Wednesday, July 23

Al Insyiqaq (Terbelah)

amirfath.com, Tadabur Surah Al Insyiqaq (84), Des 2020 – Surat al Insyiqaq ini tidak berbeda dengan tiga surat makkiyah sebelumnya (al Muthaffifin, al Infithar dan at Takwir) membahas tentang sifat-sifat hari kiamat, disebutkan sesuai dengan susunan yang terjadi;     At Takwir menjelaskan permulaan hari kiamat, dan seluruh kejadian yang disebutkan dalam al Infithar adalah penjelasan lebih detil lagi mengenai  hari tersebut, adapun al Muthaffifin menyebutkan dua golongan manusia dengan istilah khusus setelah hari Kiamat terjadi: golongan orang-orang durhaka (al fujjar) dan orang-orang baik (al abrar). Sedangkan surat al Insyiqaq ini, memadukan antara yang terjadi pada permulaan hari kiamat yang menakutkan dengan kejadian setelah itu seperti perhitungan (hisab) yang mudah bagi mereka yang baik (ahlul yamin) dan perhitungan yang sulit bagi mereka yang durhaka (ahlulsyimal). Bila surat al Muthaffifin menyebutkan tempat buku catatan, tapi surat ini menjelaskan bagaimana buku tersebut diberikan pada hari kiamat.

Untuk lebih jelasnya, mari kita renungkan kandungan ayat-ayat dalam surat al Insyiqaq dengan ringkas:

          1. (1-5) Pembukaan. Allahmemulai surat ini dengan dua peristiwa yang mankutkan di hari Kiamat: a). Langit terbelah sebagai tanda hancurnya alam semesta b). Bumi diratakan dengan hilangnya gunung-gunung dan memuntahkan segala isi perutnya termasuk mayat-mayat dan seluruh kekayaan yang dikandungnya, sehingga menjadi kosong, semua ini menggambarkan kepatuhan total langit dan bumi kepada Allah Sang Pencipta. Kata idza artinya apabila, seakan mengingatkan manusia agar supaya bersiap-siap, karena hari itu pasti terjadi.

          2. (6-15) Allah mengingatkan kepada seluruh manusia (yang beriman maupun yang kafir) bahwa setiap perbuatan kelak akan mendapat pembalasan yang setimpal di sisi Allah SWT. tidak ada yang didzalimi. Dan bahwa nanti manusia akan dikelompok menjadi dua golongan sesuai dengan amalnya: Pertama, golongan yang akan menerima buku amalnya denga tangan kanan dan menjalani hisab dengan mudah, serta kembali bertemu dengan keluarganya yang selamat di surga (lihat juga QS. 69:19-21). Kedua, golongan yang akan menerima buku amalnya dengan tangan kiri bahkan ada yang dari belakang punggungnya. Merekalah orang-orang kafir yang akan dimasukkan kedalam api nereka yang menyala-nyala (lihat juga QS. 69: 25-29).

          Kemudian Allah menyebutkan dua hal yang menyebabkan mereka masuk neraka: (a) Selama didunia ia bersenang-senang bersama kaumnya, mengikuti hawa nafsunya melakukan kemaksiayatan tanpa menyadari dahsyatnya hari kiamat. (b) Mereka mengira bahwa ia tidak akan dibangkirkan kembali dan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah Tuhannya. Allah segera menyangkal asumsi ini: bahwa ia akan kembali pada Tuhannya yang maha mengetahui dengan segala perbuatannya.

          3. (16-25) Allah bersumpah dengan keajaiban di waktu senja, pada malam yang terselubung dan pada bulan purnama. Sumpah untuk menunjukkan keagungan ciptaanNya pada diri manusia. Bahwa manusia pasti akan mengalami tahapan-tahapan kehidupan mulai dari lahir hingga mati dan sesudah mati kehidupan kekal abadi di surga atau di neraka. Lalu Allah menyangkal orang-orang kafir: mengapa mereka tidak beriman? Apa yang mencegah mereka untuk beriman kepada hari kiamat dan kepada Nabi Muhamad saw. Mengapa ketika dibacakan al Qur’an kepada mereka tidak mau bersujud?. Lalu Allah menjelaskan bahwa sebab-sebab utamanya adalah: Mereka telah mendustakan kitab (al Qur’an) yang didalamnya terkandung penetapan tauhid, hari kebangkitan, pahala dan siksa. Mereka dengki kepada Rasulullah SAW. Karena takut kehilangan harta, jabatan, kepemimpinan dan lain sebagainya. Kerenanya Allah menegaskan bahwa balasan bagi mereka adalah siksaan yang pedih. Sebagaimana juga balasan bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh adalah kebahagiaan surga selama-lamanya.  Wallahu allam bishshawab.

                                                                    Tafsir Al Hikmah

                                                                   Dr. Amir Faishol Fath MA.

About Post Author