Al Baqarah : 63 – 64
Sikap Berpaling Dari Kebenaran Adalah Pribadi Kaum Yahudi
Dr Amir Faishol Fath
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٢:٦٣] ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ ۖ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ [٢:٦٤]
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa”.
Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.
Rahasia Urutan Ayat
Ayat sebelumnya menjelaskan tentang agama-agama terdahulu, bahwa setelah datangnya Islam agama-agama tersebut otomatis berakhir. Sebab Islam menghapus syariat sebelumnya. Allah swt. berfirman : Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS:2/62) Maksud benar-benar beriman kepada Allah adalah juga beriman kepada RasulNya. Dan Rasul terakhir adalah Muhammad saw. Demikian juga amal salih, maksudnya adalah mengikuti Rasulullah saw. Bila ini yang mereka lakukan maka mereka akan mendapatkan ketenangan dan kebahagaiaan, tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat. Inilah maksud firmanNya : “mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Jadi selama mereka tidak ikut Islam, mnereka selamanya sia-sia seluruh amalnya. Tidak ada pahala sama sekali. Pun otomatis mereka tidak akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Silahkan mereka bekerja keras untuk memburu kebahgaiaan di balik kemegahan meterilaisme, maka selama tidak ikut jalan Islam pasti akan terus dihantui kegelisahan ruhani. Karenanya mereka menghalalkan segala cara untuk melupakan ketercekaman jiwa yang mereka alami. Khamer dan perzinaan yang sebenarnya diharamkan dalam ajaran yang mereka yakini, dengan mudahnya mereka langgar. Itu tidak lain karena mereka benar-benar dalam kegelisahan. Jadi sekalipun mereka mengaku memeluk agama yang mereka yakini pada hakikatnya mereka tidak menemukan ketenangan jiwa. Mereka terus berusaha memburu kebahagiaan itu. Tetapi sayang ruhani mereka kosong. Karena agama mereka tidak sasnggup menyelesaikan kegelisahan tersebut. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang bunuh diri. Itulah mengapa Allah swt. mengajarkan agar ikut Islam. Karena agama mereka tidak sanggup mengimbangi tuntutan zaman yang mereka hadapi. Kalau dalam bahasa HP agama tersebut harus diupgrade. Dan Islam adalah satu-sataunya agama yang sudah diupgrede oleh Allah swt. Karenanya kehadiran Rasulullah saw. sebagai nabi terakhir disebut sebagai rahmatan lil alamiin. Sebab Islam yang dibeawa Rasulullah saw. akan memenuhi semua yang mereka butuhkan sepanjang zaman. Dan hanya dengan Islam mereka tidak akan mengalami kesedihan dan kegelisahan. Sayangnya mereka dalam
Lalu pada ayat ini Allah swt. menegur kaum Yahudi yang masih mau mempertahankan agama mereka. Sekalipun sudah banyak bukti-bukti kebenaran Islam dalam kitab suci mereka, mereka tetap betahan dengan kesalahan yang mereka buat sendiri. Dan ini turun temurun, dari sejak Nabi Musa masih hidup, mereka tidak mau patuh terhadap ajaran yang dibawa Nabi Musa. Apalagi sekarang di mana mereka telah dipenuhi dengki terhadap Islam, maka mereka tetap akan bersikap memusuhi terhadap Islam. Inilah makna ayat dalam surah Al Baqarah : 20, Allah swt. berfirman tentang sikap permusuhan orang Yahudi terhadap umat Islam: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”.
Sisi lain dari rahasia urutan ayat ini adalah bahwa jika pada ayat sebelumnya Allah swt. mengingatkan kaum Yahudi akan nikmat-nikmatNya yang telah diberikan kepada mereka, agar mereka tersadar dan kembali ikut Allah dan RasulNya, maka pada ayat ini Allah swt. menegur mereka agar jangan mengulangi kesalahan pendahulunya yang telah melanggar di hari Sabtu sehingga mereka dihukum oleh Allah dengan dijadikan mereka kera. Di sini seakan Allah Allah swt. berpesan kepada kaum Yahudi agar jangan mengulangi dosa tersebut, agar hukuman yang pernah Allah turunkan tidak menimpa mereka.
