Saturday, July 19

Hakikat Istidraj Bagi Orang Zalim

amirfath.com, Artikel (36), Juni 2021 – Setiap kezaliman pasti akan berakhir dengan kehancuran. Allah SWT. berfirman: “wala tahsabannallaha ghaafilan ‘an maa ya’maluzh zhalimuun” (janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat orang-orang lalim) (QS. Ibrahim:42).

Silahkan orang-orang lalim itu melakukan segala cara untuk membentengi kelalimannya, Allah pastikan itu akan musnah. Sebab semua kelaliman tidah hanya melanggar syariatullah tetapi juga sunnatullah. Apapun kekuatan itu, jika melanggar ketentuanNya pasti akan hancur.

Masih kurang apa kekuatan Fir’un pada masa itu, ternyata berakhir dengan cara yang sangat mengenaskan. Allah menenggelamkannya di laut Merah. Kaum Aad dan Tsamud juga dihancurkan dengan hukuman yang pedih. Kaum Tsamud dihancurkan dengan “thaagiah” (sauara yang sangat keras), sedangkan kaum Aad dihancurkan dengan badai angin yang sangat dingin dan sangat kencang selama tujuh malam delapalan hari (QS. Al-Haqqah:5-8). Itu pelajaran supaya tidak ada lagi setelah itu orang-orang yang berbuat zalim.

Dalam surah Al-Fajr: 6-14, setelah menyebutkan kaum-kaum terdahulu yang diazab, Allah SWT. menggambarkan urutan mengapa azab itu menimpa mereka; pertama, karena melakukan penyimpangan “thagha”, dari penyimpangan ini muncullah yang kedua, banyaknya kerusakan seperti zina, korupsi, pembunuhan dan sebagainya, lalu terjadilah yang ketiga, yaitu turunnya azab Allah SWT. “fashabba alaihim rabbuka sautha azaab”.

Di sini Allah SAW. memastikan bahwa sekecil apapun perbuatan lalim itu tetap dalam pantauanNya, “inna rabbaka labil mirshaad”. Artinya orang-orang beriman yang berada dalam kebenaran optimislah selalu akan datangnya sebuah kemenangan, teruslah bersabar dalam ketaatan, lakukan ikhtiar semaksimal kemampuan, “wal aaqibatu lilmuttaqiin” (kemenangan kelak pasti akan berpihak kepada siapa yang benar) (QS. Al-Araf: 128).

Ayat ini sejatinya bagian dari nasihat Nabi Musa kepada kaumnya agar tetap bersama Allah dan bersabar, pada saat dikejar-kejar Fir’un, dan setelah itu mereka menyaksikan langsung bagaimana Allah memenangkan mereka dan mengeggelamkan Fir’un dengan sehina-hinanya.

Jadi, tidak perlu berprasangka buruk kepada Allah, dengan mengatakan mengapa orang-orang laim itu dibiarkan dan kaum Yahudi di Palstina tetap bercokol? Dalam rumus Al-Quran ada istilah istidraj, “ sanastadrijuhum min haitsu laa ya’lamun” (QS. Al-Araf: 182).

Bahwa ketika seseorang dimudahkan urusan dunianya sementara ia semakin berlumur kelaliman, itu sedang diulur. Artrinya sengaja Allah mudahkan baginya, supaya dosanya seimbang dengan azab yang telah Allah persiapkan. Allah berfirman : famahhilili kaafriin amhilhum ruwaida (tangguhkanlah orang-orang kafir itu, tangguhkanlah sedikit seja) (QS. Al-Thariq: 17), sebab sengaja Allah menanguhnkannya secara bertahap.

Sumber : Republika, Senin. 31/05/2021. hal. 16

About Post Author