Saturday, July 19

Bercermin kepada Nabi Ibrahim: Langkah Menuju Kehambaan Sejati

amirfath.com, Khutbah (03), Des 2020 – Ujian bagi Nabi Ibrahim

                Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wlillahil hamd…

Saudaraku Kaum Muslimin rahimakumullah…

Ayat di atas adalah gambaran bagaimana Allah swt., menguji hamba-Nya, Nabi Ibrahim. Menguji untuk meningkatkan hakikat kehambaan dalam dirinya, sebagai pelajaran bagi yang lain. Nabi Ibrahim, diuji dengan perintah untuk menyembelih anak kesayangannya. Ismail, anak yang ditunggu-tunggu sekian lama. Bayangkan, betapa beratnya ujian tersebut, begitu anak lahir dan mulai besar, tiba-tiba mendapatkan perintah untuk menyembelihnya sebagai “kurban”. Sungguh ini ujian yang sangat berat. Ujian yang langsung menyentuh kepada iman. Bila iman seseorang lemah, ia pasti akan menolak. Tetapi Nabi Ibrahim tidak demikian. Seberat apapun ujian dari Allah. Nabi Ibrahim tetap menjalaninya dengan ikhlas dan tenang. Perhatikan Allah berfirman dalam surah Al Baqarah 124: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Seseungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-janji Ku (ini)tidak mengenai orang-orang yang zalim”.(QS. Al Baqarah: 124)

                Dengan ujian seseorang akan nampak hakikat kepribadiannya. Emas dikatakan emas setelah dibakar. Iman akan nampak kejujurannya setelah diuji. Allah berfirman dalam surah Al Ankabut 2: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak di uji lagi? (QS. Al-Ankabuut:2)

                Banyak orang sebelum mendapatkan ujian nampak istiqamah, tetapi setelah mendapat ujian, keistiqamahan itu mulai luntur. Pada saat ia miskin rajin ke masjid, rajin berdoa, rajin shalat malam, tetapi setelah diuji dengan harta dan kekayaan, berubah menjadi sombong, berat datang ke masjid dan semakin jauh dari Allah.

                Saudaraku, hidup adalah ujian. Manusia tidak akan pernah bisa menghindar dari ujian. Kaya atau miskin adalah ujian. Sehat atau sakit juga ujian. Jangan merasa sukses ketika anda kaya, pun jangan merasa hina ketika anda miskin. Jangan merasa hebat ketika anda tidak pernah sakit pun jangan merasa rendah karena anda selalu sakit. semua nikamt itu adalah ujian. Di hari Kiamat kelak akan diminta pertanggungjawaban. Allah berfirman dalam surah Al Mulk: Maha suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

 (QS. Al-Mulk: 1-2).

                Perhatikan ayat ini, Allah menegaskan bahwa hidup maupun mati adalah ujian. Maka semua nikmat yang datang dari Allah adalah ujian. Sayangnya banyak  orang salah paham, sehingga mereka menyangka bahwa kekayaan yang  di dapatkan adalah keberhasilan, dan kemiskinan yang di derita adalah kegagalan. Allah menolak pemahaman seperti ini. Dalam surah Al Fajr: 15-16 Allah berfirman: Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanmu menghinakanku”. (QS.Al-Fajr: 15-16)

                Dalam ayat inidigambarkan pemahaman yang salah bagi kebanyakan orang. Bahwa tidak sedikit orang yang mempunyai persepsi kekayaan sebagai ukuran kemuliaan dan kemiskinan sebagai ukuran kehinaan. Tidak, tidak demikian bagi Allah. Allah tidak pernah memuliakan seseorang dari kekayaannya. Bagi Allah kemuliaan atau kehinaan terletak pada sejauh mana ia bersungguh-sungguh menjadi seorang yang bertakwa. Dalam surat Al Hujuraat 13 Allah berfirman: …Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu…(QS. Al Hujuraat: 13)

                Dengan demikian sukses bagi Allah ukurannya bukan di dunia, melainkan di akhirat. Bila seorang selamat dari api neraka dan masuk surga maka ia adalah seorang yang sukses. Allah berfirman dalam surah Ali Imran: 185: Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran: 185)

