Berdakwah kepada Penguasa
amirfath.com, Artikel (178), Oktober 2022
Fir’aun merupakan contoh penguasa zalim yang namanya sering kali disebutkan dalam Alquran. Puncak kezaliman penguasa Mesir kuno itu adalah klaim dirinya sebagai tuhan. Ia berkata, Anaa rabbakumul a’laa. (Aku tuhanmu yang paling tinggi). (QS an-Nazi’at: 24).
Untuk berdakwah kepada Fir’aun, Nabi Musa AS diutus oleh Allah Ta’ala. Sang utusan didampingi oleh Nabi Harun AS. Pergilah engkau beserta sau daramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasa an)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai meng ingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun karena ia benar-benar telah melampaui batas. Ma ka, berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut (qawlal lay yinan), mudah-mudahan ia sadar atau takut. (QS Taha: 42-44).
Perintah berdakwah dengan lemah-lembut, qawlal layyinan, adalah cara terbaik untuk menghadapi penguasa yang zalim. Buah atau hasilnya jelas, yakni perubahan kondisi hati; dari yang keras menjadi lunak. Yang didakwahi akan tersadar dan kembali bertobat kepada-Nya.
Surah Ghafir merekam betapa kerasnya hati Fir’aun yang melebihi batu. Dakwah Nabi Musa tidak hanya ditolak, tetapi juga dihadapkan dengan pelbagai ancaman yang sangat menakutkan.
Surah tersebut diceritakan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menenangkan hati beliau.
Ketika berdakwah kepada masyarakat, Rasulullah SAW menghadapi pula tantangan yang sama.
Dalam surah Ghafir ayat ke-24 disebutkan bahwa Nabi Musa dituduh sebagai tukang sihir dan pendusta oleh Firaun. Para menteri dan pendu kung nya, yang disebut haamaandan qaaruun, pun ikut mengintimidasi. Mereka berkata, Saahirun kadzdzaab.
Kata saahirundiucapkan karena mereka tidak mampu menandingi mukjizat Nabi Musa AS yang luar biasa. Dengan mukjizat dari Allah itu, sang rasul berhasil menundukkan para penyihir Fir’aun, yakni dengan berubahnya tongkat menjadi ular.
Para penyihir tersebut begitu menyaksikan mukjizat seketika menolak Firaun. Mereka langsung menyatakan beriman kepada Allah.
Adapun kata kadzdzaab(pendusta) diucapkan menteri dan pendukung Firaun karena tidak ada cara lain untuk menolak kebenaran Nabi Musa. Itu pun dilakukan mereka guna membodohi rakyat agar tidak beriman.
Firaun telah melihat, hadirnya Nabi Musa ada lah tanda keruntuhan bagi kekuasaannya. Karena itu, ia memvonis semua pengikut sang nabi. Yang laki-laki akan dibunuh, sedangkan kaum perem puannya dibiarkan hidup. Uqtuluu abnaa al ladzii na aamanuu ma’ahuu wastahyuu nisaa ahum. (QS Ghafir: 25).
Firaun lalu sesumbar, dirinya akan membunuh Nabi Musa. Ternyata, ia justru ditenggelamkan oleh Allah SWT di Laut Merah. Demikianlah, sebuah reali tas sejarah bahwa kebenaran tidak akan per nah dikalahkan oleh kekuasaan, sehebat apa pun.