Thursday, July 17

Mengapa Rasulullah SAW Berdakwah?

amirfath.com, Artikel (78), November 2021 Ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun, tidak lama setelah itu diperintahkan agar mengajak keluarga dan kerabatnya beriman kepada risalah yang dibawanya.

Allah SWT berfirman: Wa andzir `asyiratakal aqrabiin.”(QS asy-Syura: 214). Bunda Khadijah RA termasuk yang pertama kali memeluk Islam.Tidak satu pun riwayat yang mengatakan bahwa Bunda Khadijah pada zaman ja hi liyah memeluk agama Nasrani.

Adapun hubungannya dengan Waraqah bin Naufal sebatas tempat bertanya karena Waraqah memang dikenal sebagai seorang Nasrani yang membaca Kitab Taurat dan Injil.Sungguh salah, orang yang mengatakan bahwa Bunda Khadijah adalah seorang Nasrani. Setelah itu yang masuk Islam adalah Ali bin Abi Thalib RA. Abu Bakar ash-Shiddiq RA dan Zaid bin Haritsah RA, anak angkat Rasulullah SAW.

Lalu turunlah perintah agar dakwah tersebut dilakukan dengan terang-terangan fashda’ bimaa tu’maru wa a’ridh `anil musyrikiin. (QS al- Hijr: 94). Tentu tidak mungkin dakwah ini dilakukan jika Nabi tidak merasa benar kepada risalah yang dibawanya.

Adalah tuduhan besar kepada Rasulullah SAW bahwa Nabi tidak pernah merasa benar. Buktinya Nabi SAW terus berdakwah mengajak penduduk Makkah lalu masyarakat Madinah agar masuk Islam.

Juga tidak mungkin Rasulullah SAW berdakwah kepada ajaran yang tidak sempurna. Allah SWT berfirman: Al yauma akmaltu lakum diinakum waatmamtu `alaikum ni’matii wa radhiitu lakumul islaama diinaa.
(QS al- Maidah: 3).

Syekh asy-Syarawai menga takan, kata akmaltu menunjuk kan bahwa Allah sendiri yang langsung menyempurnakannya. Maka janganlah sekali-kali Anda berkata bahwa Islam ini masih ada yang kurang. Sebab, ini akan menjadi tuduhan kurangkepada Allah.

Adapun ucapan Nabi bahwa ia meminta ampun kepada Allah dengan membaca istighfar setiap hari seratus atau tujuh puluh kali, itu bukan maksudnya bahwa Nabi tidak merasa benar, melainkan sebagai pembinaan akhlak kepada umatnya.

Bahwa seorang hamba di hadapan Allah SWT hendaknya se lalu merasa berdosa, ter ma- suk Nabi.
Sebab, Yang Maha sempurna hanya Allah SWT.

Sumber : Republika, Jumat, 19/11/2021. hal. 12

About Post Author