                Marilah kita simak apa pelajaran yang bisa kita ambil dari sikap Nabi Ibrahim dalam menjalankan ujian dari Allah swt, lalu kita bercermin kepadanya untuk melihat kekurangan dalam diri kita. Sehingga kita tahu level kehambaan yang kita miliki. Bila ternyata kita tahu bahwa level kehambaan kita masih sangat rendah mari kita tingkatkan dengan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan kepada-Nya:

1.Kesungguhan Mendekatkan Diri Kepada Allah (husnut taqarrub ilallah)

                Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd…

  Saudaraku Kaum Muslimin rakhimakumullah…

Allah berfirman: “Ya Tuhanku, abugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”

                Dari ayat ini nampak bahwa Nabi Ibrahim selalu berdoa kepada Allah. Berdoa agar diberi keturunan yang saleh. Doa adalah cerminan kehambaan. Semakin kokoh kehambaan seseorang kepada Allah semakin ia banyak berdoa. Dan kata shalat arti secara bahasa adalah doa. Kalau kita perhatikan kisah keseharian Rasulullah saw., adalah pribadi yang banyak berdoa dan menegakkan shalat. Sampai dikatakan bahwa hampir semua gerak dan prilakunya sehari-hari penuh dengan iringan doa. Masuk dan keluar rumah Nabi saw., selalu berdoa. Berpakaian berdoa, masuk kamar mandi dan keluar darinya berdoa dan sebagainya. Itu adalah gambaran hakikat kehambaan kepada Allah adalah senantiaa berdoa.

                Saudaraku, Allah swt. adalah Maha Pemurah. Bila manusia sering kali marah ketika diminta, Allah tidak demikian. Allah justru semakin senang ketika diminta. Sebagian manusia berprasangka salah kepada Allah, sehingga ketika segala kebutuhannya terpenuhi ia merasa cukup dan merasa tidak perlu lagi minta lagi kepada Allah. Tidak, kita wajib selalu minta kepada-Nya. Karena dengan bergantung kepada-Nya semakin kuat kehambaan kita kepada-Nya. Itulah buah doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim, Allah memberikan seorang anak yang saleh: Nabi Ismail. Dialah anak yang siap menjalankan perintah Allah, apapun beratnya. Tanpa sedikitpun ragu dan gentar.

2.Kesigapan Menjalankan Perintah Allah (al istijabah alfawriah)

                Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd…

  Saudaraku Kaum Muslimin rakhimakumullah…

Allah berfirman: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

                Perhatikan ayat ini, betapa Nabi Ibrahim setelah mendapatkan perintah untuk menyembelih putra kesayangannya. Ia segera bergerak menemui sang putra. Pun segera ia menawarkan perintah tersebut untuk melihat kesiapannya. Ternyata Nabi Ismail sangat sigap. Begitu perintah itu ditawarkan, seketika Nabi Ismail menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu,; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

                Kesigapan menjalankan perintah Allah adalah ciri kehambaan sejati. Dari kesigapan yang jujur nampak bahwa kehambaannya kepada Allah bukan basa-basi melainkan kejujuran. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah contoh terbaik dalam menunjukkan kesigapan menjalankan perintah Allah.

                Saudaraku, bila kita perhatikan keseharian kita, benarkah kita telah sigap menjalankan ibadah shalat, misalnya. Atau ternyata kita sering terlambat menegakkannya. Sering menganggap shalat sebagai sampingan. Kegiatan bisnis lebih penting darinya. Sehingga rapat-rapat bisnis lebih kita utamakan dari pada menegakkan shalat di awal waktu. Benarkah kita telah segera membantu orang-orang miskin dengan harta yang Allah titipkan kepada kita? Benarkah kita telah segera membayar zakat ketika tiba nisan atau haulnya dengan pehitungan yang jujur dan benar?

