Al Baqarah : 87 – 88
Sikap Kaum Yahudi Terhadap Risalah dan Para Rasul
Dr. Amir Faishol Fath
وَلَقَدْ آتَيْنا مُوسَى الْكِتابَ وَقَفَّيْنا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّناتِ وَأَيَّدْناهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّما جاءَكُمْ رَسُولٌ بِما لا تَهْوى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقاً كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقاً تَقْتُلُونَ (87) وَقالُوا قُلُوبُنا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلاً ما يُؤْمِنُونَ (88)
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.
Rahasia Urutan Ayat
Sudah dijelaskan bagaimana kaum yahudi adalah kaum yang suka melanggar janji. Tidak saja perjanjian kepada sesama mereka tetapi juga kepada para Rasul. Mereka telah mempunyai hati yang sangat keras sehingga sulit diberi nasihat. Semua peringatan tidak bisa masuk ke dalam hati mareka. Kok akan manusia biasa, para nabi saja yang menyampaikan pesan-pesan itu mereka tidak mau mendengarkannya. Toh kalaupun mereka awalnya nampak menerima, tetapi setelah itu mereka melanggarnya kembali. Begitulah sejarah kaum Yahudi, adalah sejarah genarsi yang penuh dengan pelanggaran-pelanggran terhadap janji. Dan dari saking terbiasanya melanggar janji sehingga mereka tidak merasa berdosa dengan pelanggaran-pelanggaran tersebut. Bahkan kebiasaan melanggar itu terus mereka pertahankan secara turun temurun, sampai kepada genarasi kaum Yahudi masa kini juga masih terus melanggar janji. Terutama ketika mereka terjepit, mereka buat perjanjian damai. Dan begitu mereka merasa kuat, perjanjian itu dilanggar lagi oleh mereka.
Lalu pada ayat ini Allah swt. ingin menceritakan bagaimana kaum Yahudi sudah tidak mempan lagi mendengar nasihat para Nabi dan Rasul. Tidak saja kepada Nabi Musa, tetapi juga keopada semua nabi setelah Nabi Musa, sampai kepada Nabi Isa alaihimussalam. Dalam ayat Allah swt. menggunakan kata “ wa qaffaynaa min ba’dihi” itu artinya bahwa para rasul yang diutus setekah nabi Musa cukup banyak jumlahnya dan berdatangan secara terus menerus. Kata “qaffa” (berdatangan secara beruntun, tanpa terputus sama sekali). Jadi setiap kali diutus kepada kaum yahudi mengajarkan ajaran wahyu, mereka hanya sejenak patuh lalu setelah itu mereka melanggar lagi. Kemaksitan kembali meraja lela di tengah-tengah mereka. Lalu Allah utus lagi nabi yang lain lagi. Setelah itu mereka bejat lagi. Begitu seterusnya sampai datang Nabi Isa aliahissalam.
Jadi antara Nabi Musa dan nabi Isa banyak nab-nabi yang Allah utus. Di antaranya : Yusya’, Asymaweih, Syam’un, Daud, Sulaiman, Syuieb, Armiya, Hazqiel, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakaria, Yahya dan seterusnya. Inilah makna ayat : “walaqad atainaa musal kitaaba wa qaffaynaa min ba’dihii bir rusul wa aatainaa iisabnu maryamal bayyinaati” (Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam).
Apa Di Balik Banyaknya Para rasul Yang Diutus
Masih termasuk makna “wa qaffayna” bahwa para rasul yang diutus benar-benar berklanjutan. Tanpa menuggu waktu kosong, nabi dan rasul terus diutus ke tengah-tengah mereka. Bahkan sampai di zaman yang sama diutus juga rasul-rasul di termpat-tempat lain. Itupun tidak membuat kaum Yahudi sadar. Melainkan malah mereka semakin brutal. Dari sini kita paham bahwa diutusnya banyak Rasul ke tengah-tengah mereka bukan karena mereka dimuliakan, tetapi untuk menunjukkan bahwa mereka sudah sangat keras hatinya sehingga berapapun para nabi yang didatangkan tetap tidak akan mempan masukkan pesan ke dalam hati mereka.
Mereka adalah kaum materialistis yang sangat kental. Sehingga bagi mereka sesuatu dikatakan ada kalau ada bentuknya. Karenanya mereka tidak beriman kepada Allah kecuali harus ditampakkan. Dengarkan Allah merekam perkataan mereka kepada Nabi Musa: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya” (QS. Al Baqarah : 55). Bahkan tidak lama dari waktu turunnya pertolongan Allah, yaitu diselematkannya mereka dari sergapan Firun, mereka langsung minta agar dibuatkan tuhan berupa patung seperti patung-patung yang disembah kaum pada masa itu. Simaklah Allah bercerita tentang mereka dalam surah Al A’raf, 138 : Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”. Bukti lain lagi bahwa kaum Yahudi sudah sangat kental jiwa materialismenya adalah bahwa ketika allah berikan kepada bantuan makanan langsung dari langit, mereka khawatir nanti bantuan tersebut terputus. Karena sandarannya alam gaib. Mereka ingin yang langsung mereka tanam sendiri di atas tanah. Karena itu lebih kelihatan sandarannya.
