Umat Islam dan Palestina
amirfath.com, Artikel (35), Juni 2021 – Akhir-akhir ini banyak kata-kata simpatik yang beredar tentang Palestina, Misalnya , “tidak harus jadi orang Islam, cukuplah jadi manusia untuk membela kemanusiaan di Palestina”. Ungkapan ini benar apa adanya, sebab tragedi yang menimpa Palestina bukan semata tragedi agama, melainkan lebih dari itu tragedi kemanusiaan.
Indonesia pun berkali-kali menegaskan bahwa yang terjadi di Palestina saat ini adalah penjajahan, bukan sekedar konflik. Karena itu perjuangan Palestina pada esensinya adalah melawan kolonialisme.
Aneh jika ada orang Islam yang merasa tidak tahu-menahu tentang apa yang menimpa saudaranya di Palestina. Apalagi terbuki dalam Al-Quran bagaimana Allah SWT. mengikat umat ini dengan Palestina. Dalam surah ke-95 ayat pertama, Dia bersumpah dengan buah Tin dan buah Zaitun “wat tiini waz zaituun”, itu sebenarnya dimaksudkan untuk Palestina, tempat tumbuhnya kedua pohon tersebut.
Dalam surah al-isra ayat pertama, disebutkan bahwa Allah menjamin keberkahan Palestina “alladzii baaraknaa haulahu”, sebab di negeri itu tidak saja terdapat masjid Al-Aqsha, tetapi juga tempat singgahnya para nabi. Tambahan pula, dalam ayat yang sama Allah SWT. Menggandeng masjid Al-Haram di Makkah dan masjid Al-Aqsha di Palsetina.
Sejak pertama,NabiMuhammad SAW diperintahkan untuk shalat. lbadah ini langsung dihubungkan dengan Masjid al-Aqsha sebagai kiblat pertamanya. Hal itu agar umat lsam memahami,visi perjuangan beliau tidak akan pernah lepas dari wilayah yang Allah berkahi tersebut.”
Saat Rasulullah SAW masih di Kota Makkah. Allah SWT turunkan kepadanya surah ar-Rum.Surah ini dibuka dengan penegasan.””Ghulibatir rum” kaum Romawi dikalahkan oleh Persia.Suatu kabar gembira bahwa kelak umat islam tidak mustahil bisa juga mengalahkannya. Sebab, ketika itu Palestina memang sedang berada di bawah kekuasaan Romawi.”
lnilah isyarat awal tentang misi pembebasan Palestina. Dalam peristiwa lsra dan Mi’raj, Allah SWT menyuruh Nabi Muhammad SAW agar singgah di Masjid al-Aqsha. Disana beliau pun dipertemukan dengan para nabi. Pertemuan ini menandakan transisi risalah, yakni dari para nabi sebelum Rasulullah SAW kepada beliau sebagai utusan Allah yang terakhir. Seakan-akan dikatakan,”Inilah Masjid al-Aqsha sebagai visi perjuangan engkau, wahai Muhammad!”
Semakin kuat visi Palestina ini ketika Rasulullah SAW membuka front melawan Romawi dalam Perang Tabuk.Peristiwa itu terjadi setelah beliau berhasil memimpin kaum Muslimin untuk membebaskan Kota Makkah. Kabar tentang Fath Makkah membuat gemetar kaum Romawi.
Disini Nabi Muhammad SAW tidak hanya membuka jalan bagi para penerus kepemimpinannya melainkan juga mengarahkan mereka kepada alur perjuangan berikutnya,yakni membebaskan Palestina.Dalam Perang Tabuk,beliau telah membuka sumber air yang dengannya kelak para sahabat mendapatkan persediaan air untuk misi menaklukkan Palestina.
Pada saat yang sama,beliau pun berhasil mengadakan perjanjian dengan Taima dan Ailah, wilayah-wilayah di jalur pantai. Dengan demikian, pasukan Muslimin yang kelak melewatinya akan terjamin kebutuhan logistik dan persenjataannya.Melalui rute Tabuk dan jalur pantai itu.para sahabat sesudah era Nabi Muhammad SAW berhasil membuka Palestina.
Kemenangan ini terjadi pada zaman Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA. Maka, umat Islam kini mesti memahami visi besar dan Amanah yang harus dipikul untuk Palestina merdeka.•
Sumber : Republika, Senin. 24/05/2021. hal. 16