Tuesday, September 2

Kemuliaan Akal

amirfath.com, Artikel (76), November 2021 Akal diciptakan untuk menjaga manusia, bukan untuk merusaknya.Kemuliaan manusia terletak pada sejauh mana ia mampu menggunakan akalnya. Seorang dengan akalnya tidak akan mencuri atau korupsi karena ia tahu itu pasti merusak kehidupan. Allah SWT memberikan kedudukan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi inni jaailun fil ardhi khalifah (QS al-Baqarah: 30), itu karena akalnya. Dengan akal manusia bisa mendapatkan ilmu wa’allama aadamal assama’akullaha. Lalu dengan ilmu manusia bisa membedakan ini halal dan itu haram berdasarkan wahyu.

Jadi, tugas akal adalah untuk memahami ajaran wahyu, bukan untuk menandinginya, apalagi membuat penafisran yang menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Misalnya, menjelaskan istilah shalat hanya secara bahasa yang artinya doa. Lalu mengatakan bahwa shalat cukup hanya dengan berdiam diri sambil berdoa, tidak harus lima waktu seperti yang kita laksanakan selama ini.

Demikian juga istilah tauhid dijelaskan secara bahasa dengan makna persatuan dari kata-kata wahhada yuawahhidu. Padahal, di dalam Islam, baik kata shalat ataupun kata tauhid merupakan istilah baku dengan definisi khusus al ma’luum minaddiin bidhdhrurati. Artinya, bukan wilayah ijitihad.

Istilah shalat, sekalipun secara bahasa bermakna doatetapi secara definisi adalah af’aalun mufttahatun bit takbir wa mukhttamatun bist tasliim (serangkaian perbuatan yang dibuka dengan takbir dan ditutup dengan salam).

Begitu juga istilah tauhidyang telah mengandung makna baku yaitu mengesakan Allah sebagai Tuhan satu-satu-Nya, dengan formulasi lailaahaillallah(tiada tuhan selain Allah). Maka, dengan definisi ini tidak bisa diutak-atik lagi untuk dijauhkan dari maksud yang sebenarnya. Tugas akal adalah mengokohkan pemahaman tersebut bukan melakukan tahrif (mendatangkan pemahaman yang menyimpang).

Alquran menyebutkan banyak sekali ayat-ayat tentang teguran kepada manusia afalaa ta’quluun(mengapa kamu tidak menggunakan akalmu), kadang dengan redaksi lain la’allakum ta’qiluun(agar kamu menggunakan akalmu).

Ketika menegur Bani Israil yang menyembunyikan kebenaran, Allah SWT berfirman:Afalaa ta’qiluun (QS al- Baqarah: 44). Artinya, Janganlah kamu berusaha menggunakan akalmu untuk menyembunyikan maksud wahyu yang sebenarnya, melainkan gunakanlah akalmu untuk memberikan pemahaman yang benar terhadap wahyu yang Allah SWT ajarkan.

Sumber : Republika, Jumat, 12/11/2021. hal. 12

About Post Author