                Saudaraku, perhatikan kesigapan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam ayat di atas, sungguh sangat menggugah dan membangkitkan jiwa. Bayangkan bahwa Nabi Ibrahim sigap bukan semata dalam urusan menegakkan ibadah ritual tetapi ia sigap untuk melaksanakan perintah menyembelih anak kesayangannya, pun Nabi Ismail sigap untuk disembelih. Betapa ini suatu pengorbanan yang luar biasa. Bahwa tidak ada kesigapan tanpa pengorbanan. Bahwa tidak mungkin seseorang bersungguh-sungguh sigap menjalankan perintah Allah tanpa berkorban. Ia harus berkorban waktu dan persaan. Ia harus rela meninggalkan sejenak pekerjaannya untuk sejenak datang ke masjid melaksanakan shalat di awal waktu. Ia harus rela meninggalkan rapat yang paling penting dan menentukan pada saat waktu shalat tiba. Inilah makna pengorbanan yang harus kita cerminkan dalam keseharian kita.

3. Kesabaran dalam Mentaati (as sabru fii thaa atillah)

                Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd…

  Saudaraku Kaum Muslimin rakhimakumullah…

Allah berfirman: Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar

                Dari ayat ini nampak bahwa bekal untuk mencapai pengorbanan yang tinggi adalah kesabaran. Artinya tidak mungkin seseorang bisa mengutamakan Allah di atas segala kepentingan, bila tidak sabar. Para ulama membagi sabar dengan tiga dimensi:

  • Sabar mentaati Allah. Dalam dimensi kita menemukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah benar-benar sabar menerima perintah Allah, sekalipun perintah tersebut sangat berat. Lihat bagaimana Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tidak sedikitpun keberatan untuk melaksanakan perintah tersebut. Dari sini jelas bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah contoh kesabaran yang paling tinggi dalam menjalani perintah Allah. Pun dari sini nampak bahwa NabiIbrahim dan Nabi Ismail benar-benar telah menjual dirinya untuk Allah dan menukarnya dengan surga. Inilah makna ayat dalam surah At-taubah 111: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”
  • Sabar menjauhi kemaksiatan. Tidak cukup seseorang dalam mentaati dengan hanya menjalankan perintah-perintahNya, melainkan harus juga di saat yang sama, menjauhi kemaksiatan. Orang yang menjalankan perintah tetapi di saat yang sama menjalankan kemaksiatan ibarat seorang yang bangun rumah lalu menghancurkannya lagi. Dalam Al Qur’an Allah mengumpamakan dengan seorang wanita pemintal benang. Setelah benang itu ditenun dan menjadi sehelai kain, lalu dicerai beraikan kembali. Dalam surah An Nahl 92 Allah berfirman: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.”

Karena itu sabar mentaati Allah harus di topang juga dengan sabar menjauhi kemaksiatan dan dosa-dosa. Bila kita perhatikan dalam hidup kita sehari-hari, ternyata masih banyak yang kita dapatkan orang-orang yang berbuat seperti wanita ini. Sehabis melaksanakan shalat berbuat maksiat lagi dengan mudah. Tidak sedikit dari orang yang shalat, berpuasa dan bahkan berhaji. Mereka melakukan zina, korupsi dan lain sebagainya. Karena itu sabar menjauhi kemaksiatan adalahbagian tak terpisahkan dari sabar menjalankan perintah Allah.

  • Sabar menjalani ujian Allah. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah contoh manusia yang paling sabar menjalani ujian Allah. Sebab Allah berjanji bahwa setiap orang-orang yang beriman akan pasti diuji oleh Allah swt. semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya dan semakin bahagia di surga jika ia sabar menjalaninya. Nabi saw. pernah bersabda bahwa paling beratnya ujian adalah para nabi, lalu para wali Allah lalu orang-orang saleh. Karenanya ujian yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sungguh ujian yang sangat berat. Tetapi keduanya bisa menjalani dengan penuh kesabaran.

