutnya kita membaca ayat: Ya ayyuhalla dziina aamanuu athii’ullaha wa athii’ur rasuula wa ulil amri min kum(Wahai orang yang beriman, taatilah Allah dan rasul-Nya serta ulil amridi antara kamu). (QS 4: 59).

Ini untuk menunjukkan bahwa orang yang tidak beriman akan sulit berbuat adil karena selalu dihantui penyakit kikir dan riya.Sebaliknya orang-orang yang beriman akan merasa berdosa jika suatu saat melakukan kezaliman, ia akan segera memohon ampun kepada-Nya: Wa lau annahum idz zhalamuu anfusahum jaauuka fastaghfarullahaa. (QS 4: 64).

Jadi, hanya orang-orang beriman yang paling bertanggung jawab untuk menegakkan keadilan di muka bumi. Bagi mereka tanggung jawab ini adalah sebagai bukti keimanannya, untuk itu tidak ada pilihan kecuali harus berserah diri pada ketentuan Allah dan Rasul-Nya tanpa ragu sedikit pun: Fa laa wa rabbika laa yu’minuuna hattaa yuhakkimuunaka fiimaa syajara bainahum(Sungguh tidak dianggap beriman mereka yang tidak menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan). (QS 4: 65).

Dalam konteks ini kita menger ti mengapa dalam surah an- Nisa’ ada ayat tentang perang: Wa maa lakum laa tuqaatiluuna fii sabilillaahi wal mustadh’afiin minar rijaali wan nisaai(Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah, untuk membela orang-orang yang lemah, laki-laki, perempuan, dan anak-anak).
(QS 4: 75). Ini artinya, untuk menegakkan keadilan dan berpihak kepada yang lemah kadang menuntut terjadinya peperangan sebagai solusi.

sumber : Republika, jumat 11 november 2022 Hal. 10

About Post Author