Ajakan Agar Bertakwa
Allah swt. berfirman : “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa”. Dalam ayat ini ada beberapa ajakan terhadap kaum Yahudi : Pertama, agar mereka mengambil pelajaran dari peristiwa penting di mana Allah swt. mengambil janji dengan pendahulu mereka. Janji untuk mengamalkan ajaranNya yang tertuang dalam kitab Taurat. Di dalamnya ada ajakan agar beriman kepada Rasulullah saw. Dan ketika itu Allah swt. mengangkat Gunug Thursina di atas kepala mereka. Untuk menunjukan betapa perjanjian ini sangat menentukan berlanjut tidaknya hidup mereka. Maksudnya jika mereka siap menjalankan dengan sungguh-sungguh ajaran Taurat maka gunung Thursina tidak jadi ditimpakan kepada mereka. Sebaliknya jika mereka menolak, maka gunung Thursina akan ditimpakan kepada mereka, dan secara otomatis sejak itu mereka musnah.
Kedua, agar mereka bersngguh-sunguh mengamalkan ajaran yang terdapat dalam Taurat. Kata “biquwwah: artinya maksimal kemampuan. Bukan asal-asalan, apalagi meremehkannya, lebih-lebih melanggarnya. Lebih parah lagi mengubah kandungannya. Dan mereka telah melakukan pelanggaran yang paling parah. Yaitu mengubah kandungan kitab Taurat. Allah swt. berfirman : “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat)” (QS. Al Maidah : 13) Mereka telah menyembunyikan kebenaran akan kenabian Rasulullah saw. Dan mereka mengetahui kebenaran Rasulullah saw. sebagai nabi sperti mereka mengetahui anak-anak mereka sendiri. Tetapi mereka menyembunyikan semua itu. Karena kedengkian dalam diri mereka. Allah swt. berfiman : “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui” (QS. Al Baqarah : 146). Termasuk makna “bi quwwah” adalah melaksanakannya dengan penuh keyakinan, sehingga merasakanmanfaatnya. Sebab ajaran Allah swt. pasti benar. Karena itu dalam Al Quran kita sering mendapatkan cerita bahwa para sahabat sering bertanya mengenai satu hal. Seperti kata “yas aluunaka” (mereka bertanya tentang sesuatu), ini menunjukkan bahwa para ahabt telah merasakan manfaat ajaran Allah swt, sehingga mereka terus meburu tambahan yang baru.
Ketiga, agar mereka selalu mengingat panduan hidup dalam kitab Taurat, dan bersungguh-sungguh mempelajarinya serta memahami maksudnya. Inilah makan ayat “wadzkuruu maa fiihi” (dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya (Taurat). Dalam kata “wadzkuruu” terkadung makna agar mereka merenungkan dengan fitrahnya bahwa tidak ada ajaran Allah yang sangat memberatkan sehingga mereka tidak mampu mengerjakannya. Semua ajaran Allah swt. sepanjang sejarah manusia selalu sesuai dengan kemampuan yang telah Allah berikan kepada mereka. Maka tidak ada alasan bagi mereka untuk menghindar lalu mengatakan tidak mampu. Karenanya Allah swt. menyediakan adzab neraka bagi mereka yang tidak mau melaksanakannya. Dan sudah terbukti bahwa di belahan sana banyak hamba-hamba Allah swt. yang mampu melaksanakan ajaranNya dengan sungguh-sungguh. Dan karena itu mereka tergolong bertakwa.
