Wednesday, August 27

Teguh dalam Kebenaran

amirfath.com, Artikel (166), Agustus 2022

Salah satu hikmah surah Ali Imran adalah renungan tentang keteguhan hati. Surah ketiga dalam Alquran itu menunjukkan langkah-langkah supaya seorang hamba Allah tetap kuat berpegang pada kebenaran.

Rintangan untuk membela yang benar memang terasa sangat berat. Para nabi banyak yang dibunuh karena menyampaikan dan mempertahankan kebenaran.

Berikut langkah-langkah itu. Pertama, perbanyaklah berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Dalam ayat kedelapan, terdapat munajat yang dapat diucapkan seorang Mukmin agar dirinya dilindungi dari ketergelinciran dan sekaligus tetap bertahan dalam petunjuk-Nya.

Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa(Ya Allah, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau memberikan hidayah).

Surah Ali Imran menyebutkan sejumlah tokoh besar dalam sejarah. Mereka selalu berlindung kepada Allah Ta’ala. Salah satu contohnya adalah istri Imran. Wanita mulia ini teguh berkeinginan menjaga Masjid al-Aqsha. Caranya dengan menjadikan anaknya berkhidmat di sana.

Rabbi innii nadzartu laka maa fii bathnii muhar raran fataqabbal minnii (Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa [janin] yang dalam kandunganku [kelak] menjadi hamba yang mengabdi [kepada-Mu di Baitul Makdis], maka terimalah [nazar] dariku). (QS Ali Imran: 35).

Begitu pula dengan Nabi Zakariya. Ia memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang baik untuk kelanjutan menjaga agama Allah. Rabbi hablii min ladunka dzurriyyatan thayyibah(Ya Allah, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu). (QS Ali Imran: 38).

Surah yang sama merekam keteguhan hati para nabi dan umatnya yang beriman. Mereka tetap berupaya walaupun harus menahan luka dan perih dalam perjuangan melawan musuh-musuh Allah.Famaa wahanuu limaa ashaabahum fii sabiilillahi wa maa dha’ufuu wa mas takaanuu. (QS Ali Imran: 146).

Mereka berdoa, Robbanaghfirlanaa dzunuuba na wa israafanaa fii amrinaa wa tsabbit aqdaamanaa(Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan [dalam]urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami). (QS Ali Imran: 147).

Sedemikian indahnya untaian doa tersebut. Pada ayat 193-194, permohonan ampunan dan kesela matan–dunia maupun akhirat–terus mengalir.Dahsyatnya lagi, Allah langsung menerima permohonan tersebut. Fastajaaba lahum rabbuhum(Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya). (QS Ali Imran: 195).

Langkah berikutnya adalah memperbanyak ibadah. Dalam surah Ali Imran, kata mihrabdise butkan berkali-kali untuk menggambarkan ke khu syukan ibadah seorang hamba kepada Tu han nya. Misalnya, dalam ayat ke-39. Fanaa dathul ma laaikatu wahuwa qaa`imuyyushallii fil mih raab(Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia [Nabi Zakaria] berdiri melaksanakan shalat di mihrab).

Pada akhir surah Ali Imran, Allah menyebutkan sifat-sifat orang-orang cerdas, yakni kaum ulul albab. Di antara ciri-cirinya berkaitan dengan ibadah. Mereka selalu berzikir, baik dalam keadaan berdiri maupun duduk. Alladziina yadzkuruunallaha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuu bihim. (QS Ali Imran: 191).

sumber : Republika, senin 5 September 2022 Hal. 16

About Post Author