Maka diutusnya Nabi Isa alaihissalam adalah dalam rangka membangun ruhani mereka. Karenanya Nabi isa didukung dengan bukti-bukti kenabian yang sangat kuat agar mereka segera menyadari akan pentingnya membangun ruhani dan menghancurkan paham materialism yang begitu kuat merasuki jiwa mereka. Allah telah mendukung diutusnya Nabi Isa dengan dua hal yang sangat menguatkan kenabiannya : Pertama, “al bayyinaat” yang artinya bukti nyata tentang kenabian Nabi Isa yang segala prosesnya berlangsung secara ghaib: kelhairannya, kenabiannya, mukjizatnya dan diangkatnya ke langit. Maka kenyataan ini ditonjolkan untuk mendongkrak kekentalan materialism dalam jiwa kaum yahudi sehingga mereka kembali beriman kepada yang ghaib. Kelahiran Nabi Isa sangat didukung oleh faktor ghaib, karena ia lahir tanpa ayah. Di angkatnya ke langit juga di dukung oleh faktor ghaib sehingga sampai sekarang mereka belum menemukan jawabannya. Pun banyak sekali mukjizat yang ditunjukkan oleh Nabi Isa, di mana semuanya didukung oleh faktor ghaib, di antaranya : disembuhkannya orang sakit, dihidupkannya orang mati, disebuitkannya makanan di rumah-rumah mereka dan lain sebagainya.
Kedua, “ruhul quds” yang artinya laikat Jibril. Maksdunya bahwa Nabi Isa didukung oleh Malaikat Jibril setiap saat. Ke mana saja nabi Isa pergi selalu didmpingi Malaikat Jibril. Sebab nabi Isa selalu ternacam akan dibunuh oleh kaumnya. Maka malaikat Jibril senantiasa mendampinginya. Inilah makna ayat : “wa ayyadnaahu biruuhil qudus”. Benar semua Nabi didukung oleh Malaikat Jibril, tetapi pengertiannya sebatas menurunkan wahyu saja. Adapun khusus Nabi Isa lebih bermakna pendambingan secara ketat karenanya begitu Nabi Isa secara tiba-tiba dalam kondisi bahaya langsung malaikat Jibril menyelamatkannya dan langsung mengangakatnya ke langit dengan izin Allah swt.
Alasan ini diperkuat dengan ayat berikutnya yang menjelaskan bahwa kaum Yahudi setip kali kedatangan para Nabi yang tidak mereka sukai, mereka langsung melakukan beberapa sikap berikut : (a) mereka sombong “istakbartum”. Kata istikbar artinya sok merasa besar padahal sebenrnya ia kecil. Maksudnya ia memaksakan dirinya menjadi besar padahal itu di luar levenya. Allah tidak suka orang seperti ini karena yang berhak mengaku besar hanya Allah swt. Kaum yahudi sok merasa dirinya bisa hidup tanpa panduan Allah swt. Karenanya mereka setiap diberi risalah wahyu mereka menolak. Seakan mereka sudh cukup tanpa bimbingan wahyu. (b) mereka mendustkan para rasul “kadzdzbtum”. Dalam kata “kadzdzabtum” tergambar bahwa mereka langsung menutup diri dan menolak apa yang disampikan para rasul dan Nabi. Mereka menganggap bahwa apa yang disampaikan para rasul dan Nabi bukanlah sebuah kebenaran. Ini mereka perbuat karena kesombongan yang mereka miliki. (c) mereka membunuh para rasul dan Nabi “taqtuluun”. Sungguh tidak sedikit dari para rasul dan nabi yang mereka bunuh, seperti Nabi yahya dan Nabi Zakaria. Bahkan di antara rahsia diangkatnya Nabi Isa ke langit adalah karena mereka sedang berusaha membunuhnya, tetapi kemudian Allah buat salah seorang dari mereka menyerupai Nabi Isa, dan dialah yang dibunuh. Sementara nabi Isa seketiak itu langsung diangkat ke langit oelh Allah swt. Simaklah Allah swt. berfirman : Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina. dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. An Nisa’ : 156-158).
Dalam ayat ada kata “la tahwaa”. Dalam pemilihan kata tersebut ada makna penting: (a) bila ia dimabil dari kata “hawa – yahwa” artinya jatuh ke bawah. (b) bila diambil dari kata “hawiya-yahwa” maka artiny condong ke syahwat. Keduanya sama mengantarkan kepada makna jatuh ke bawah. Karena orang yang bergelimang syahwat akan terpuruk hidup dan jatuh ke lembah kehinaan. Dengan ini tergambar bahwa kaum yahudi selelu memilih jalan hidupnya yang penuh dengan syahwat dan hawa nafsu. Itulah mengapa mereka sepanjang sejarah tidak pernah mulia, selalu mereka dalam lembah kehinaan dan berdarah-darah. Satu-satunya kaum yang tidak pernah punya operadaban adalah kaum yahudi. Kaum Yunani, Romawi dan Persia masih punya peradaban. Tetapi kaum yahudi tdiak sama sekali meninggalkan peradaban kecuali hanya peradaban membunuh dan membunuh.
