Thursday, July 31

Al Buruuj (Gugusan Bintang)

amirfath.com, Tadabur Surah Al Buruuj (85), Des 2020 – Pada ayat pertama Allah bersumpah dengan langit yang mempunyai gugusan bintang (al buruj), oleh karena itu surat ini diberi nama al buruj. Menurut para ulama, al buruj adalah tempat-tempat planet. Allah bersumpah dengannya karena keagungannya yang membuat perputaran hari, bulan dan tahun di bumi, sehingga manusia hidup tanpa merasa bosan: perhatikan munculnya berbagai musim silih berganti: panas, dingin, semi dan rontok, adalah tanda dari perputaran tersebut.

Dalam surat Makkiyah ini, Allah menggambarkan pengorbanan sekelompok manusia dalam menegakkan kebenaran di mana mereka siap dibakar dalam jurang (ukhdud) demi iman yang mereka miliki. Sejatinya, surat ini diturunkan untuk menghibur Rasulullah SAW dan para shahabatnya saat menghadapi ancaman dan siksaan dari orang-orang kafir Makkah, dengan menggambarkan bahwa umat-umat terdahulu juga mengalami ujian dan kondisi yang sama. Diceritakan dalam riwayat yang sahih bahwa ada seorang anak (ghulaam) dipersiapkan oleh raja untuk menjadi tukang sihir. Namun ternyata ia malah meninggalkan gurunya (tukang sihir) dan belajar agama tauhid dari seorang rahib. Setelah ketahuan Raja kafir berusaha membunuhnya, tetapi karena pertolongan Allah upaya tersebut selalu gagal. Sampai kemudian anak tersebut siap di bunuh dengan syarat sang raja mengucapkan “bismillahi rabbil ghulaam“. Dan dengan itu kemudian raja berhasil membunuh sang anak. Namun akibatnya banyak orang yang menyaksikan peristiwa tersebut masuk agama tauhid yang diajarkan sang anak. Raja sangat marah melihat kenyataan itu. Kemarahannya yang memuncak membuatnya bertindak kejam di mana semua mereka yang masuk agama tauhid dibakar dalam parit (ukhdud). Itulah peristiwa yang kemudian dikenal dengan ash habul ukhdud (para penggali parit).

Adapun kandungan surat ini secara ringkas sebagai berikut:

1. (1-9). Pembukaan, Allah bersumpah; pertama, dengan langit dan gugusan bintangnya, yang berjalan pada porosnya. Kedua, dengan hari kiamat, dimana semua manusia pasti akan mengalaminya dan kembali kepadaNya. Ketiga, dengan para saksi yang hadir dalam peristiwa tersebut atau yang akan menyaksikan kelak di hari Kiamat. Allah bersumpah dengan semua tersebut untuk menegaskan bahwa ashabul ukhdud (para penggali parit yang dhalim) adalah orang-orang yang dilaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah.

Lalu Allah SWT menyebutkan sebab-sebab dilaknatnya mereka: (a) Mereka telah menggali parit sangat dalam dan menyalakan api di dalamnya dengan bara yang sangat tinggi. (b) Mereka telah membakar hidup-hidup sekelompok orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. (c) Mereka senang melihat api membakar tubuh-tubuh orang-orang beriman dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu sampai pembakaran itu benar-benar sempurna. (d) Itu semua mereka lakukan hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Terpuji, Tuhan seru sekalian alam.

2. (10-11) Kemudian Allah menjelaskan bahwa hukuman bagi mereka (ash haabul ukhdud) yang tidak bertaubat adalah: a). Neraka jahannam, karena kekufurannya. b). Api yang membara, karena mereka telah membakar orang-orang beriman. Setelah itu Allah menegaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya, serta beramal shaleh balasannya adalah surga, yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, suatu keberuntungan yang sangat besar.

3. (12-16) Menggambarkan kemahakusaan Allah dan kemahaperkasaanNya: bahwa azabNya sangat pedih bagi orang-orang yang dzalim, Dialah yang menciptakan dan menghidupkan kembali di akhirat. Dialah yang mempunyai sifat-sifat yang agung: (al Ghafur al Wadud) Maha pengampun atas segala dosa hamba-hambaNya jika mereka benar-benar bertaubat dan kembali kepadaNya. Sangat mencintai orang-orang yang taat kepadaNya, (Dzul arsy al Majid) Yang memiliki kerajaan di atas semua makhlukNya, Maha mulia dan Maha tinggi, Puncak segala kemulyaan, (Fa’al lima yurid) Yang mempunyai keputusan dan ketentuan mutlak atas segala apa yang diinginkan, tidak ada satupun yang bisa memprotes dan mempertanyakan apa yang Dia lakukan. Segala keputusanNya sangat sempurna, dan maksimal, karena lahir dari kemahaluasan ilmuNya. Bila Allah ingin menghancurkan orang-orang dzalim dan menyelamatkan orang-orang mukmin Dia kerjakan, tanpa satu mahlukpun yang bisa menghalangiNya.

4. (17-20) Lalu Allah menghibur Rasulullah dengan menyebut kisah hancurnya Fir’un dan kaum Tsamud. Fir’un dan pengikutnya ditenggelamkan di laut Merah, Sementara kaum Tsamud dihancurkan dengan goncangan yang sangat dahsyat dan suara yang sangat menggelegar (thaghiyah) (lihat al haaqah,69:5). Sebab utamanya adalah karena mereka mendustakan para Nabi dan risalahNya. Ini artinya mereka mendustakan ajaran Allah. Dan Allah mengetahui semuanya itu. Karenanya tindakan kedzaliman tersebut tidak akan pernah Allah biarkan, kecuali mendapatkan balasan yang setimpal.

5. (21-22) Penutup, Allah menutup dengan menegaskan keagungan Al Qur’an, sekaligus sebagai penolakan atas tuduhan mereka bahwa Al Qur’an hanyalah dongeng (asathiirul awwaliin), pernyataan para dukun dan lain sebagainya. Tidak, Al Qur’an adalah kalamullah yang agung, semua kandungannya benar, sangat mulia dan penuh barakah, terjaga dari segala bentuk penyelewengan, karena Allah letakkan di allauhul mahfudz. Dalam surat Al Waqi’ah disebutkan fii kitabim maknuun (QS. 56:77-78) al maknunn yang artinya terpelihara sama pengertiannya dengan allauhul mahfudz (yang terjaga). Wallhu a’lam bishshwab.

                                                Tafsir Al Hikmah

                                                Dr. Amir Faishol Fath MA.

About Post Author