Di sini kita paham mengapa Allah swt. berfirman pada ayat berikutnya : “agar kamu bertakwa”. Maksudnya bahwa untuk mencapai takwa mereka harus bersungguh-sungguh menepati janji dan menjalankan ajaranNya. Sebab ilmu telah mereka dapatkan. Dan supaya ilmu merasup dalam jiwa, handaknya diamalkan. Bila amal sudah kokoh maka akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah swt. (al khsyyah). Bila rasa takut ini terhunjam dalam jiwa maka tumbuhkah semangat “muraqabatullah” (selalu sadar akan control Allah). Inilah hakikat takwa yang dimaksud dalam ayat. Dulu kaum Yauhudi tidak berhasil mencapai kualitas takwa ini. Sebab mereka saat melakukan perjanjian, dan mereka melihat langsung ada gunung di atas mereka, mereka takut gunung Thursina itu ditimpakan kepada mereka. Karena itu mereka bersujud bukan karena semangat takwa, melainkan karena takut tertimpa gunung. Itulah mengapa sujud mereka agak melihat ke atas. Takut, jangan-jangan gunung itu tiba-tiba jatuh. Dan karena ini sujud kaum Yahudi sampai sekarang dilakuakn dengan sambil melihat ke atas. Dan cara sujud seperti ini yang mereka ajarkan secara turun-temurun.
Tetapi Mereka Tetap Berpaling
[A1] Allah swt. berfirman : “Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu”. Maksudnya bahwa dengan bersungguh-sungguh mengingat semua ajaran Allah swt. yang terdapat dal;am Taurat, mereka akan beriman kepada Rsaulullah saw. dan kepada Islam yang dibawanya. Sebab semua sifat Rasulullah saw. telah dijelaskan secara lengkap dalam kitab Taurat. Tapi sayang mereka dengan sengaj tidak mau mengingat ajaran Taurat tersebut. Bahkan mereka berusaha menyembunyikan dan menghilangkannya. Inilah maksud dari kata “tsumma tawallaiytum min ba’di dzalika” artinya bahwa mereka berpaling setelah kebenaran itu nampak di depan mata mereka. Karena itu mereka disebut oleh Allah swt. sebagai manusia yang kafir pertama kali. Karena mereka adalah manusia yang pertama kali mengetahui kebenaran tetapi mengingkarinya. Dan ini mereka lakukan hanya karena dengki. Karena itu Allah menyebutkan mereka telah menjual belikan ayat-ayat Allah untuk kepentingan dunia semata. Allah swt. berfirman : “Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa” (QS. Al Baqarah : 41).
Lalu Allah swt. berfriman : “maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi”. Dalam ayat ini ada dua kosa kata penting yang perlu dijelaskan : Pertama, kata “al fadhl” artinya karunia. Maksudnya adalah pemberian tambahan atau bonus atas hak yang harus diterima. Contohnyam orang Arab mengatakan : “haadza haqquka, wa hadzaa fadhlun minnii” (ini hakmu dan ini bonus dariku). Nah pemberian tambahan ini disebut dengan “al fadhl”. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw. besabda: bahwa tidak ada seorangpun yang masuk surga kerena amalnya. Lalu sahabat bertanya: termasuk engkau wahai Rasulullah saw.? Nabi menjawab : termasuk aku, kecuali Allah swt. melewatkan aku dengan ampuanan dan rahmatNya”. Perhatikan hadits ini menjelsakan bahwa tidak ada amal yang menjamin pelakunya masuk surga. Lalu dengan apa seseorang masuk surga? Di sini ada satu hal yang sering dilupakan yaitu pemberian tambahan atau bonus dari Allah swt. Inilah yang disebut dengan “al fadhl”. Yaitu bahwa seseorang masuk surga karena karunia tambahan tersebut dari Allah swt.
Kedua, kata “rahmah” (kasih sayang), yang dengannya Allah swt. membuka pintu taubat bagi hamba-hambaNya yang menyesali dosa-dosanya dan ingin kembali kepadaNya. Di sini Allah swt. menegaskan kaum kalau tidak karena karuniaNya (al fadhl) dan kasih sayangNya (ar rahmah) niscaya klaum Yahudi benar-benar dalam kerugian di dunia dan akhirat. Sungguh karena karunia dan rahmatNya Allah swt. mempertemukan mereka dengan Rasulullah saw. dan risalah Islam yang dibawaNya. Dan agama inilah yang telah Allah swt. jelaskan dalam kitab Taurat yang mereka pegang. Tetapi kerena mereka tetap meilih kekafiran, maka mereka pasti akan mengalami kerugian di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bishshawab.