Cara Kaum Yahudi Ngeles
Lalu pada ayat berikutnya Allah swt. menceritakan bagaimana kaum Yauhudi ngeles atau mencari-cari alasan atas kekfirannya dan tindakannya membunuh para rasul. Simklah Allah berfriman : “Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Perhatikan “ghulf” yang artinya : Pertama, kata “ghulf” berarti “mughllafah” yakni tertutup. Seperti buku yang ditutup rapat maka tidak bisa menerima tulisan sama sekali. Maka dengan ini mereka ingin merngatakan bahwa : “kami tidak butuh panduan risalah”. Kedua, kata ghulf artinya terstempel. Yakni tidak bisa menerima kebenaran sama sekali. Seperti kata “khatama” yang Allah gambarkan untuk orang kafir dalam firmannya : khatamallahu alaa quluubihim (Allah telah mengkunci mati hati mereka). Dengan alas ini kaum Yahudi ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa menerim hidayah karena faktor di luar kehendak mereka. Bukan karena keinginan dan perbuatan mereka sendiri. Padahal itu terjadi karena perbuatan yang mereka lakukan sendiri.
Karenanya pada ayat berikutnya Allah langsung menjawabnya : “Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka”; Kata “bal” (tetapi) maksudnya sebagai jawaban atas pernyataan mereka. Bahwa apa yang mereka katakan tidak benar. Sebab mereka tidak menerima risalah bukan karena hati mereka tertutup dengan sednirinya, tetapi karena mereka sendiri yang menutup diri sehingga hidyah tidak bisa masuk ke dalam hati mereka. Dan kata “ la’anahumullah bikufrihim” menunjukkan bahwa mereka dilaknat karena kekafiran yang mereka pilih. Dilkanat artinya bahwa mereka dijauhkan dari rahmat Allah swt. jadi tidak ada lagi mereka rahmat dan kasih sayangNya. Itu terjadi karena mereka sendiri memlih kekafiran dan meninggalkan hidayah yang dibawa para rasul.
Itulah cara orang Yahudi ngeles. Mereka ingin menisbahkan kesesetan mereka karena dibuat oleh Allah. Mereka tidak meu mengakui nahwa kekafiran mereka dalah karena perbuatan mereka sendiri. Tidak, tidak demikian cara memahami tertutupnya hati. Sungguh hati mereka tertutup karena mereka sendiri yang memulai dengan kekafiran. Mereka tidak mau melihat bukti-bukti kebesaran Allah di alam ini. Mereka menolah mempelajari kebenaran wahyu. Mereka tidak mau menggunakan akal sehatnya sehingga mereka menjadi buta akan setiap bukti yang nyata. Lalu dari kekafiran yang mereka pilih tersebut, tertutuplah hati mereka. Bacalah beberapa ayat berikut sebagai dalil : (a) wallahu laa yahdil qawmal kaafiriin (dan Allah tidak akan memberikah hidayah kepada mereka yang masih tetap menjadi kafir). (QS. At Taubah : 37). (b) wallahu laa yahdil qawmadh dzaalimiin ( dan Allah tidak akan memberi8kan hidayah kepada mereka yang tetap bebruat dzalim) (QS. At Taubah : 19) (c) wallahu laa yahdil qawmal faasiqiin (dan Allah tidak akan memberikah hidayah kepada orang tetap berbuat fasik) (QS. At Taubah : 24). Ketiga ayat tersebut menjadi bukti bahwa tetrtutupnya pintu hidayah ada sebab yang mereka perbuat sendiri. Ayiotu karena mereka tetap memelih kekafiran, kedzaliam dan kefasikan sebagai jalan hidupnya.
Lalu Allah menutup dengan firmanya : “maka sedikit sekali mereka yang beriman”. Maksudnya : mayoritas manusia tidak beriman. Dan sungguh sangat sedikit dari mereka yang beriman. Benar, tujuh milyar penduduk bumi hanya 1,3 milyar yang beriman. Itupun di antara 1,3 milyar sangat sedikit yang benar-benar patuh kepada Allah. Cara mengetahuinya secara sederhana mudah, cukup dengan melihat shaf shalat subuh di masjid. Begitulah memang kenyataan bahwa mayoritas manusia tidak suka ikuta Allah swt. Merka malah lebih suka ikut syetan yang tidak penah berbuat baik kepada mereka. Demikan juga kaum Yahudi, mayoritas dari mereka tetap memlih kekafiran. Sekalipun mereka tahu kebenaran risalah Islam dan kebenaran Rasulullah saw. mereka tetap meilih kekafiran karena gengsi. Dan sungguh sangat sedikit dari mereka kembali kepada iman.