Logika Dakwah yang Cerdas
amirfath.com, Artikel (179), Oktober 2022
Kisah pengikut Nabi Musa yang menyembunyikan imannya yaktumuiimaanahuu sempat direkam dalam surah Ghafir ayat 28. Menarik karena fokus pembahasannya mengenai kecerdasan hamba tersebut dalam berdakwah.
Sekalipun ia berhadapan langsung dengan Fir’aun, penguasa paling zalim sepanjang sejarah manu sia, tetapi ia masih bisa membela Nabi Musa dengan cara yang sangat cerdas. Dikatakan ia termasuk kerabat Fir `aun. Pada ayat 28, Allah merekam ucapannya kepada Fir’aun: Ataqtuluuna rajulan ay yaquula rabbiyallah(apakah kamu akan membunuh seorang yang mengatakan Tuhanku Allah?).Sebuah pembelaan yang dalam membuat Fir’aun berpikir ulang.
Pada ayat berikutnya ia menegaskan bahwa Nabi Musa datang dengan bukti yang kuat berupa mukjizat:
Wa qad jaa akum bil bayyinaat mir rabbikum. Kata mir rabbikum(dari Tuhanmu)mengesankan bahwaTuhan yang diajarkan Musa adalah Tuhanmu juga wahai Fir’aun. Setelah itu ia mengajak Fir’aun berpikir lebih jauh: Wa inyyaku kadziban fa `alahi kadzibuhu wa iyyaku shaadiqan yushibkum ba’dhalladzii yaidukum (Jika Musa berdusta maka akibat dustanya akan memenimpanya.Namun, jika Musa benar, bahayanya akan menimpa kamu wahai Fir’aun).
Mendengar ini Fir’aun terhenyak sejenak. Seakan terlintas dalam pikirannya, benar juga pandangan tersebut. Makin terpukul ketika Fir’aun mendengarkan ucapannya: Innallaha la yahdii man huwa musrifun kadzdzaab(Sesungguhnya Allah tidak akan memberi hidayah kepada siapa yang melampaui batas dan pendusta).
Orang tersebut memang dikenal sebagai anggota polisinya Fir’aun. Karena itu, ia berani berdakwah secara umum: Yaa qaum lakumul mulkul yaum zhaahiriin fil ardh famay yanshurunaa min ba’sillahi in jaa anaa(Wahai kaumku pada hari ini kerajaan masih di tangamu, tetapi siapa yang bisa menolong kita jika kelak azab Allah datang?).
Pesan ini makin membuat Fir’aun dan pengikutnya tercekam kekhawatiran. Akhirnya, Fir’aun berusaha meyakinkan kaumnya dengan cara berbohong: Aku hanya bisa memberikan kepadamu apa yang menurutku baik, dan aku hanya menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Dari pernyataan ini tergambar kegamangan Fir’aun.
Lalu, ajudan Fir’aun tersebut mengingatkan dengan sejarah tentang azab yang pernah menimpa kaum Nuh, Aad, dan Tsamud. Peristiwa tersebut masih belum hilang dalam ingatan mereka dan bisa disaksikan bekas- bekasnya: Inii akhaafu alaikum mitsla yaumil ahzaab(Aku khawatir ada azab akan menimpa kamu seperti yang pernah menimpa kaum yang bersekutu memusuhi Nabinya).
Ditambah lagi dengan menyebutkan ancaman di akhirat:Innii akhaafu alaikum yaumata tanaad(Aku khawatir kelak kamu di hari kiamat akan diazab). (QS Ghafir: 20-23). Ini semua adalah bukti cara berdakwah yang sangat dahsyat. Membuat lawan bicaranya tidak bisa berkutik melainkan harus mengakui kebenarannya.