4. Kejujuran Dalam Berserah Diri Kepada Allah (shidqul istis-laam lillah)

                Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd…

  Saudaraku Kaum Muslimin rakhimakumullah…

Allah berfirman: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami penggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

                Dalam ayat ini, tergambar penyerahan diri Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Allah menyebutkan aslamaa artinya keduanya berserah diri. Ini menggambarkan betapa luar biasa penyerahan diri tersebut. Sebuah puncak penyerahan diri kepada Allah. Di mana Nabi Ibrahim siap menyembelih sang putra, dan sang putra Ismail siap membaringkan dirinya untuk disembelih. Tanpa sedikitpun merasa keberatan. Sebab keduanya menyadari bahwa dirinya adalah milik-Nya. Maka ketika Sang Pencipta menginginkan demikian tidak ada pilihan kecuali mentaatinya dengan jujur. Inilah makna ayat dalam surah Al Ahzab 36, Allah berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

                Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail benar-benar menyadari hakikat ini. Maka begitu perintah Allah datang segeralah ia berserah diri kepada-Nya. Berserah maksudnya bersungguh-sungguh melaksanakan perintah tersebut bagaimanapun beratnya. Tidak pantang mundur. Sekalipun godaan syetan merintangi, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tetap melawannya. Itulah yang kita kenal dengan istilah aljamaraat lemparan batu. Itu sebenarnya adalah peristiwa dimana Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melemper batu kepada syetan sebagai perlawanan demi terlaksananya perintah Allah.

Saudaraku, hari ini saudara kita umat Islam yang melaksanakan haji si Makkah sedang melakukan ibadah lempar jumrah aqabah. Besok hari mereka akan melempar lagi jumrah ula, wustha, dan aqabah. Besoknya lagi juga demikian. Suatu pemandangan yang sangat mengharukan. Itu adalah komitmen untuk melawan syetan dan degala godaannya. Bahwa seorang muslim yang baik adalah yang bersungguh menyerahkan diri kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya, bukan yang tunduk kepada syetan.

                Saudaraku, dari ayat di atas nampak bahwa yang terpenting bagi Allah bukan daging kurbannya, melainkan kesungguhan dan kejujuran menjalankan perintahNya. Karenanya begitu nabi Ibrahim dan nabi Ismail siap menjalankan perintah tersebut Allah langsung menegurnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

                Sungguh persoalan yang selalu kita saksikan dalam hidup umat Islam sehari-hari adalah tidak adanya kesungguhan men-jalankan perintah Allah. Banyak ketaatan menunjukkan orang-orang Islam begitu mudah mengakhirkan shalat, tidak membayar zakat dan meninggalkan puasa Ramadhan. Bukan hanya itu hal-hal yang jelas Allah haramkan, masih saja dilakukan dengan penuh kebanggaan, tanpa merasa berdosa sedikitpun. Bila ini yang terjadi, bagaimana mungkin Allah akan menurunkan pertolongan-Nya. Sungguh, tidak ada jalan untuk mencapai kemenangan kecuali bersungguh-sungguh ikut apa kata Allah dengan jujur. Inilah hakikat ihsan seperti yang Allah firmankan: “Demikian kami memberi balasan bagi orang-orang yang berbuat baik”

4. Kejujuran Dalam Berserah Diri Kepada Allah (shidiqul istis-laam lillah)

                Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd…

  Saudaraku Kaum Muslimin rakhimakumullah…

  Dipuncak kehambaan nabi Ibrahim dan nabi Ismail alaihimassalam kepada Allah swt. Allah menggambarkan sebagai berikut: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

                Kemudian Allah meneruskan: “ Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

                Pertama, bahwa perintah untuk menyembelih anak kesayang-annya Ismail tidak lain hanyalah ujian. Ujian untuk membuktikan siapakah yang benar-benar ikhlas dalam imannya dan siapa yang tidak. Bukti sebagai ujian bahwa ketika perintah itu benar-benar akan dilaksankan, tiba-tiba Allah menggantikannya dengan seekor kambing. Allah berfirman: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

                Allah menguji Ibrahim karena mencintainya. Dalam sebuah riwayat dikatakan: innallahaa idzaa ahabbal abda ibtaahu (sesungguhnya Allah bila mencintai hambaNya ia akan mengujinya). Allah menguji Ibrahim karena imannya yang kokoh, dalam sebuah hadits Nabi saw. bersabda: asyaddunnasi ibtilaa an al anbiyaa’tsummal awliyaa’.. (paling beratnya ujian adalah para nabi, lalu para wali Allah). Dalam surah Al Ankabuut: 2 Allah berfirman: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”

                Kedua, Allah abadikan namanya sebagai simbol kebaikan. Allah berfirman:

“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”

                Artinya bahwa hakikat kehambaan yang dicontohkan Nabi Ibrahim, Allah abadikan menjadi hari raya Qurban. Maka setiap tahun kita mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ini, dan kita melakukan hal yang sama dengan menyembelih qurban.

                Ketiga, Allah menyambutnya dengan kselamatan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman: “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”

                kata salamun menurut ulama tafsir, bisa berarti (a) sambutan, artinyabahwa Allah menyebut Ibrahim sebagai bukti kelulusannya atas ujian berat yang telah dilaluinya. Sungguh bahagia seseorang disambut Tuhannya dengan sambutan yang baik. Dan sungguh celaka seseorang yang disambut Tuhannya dengan adzab yang pedih. Dari makna salam tergambar bahwa nabi Ibrahim akan diberi kebahagiaan abadi di surga. Buah kejujurannya dalam mentaati Allah swt. (b) Makna lain dari kata salamun di atas adalah doa. Inilah doa yang paling agung. Karena makna doa selamat yang datang dari Allah adalah jaminan keselamatan yang pasti diberikan. Berbahagialah Ibrahim yang telah dijamin oleh Allah dengan keselamatan.

                Keempat, Allah menggolongkan Ibrahim dan Ismail termasuk mereka yang berbuat ihsan (muhsin). Allah berfirman: “Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

                Ayat ini menunjukkan bahwa untuk mencapai derajat ihsan seorang hamba harus bersungguh-sungguh jujur menjalankan perintah Allah dan menjaui larangannya. Perhatikan bagaimana pengorbanan nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sehingga mencapai derajat ihsan. Dari sini nampak bahwa ihsan artinya kesungguhan beramal dan kesungguhan menjalankan perintah Allah, seberatapapun. Bahwa ihsan sangat menuntut pengorbanan. Bahwa pengorbanan itu harus dilakukan dengan jujur dan ikhlash (semata karena Allah swt). Nabi saw, bersabda: ihsan adalah kau tunduk kepada Allah seakan kau melihatNya kau yakin bahwa Dia melihatmu. Inilah kesungguhan yang jujur. Bayangkan bagaimana jika seseorang bekerja dikontrol oleh bosnya. Maka ia akan bersungguh-sungguh bekerja. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah contoh pribadi yang benar-benar mencapai kesadaran ihsan beramal. Dan Allah sendiri telah mendeklarasikan hal tersebut pada ayat di atas.

                Kelima, Allah mendeklarasikan bahwa nabi Ibrahim adalah benar-benar hambaNya yang beriman. Allah berfirman: Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. inilah puncak pencapaian nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Yaitu mencapai tingkat kehambaan yang paling tinggi. Dalam AlQur’an, Allah swt. menyebutkan secara jelas hanya untuk orang-orang tertentu saja sebagai hambaNya. Diantaranya nabi Muhammad saw. seperti yang nampak pada pembukaan pada surah Al Isra’ dan Al Kahfi. Di sana Allah jelas menyebutkan kata hamba (abduhu). Dalam ayat di atas Allah menyebutkannya dengan jelas nabi Ibrahim sebagai hambaNya.ini menunjukkan bahwa tidak mudah untuk mencapai derajat kehambaan. Banyak orang yang menyatakan beriman kepada Allah, tetapi dalam perbuatannya tidak menghamba kepadaNya. Bahkan seringkali berani melanggar ajaranNya. Itulah rahasia mengapa Allah swt. stelah menggambarkan pengorbanan nabi Ibrahim, lalu menegaskan: innahuu min ibaadinal mu’miniin.


About Post Author